hi teman, wajar lah kalo dapet perlakuan seperti itu, apalagi di negara maju macem Jepang, mereka pasti melakukan stereotype sama orang asing, itu tidak bisa dihindari, sama seperti kita memperlakukan orang asing  atau lain suku di negeri kita ini, kita sering stereotipe  seperti, keturunan cina itu begini..orang jawa itu begitu, orang padang itu begono dll...kita sering melakukannya tanpa sadar...
gua juga pernah punya pengalaman yg gak enak sama orang asing...tapi lama lama dipikir...ternyata gua juga sering bersikap diskriminasi terhasap orang asing atau suku lain di negeri sendiri, jadi...yah..begitulah..
 
Ronne
----- Original Message -----
Sent: Thursday, October 07, 2004 5:43 PM
Subject: [sma1bks] Re: Fwd: [perbanas] Ternyata Diskriminasi itu ada dimana-mana(tambahan)

Assalamualaikum wr wb
    wuih he he he...ternyata di jepang juga ya....he he he...di sini
juga kok wi....tapi bukan gue sih yg kena, tapi kata2nya telak bgt
...gue quote ya
" u r indonesian?....what is indonesian people can do?!...(sigh)....
note that this is  a word of supervisor to his student.....
parah kan?....tapi karena hal2 ini gue jadi semangat...utk membuktikan
pada mereka that we r not nothing!!!...
dan berhasil lo...di sini ada lomba presentasi penelitian(dr berbagai
negara), dan yg menang org indo....way the go! he he he....
    kalo di pikir2 cuma org indo doang ya yg baek ya?,  kalo di negeri
kita sendiri kayaknya bule itu di junjung ttiiinnggiiii bgt ampe
gajinya aja lebih gede dr org kita sendiri....padahal di sini
....contrast bgt...org asing ga boleh dpt gaji lebih gede dr org
lokal, org asing (indo) got the dirty job.....di sana jg ga
wi?....padahal jelas kalo org indo itu most of the time lebih
terampil, terutama kalo berkaitan dgn komputer.
      ini jadi pelajaran buat kita utk terus memacu diri ... gue
dukung wi....I know that u r one of the best from Indonesia!...show
them what we r made of..!....

best wishes,

Wassalam wr wb


On Wed, 06 Oct 2004 14:14:03 -0000, uysangno <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> makasih banget postingannya....
>
> mungkin bagi yang cuma membaca, ada sedikit rasa masa sih atau bener
> gak sih...
> dulu pun saya memikirkan hal yang sm 'kayaknya gak mungkin deh'
>
> tp setelah saya belajar di KL, malay untuk satu tahun, cukup banyak
> pengalaman yang mebuat saya berpikir 'kenapa harus ada diskriminasi,
> bukan saya yang minta untuk dilahirkan sebagai seorang yg
> berkebangsaan indonesia, atau pun apa anda lebih baik dr saya??'
> pikiran itu yang ada di benak saya ketika mendapat perlakuan gak
> enak dr orang malay, dan yg menyedihkan, dr sesama bangsa sendiri '
> pramugari merpati'
>
> ketika saya belajar bahasa jepang, dan juga science untuk persiapan
> ujian masuk di univ jepang, ada satu sensei(guru) yang berkebangsaan
> malaysia, tetapi keturunan china. Ketika itu ada soal matrix yg
> diberikan, pd saat itu saya hanya mencoba untuk menjawab soal itu,
> tetpi entah kenapa tiba2 pandangannya tajam dan bicara 'this is the
> easiest one, you will find the hardest one later'
> ups....mungkin cara saya menjawab soal itu salah. dan pada akhirnya
> saya biasakan untuk menyimpan jawaban saya sendiri.
> tetapi di saat saya tidak menjawab, dan ada seorang teman yg
> berkebangsaan thailand keturunan china menjawab sang sensei
> berkata 'hey, you are great, you are so clever'...
> and then i just wondered 'hey, what does it mean???'
> gak bisa ngapa2in...cuma berusaha untuk menyelesaikan soal2 yg
> diberikan sensei secara cepat, dan pasang tampang saya sudah
> selese...
