*Hasan Karman: Pemerintah Berkewajiban Melestarikan Adat * Dalam konteks kekinian, adat telah kehilangan kekuatan untuk mengatur individu agar tetap memiliki solidaritas sosial. Situasi tersebut menunjukkan adanya dekadensi di bidang adat dalam masyarakat Dayak, khususnya Dayak Selako.
Demikian diutarakan Simon Takdir, Ketua Binuo Garatukng Sakawokng, dalam seminar adat yang dilaksanakan di Rumah Paruman Adat di kelurahan Bagak Sahwa, Minggu (31/5). “Akibatnya, adat tidak lagi berdaya sebagai kohesi sosial dalam mengatur individu dalam satu komunitas pada lingkungan kehidupan yang hiterogen dan pluralis untuk kekinian,” katanya memperjelas. Menurut Simon, nilai adat sudah memudar, sehingga secara umum, generasi sekarang dan selanjutnya tidak lagi memahami adat secara baik. Nantinya, adat hanya dalam bentuk ucapan. “Adat hanya tinggal kenangan. Adat hampir *im memoriam*,” jelas Simon. Salah satu contoh, memudarnya adat tersebut, seperti kurangnya semangat gotong royong pada masa kini. Dahulu, masyarakat sangat semangat dan selalu ramai bila gotong royong dilaksanakan. “Saat ini, bila gotong royong yang dilaksanakan, paling yang datang tiga atau empat orang,” kata Simon menggambarkan. Perubahan adat pada masa kekinian dipengaruhi oleh terbukanya isolasi dengan dibangunnya tranportasi dan komunkasi antara masyarakat adat dayak dengan dunia luar. Perubahan itu menyebabkan mobilitas masyarakat menjadi tinggi dan interaksi dengan dunia luar terbuka lebar. Peran perubahan untuk adat itu juga dibenarkan Walikota Singkawang, Hasan Karman, SH. M.M saat menjadi pemateri pada acara tersebut. Hasan Karman mengatakan keberadaan adat pada saat ini memang mengalami kemunduran. Sebagai Walikota, dia merasa punya kewajiban untuk menghidupkan atau mengembalikan fungsi adat itu sendiri. “Pemerintah sangat berkewajiban untuk menjaga dan melestarikan adat yang dimiliki masyarakat. Jangan sampai adat istiadat itu hilang dan tidak diketahui oleh generasi berikutnya,” pintanya.(PDE)
