Tarian Narokng dan Tembakan Rantako<http://www.singkawangkota.go.id/spektakuler2012/index.php/component/content/article/1-berita-terbaru/377-tarian-narokng-dan-tembakan-rantako.html>
Matahari telah naik begitu tinggi. Rumput telah kering dari siraman embun tadi pagi. Masyarakat keluar rumah, dan bersibuk dengan aktivitasnya masing masing. Mereka begitu ceriah dengan dinaungi langit biru berhiaskan sedikit awan putih. Suasana ceria itulah yang tergambar di lapangan terbuka di Keluarahan Bagak Sahwa. Sejak pagi, masyarakat berkerumun bersama di sana, di sebuah rumah panjang. Rumah kayu dengan beragam lukisan dan ukiran. Rumah itu bernama Rumah Parauman Adat. Rumah ini milik masyarakat adat Dayak Salako Binuo Garatukng Singkawang. Di rumah itu akan digelar sebuah ritual adat. “Hari ini kita akan menggelar ritual Ngamau Benih Padi,” kata Ketua Binuo Garatukng Singkawang, Simon Takdir. Nagmau Benih padi berarti menyambut kedatangan benih padi. Benih padi itu akan didoakan olah para pelaku adapt adapt bersama masyarakat agar mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa (Jubata). Untuk didoakan, benih padi itu di bawah ke halaman Rumah Parauman Adat. Sebelum penyambutan benih padi (Ngamau Banih Padi), sehari sebelumnya, masyarakat Bino Garatung telah melakukan ritual Ngaap Banih Binuo. Riatual penjemputan benih dari daerah-daerah tempat masyarakat Dayak Salako bermukim. Rute daerahnya adalah Mayasopa, Pasar Pả kucing, Sendoreng, Rantau, Sibaju, Sagatani, Habang, Sanggau Kulor, Pajintan, Poteng, Taenam, Nyarungkop. Kemudian semua banih yang telah dijemput itu selanjutnya dimasukkan dalam Angko. Angko adalah rumah kecil yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan benih padi yang telah diperoleh melalui ritual Ngaap Banih Bino. Rumah itu terbuat dari kayu, beratap daun. Dari jauh, terlihat belasan orang penari menyelusuri jalan memasuki halaman Rumah Parauman Adat. Langkah kaki berirama bersama liukan tangan yang gemulai. Wajah berhiasan senyuman. Tidak bosan bila dipandang. Dengan jarak tempuh lebih dari seratus meter. Para penari itu tidak terlihat letih. Padahal para penari itu tidak lagi muda. Bila diterka, umar mereka di atas tiga puluh atau empat puluh tahun. Para penari itu terdiri dari kaum wanita dan pria. “Tarian ini oleh kami diberi nama tarian Narokng,” kata Hendri, salah seorang masyarakat Binuo Garatungk. Tarian Narokng bertujuan untuk mengiringi Angko yang dibawa oleh penari pria. Angko itu kemudian diletakkan di halaman Rumah Parauman Adat. Di atas Rumah Parauman Adat, telah bersiap para pemuka adat yang bertugas untuk memanjatkan doa. Selain itu terdapat beberapa barang untuk pemujaan, seperti ayam, arak, tuak, cucur, lemang, dan beberapa barang lainnya. Belum selesai pemanjatan doa dilakukan, beberapa meter dari lokasi terdengar ledakan. Walau tidak begitu besar, suaranya cukup mengejutkanpengunjung walau sesaat. Suara itu bersal dari mulut meriam berbentuk kecil yang sengaja dinyalakan. ‘Ledakan itu sebagai pertanda bahwa pemanjatan doa telah dilakukan. Itu namanya tembakan Rantako,” kata Hendri lagi. Dengan suara tembakan Rantako, ritual adat telah selesai. Dengan acara itu, masyarakat optimis dengan musim tanam yang akan datang. Doa terpanjat, dengan harapan, Jubata memberkahi penanaman. (PDE)