> karena saya orang yg cukup frontal, dan berani menentang even he is
> my sensei...(gawat juga sih sebenernya di jepang skr ini, soalnya
> sensei dianggap tuhan :(( )
> (red - ga ada maksud untuk mendiskreditkan satu suku atau ras
> tertentu, mohon maaf)
>
> pengalaman yg kedua, ketika hendak kembali ke tanah air pada saat
> liburan
> naik merpati, dan ketika di atas pesawat, tanpa ada  basa basi, sang
> pramugari berkata 'ada ringgit, tuker donk.punya berapa??'
> apakah kata2 ini pantas terlontar dari mulut seorang pramugari yang
> terlihat cantik, yang profesionalismenya dilihat dr cara mereka
> meberi pelayanan kepada penumpang
> saya pikir TIDAK sama sekali...
> kalo sang pramugari berpikir saya adalah seorang pembantu rumah
> tangga yg hendak pulang ke tanah air bertemu keluarga, tetap itu
> tidak pantas diucapkan.
> biar bagaimana pun juga, gaji dia adalah penumpang yang bayar...
> tidak ada hak dia untuk memperlakukan penumpang, walaupun TKI
> sekalipun dengan perlakuan seperti itu......
>
> mustinya dikirim ke customer service nya merpati ya....
>
> itu aja pengalaman dari saya...
> semoga saja semua manusia di dunia ini semakin mengerti tentang hak
> asasi manusia
> semua manusia adalah sama, yang berbeda adalah amalnya di mata
> Tuhan..
> :))
>
> regards, uy
>
> --- In [EMAIL PROTECTED], Nurina Tri Cahyanti <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >
> >
> > Note: forwarded message attached.
> >
> >
> > ---------------------------------
> >   Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends
> today! Download Messenger Now
> > Ternyata, Diskriminasi itu ada dimana-mana
> >
> > Oleh Suraiya Kamaruzzaman
> >
> > 13 Juli 2004. Ani menemui seorang teller di counter HSBC, Hongkong.
> > Buruh migran Indonesia (BMI) yang bekerja di Hongkong itu
> bermaksud
> > membuka
> > sebuah joint account. "Are you domestic helper?" tanya pegawai
> itu,
> > yang
> > dijawab dengan anggukan kepala Ani. Kalimat berikutnya sungguh
> > mengejutkan.
> > "Pembantu rumah tangga tidak bisa membuka rekening di HSBC," tutur
> > pegawai
> > bank itu. Tidak ingin menyerah, Ani menjelaskan bahwa rekening itu
> akan
> > dibuka bersama rekannya yang bukan pembantu rumah tangga.
> >
> > Tapi, persoalan belum selesai dan si petugas meminta Ani menunggu,
> > sampai
> > saya hadir bersama seorang rekan dari negara lain. Setelah
> mendapat
> > beberapa
> > penjelasan, ia mengatakan kami bisa membuka rekening dimaksud. Ia
> > melayani
> > dengan ramah, cepat tanpa lupa memberikan advis yang menyenangkan.
> > Pelayanannya membuat teman saya memutuskan untuk membuka satu
> rekening
> > bank
> > pribadi di HSBC. Sesaat kemudian, ia beranjak untuk berbicara
> dengan
> > managernya. "Kalian warga negara mana?" tanyanya kepada kami
> sebelum ia
> > melangkah.
> >
> > Tak lama kemudian ia kembali. "Maaf, menurut peraturan bank ini,
> semua
> > warga
> > negara Indonesia tidak bisa membuka rekening di HSBC," katanya.
> > Pernyataan itu tentu saja membuat kami heran. Kenapa? Karena kami
> warga
> > Indonesia, katanya! "Ini diskriminasi!" saya berdiri dan menyergah
> > dengan
> > nada tinggi. Tapi, si pegawai memang hanya menjalankan kebijakan
> bank.
> > "I am
> > sorry, this is our bank policy"
> > katanya
> >
> > Menurutnya, peraturan tersebut berlaku sejak dua atau tiga tahun
> lalu.
> > Dia tidak ingat pasti. Padahal, sejak mulai kuliah di Hongkong 1,5
> > tahun
> > lalu, saya mempunyai rekening di HSBC. Juga Ani. Tapi, si pegawai
> tidak
> > bereaksi apapun ketika kami menunjukkan buku rekening kami di depan
> > hidungnya. Hari itu juga saya mengirim surat pembaca ke South
> China
> > Morning
> > Post dengan tembusan ke Jakarta Post.
> >
> > 20 Juli 1004. Saya menemani seorang BMI ke kantor Marriage
> Register.
> > Kon! on, di kantor itu berlaku juga perlakuan diskriminatif dan
> > melecehkan.
> > Kalau ada BMI yang menikah dengan penduduk lokal, pasangan itu
> sering
> > ditanyai hal sangat pribadi dalam ruang yang saling terpisah.
> Misalnya,
> > warna celana dalam favorit pasangan, berapa kali having sex dalam
> > seminggu,
> > dimana calon pengantin diwawancarai dalam ruangan berbeda. Ini
> > bullshit.
> > Bagaimana mereka merasa mempunyai hak untuk mengorek-ngorek
> persoalan
> > sangat
> > personal? Melanggar hak asasi manusia, juga melanggar nilai-nilai
> > kepercayaan yang dianut oleh masyarakat tertentu, tidak boleh
> melakukan
> > kontak seksual sebelum menikah. Katanya pemerintah Hongkong
> khawatir,
> > buruh
> > migran menikah dengan warga lokal hanya sebagai cara untuk mendapat
> > permanent resident. Bukan karena cinta. So what? Sejak kapan pula
> > pemerintah
> > Hongkong disibukkan mengurus cinta rakyatnya? Atau ini
> diskriminasi
> > karena
> > Indonesia dan Hongkong mempunyai situasi ekonomi berbeda?
> >
> > Begitu kami menghadap, petugas pendaftaran menyap! a, "'Tell me,
> which
> > one
> > domestic helper?". Saya kaget dengan pertanyaan itu. Apa bedanya?
> > Toh peraturan tertulis tentang perkawinan di kantor ini, sama bagi
> > semua
> > orang. Bisa dipahami, jika pertanyaan itu diajukan di kantor
> imigrasi.
> > Karena mereka mengurus status berbeda, misalnya perpanjang visa
> turis,
> > perpanjangan kontrak domestic helper, untuk ngurus permanent
> residen,
> > dan
> > lainnya, dimana semuanya mempunyai persyaratan dan formulir
> berbeda.
> >
> > Masih ada cerita lain dari seorang teman BMI dari Yogya. Beberapa
> tahun
> > lalu, tuturnya, setiap makan malam, Dia di suruh pindah oleh
> majikannya
> > (warga lokal). "Kamu pergi dari depan meja, kami tidak sanggup
> menelan
> > makanan karena kulitmu hitam sekali". Ini betul-betul penghinaan.
> > Padahal
> > yang dimakannya masakan si 'Hitam" tadi, yang sebenarnya berkulit
> sawo
> > matang dan berparas cantik.
> >
> > Perlakuan diskriminatif dan tidak menyenangkan terhadap warga
> Indonesia
> > di
> > Hong Kong, khususnya yang bekerja sebagai pembantu rumah ! tangga,
> > samasekali bukan hal baru. Apalagi langka. Dan lebih dari itu,
> besarnya
> > jumlah WNI yang bekerja sebagai domestic helper di Hongkong juga
> > menghidupkan "kebiasaan" membentak atau merendahkah siapapun,
> asalkan
> > dia
> > berkulit dan berwajah Indonesia. Pengalaman saya berikut mungkin
> bisa
> > jadi
> > contoh.
> >
> > Pulang dari kantor imigrasi, di Lamma Island akhir tahun lalu,
> saya
> > berjalan
> > sambil setengah melamun ketika di depan saya ada seorang bocah 3,5
> > tahun
> > yang naik sepeda kecil. Rupanya tanpa disengaja, setang sepeda
> mengenai
> > tangan seorang ibu-ibu sekitar 60-an tahun.
> > Tidak ada luka, bahkan mungkin tekanan sepeda kecil itu tidak
> terasa.
> > Tapi si bocah turun dari sepedanya. "I am so sorry, Madam" katanya
> > dengan
> > santun.
> >
> > Pemandangan itu sungguh membuat saya terkesan dan menghentikan
> langkah.
> > Tanpa saya duga, tiba-tiba si ibu berambut pirang dan berkulit
> putih
> > itu
> > melotot ke arah saya dan membentak "Lain kali hati-hati kalau
> bekerja!.
> > Sepersekian detik saya tertegun, seb! elum saya sadar bahwa ada
> tak
> > kurang
> > 83.000 perempuan Indonesia, rekan saya yang mencari sesuap nasi di
> > negeri
> > ini. Jadi pembantu rumah tangga, menjadi pengasuh anak. Saya
> pandangi
> > si Ibu
> > dengan dingin, tanpa berkata sepatahpun. Dari sorot matanya, saya
> tahu
> > dia
> > menyadari kekeliruannya. Tapi, tidak ada permintaan maaf
> sedikitpun
> > keluar
> > dari mulutnya. Ia mundur selangkah, membalikkan badan, dan pergi.
> > Anggapan
> > sebagai pembantu tidak membuat saya kecewa, tetapi memperlakukan
> orang
> > berbeda karena jenis pekerjaannya yang membuat saya terluka.
> >
> > Minggu lalu, seorang teman BMI dari Jawa Timur bercerita, Dia
> pernah
> > diberhentikan majikan semena-mena. Empat bulan bekerja, tak pernah
> > sepatahpun mendapat protes. Baik dari segi kebersihan rumah,
> kepintaran
> > masak ataupun kemampuannya berbahasa Kanton. Suatu malam, tiba-
> tiba
> > Majikan
> > mengatakan "Kamu saya berhentikan, orang Indonesia itu, hitam,
> kotor,
> > dan
> > bau". Badannya gemetar menahan marah. "Kalau aku dibilangnya
> kotor,
> > kerja
> > tidak beres, ! bisa kuterima. Tapi Dia menyebutnya orang Indonesia
> > hitam dan
> > bau, untuk sebuah kesalahan yang tak kumengerti," suara serak
> >
> > Tak jarang di mall atau supermaket, saya perhatikan rekan senegara
> > dibentak-bentak majikan di depan umum, "Dasar Kamu orang
> Indonesia,
> > bodoh!
> > Tolol semuanya!" Makian semacam itu bertaburan, untuk seluruh orang
> > Indonesia, hanya untuk hal sederhana, misalnya anak asuhan merajuk.
> > Orang-orang lalu lalang melirik sejenak, dan meneruskan
> aktifitasnya
> > masing-masing. Saya marah, maju selangkah dan ingin menegur si
> majikan,
> > agar
> > hati-hati kalau bicara. Tapi pandangan memelas dan mata berkaca
> dari
> > rekan
> > yang saya tidak tahu nama, dan datang dari Indonesia belahan mana,
> > membuat
> > langkah saya surut.
> > Mungkin ia khawatir protes saya hanya akan membuatnya kehilangan
> > pekerjaan.
> >
> > Sejak di Hongkong, beberapa kali saya menelpon KBRI tanpa menyebut
> > identitas
> > pribadi; menanyakan perpanjangan paspor atau bertanya tentang
> pemilu.
> > Walaupun informasinya tidak cukup le! ngkap, nada suara cukup
> ramah dan
> > bersahabat. Pernah juga disarankan untuk datang kekedutaan
> langsung.
> > Ketika
> > datang untuk bertanya hasil pemilu 5 Mei, saya mendapat pelayanan
> > sangat
> > baik, juga informasi lengkap. Padahal saya melihat di ruang pojok
> kiri
> > lantai dasar gedung Kedubes, seorang BMI kena bentak gara-gara
> belum
> > melampirkan surat izin orang tua untuk kepentingan pernikahannya
> >
> > Dua hari lalu, saya menelpon bagian Konsuler di KBRI untuk
> menanyakan
> > peraturan kontrak baru bagi BMI tanpa bantuan agen. Mungkin karena
> saya
> > bertanya soal kontrak, nada suara di ujung sana menjadi tak ramah,
> > "Kamu
> > datang saja ke Kedutaan!". Sepotong informasipun tidak saya dapat,
> > kecuali
> > berkamu-kamu dengan kesan tertangkap secara gamblang. Bahkan nama
> > penerima
> > telepon saya saja tidak saya dapat "Kamu datang saja kebagian
> > konsuler!"
> > katanya sambil menutup telpon.
> > Dari suaranya, saya tahu ia perempuan.
> >
> > Lima hari sebelumnya, seorang teman BMI lebih memilih pulang ke
> > Indonesia
> > dari pada! membuka jilbab untuk mendapatkan majikan.
> > Padahal, sudah beberapa tahun, ia tidak pernah menemui masalah
> > jilbabnya,
> > bahkan ketika ia tengah bekerja di rumah majikannya sekalipun!
> Tetapi
> > baru-baru ini nenek yang diasuhnya meninggal, sehingga kontraknya
> tidak
> > diperpanjang. Tidak ada lagi tugas yang harus dilaksanakan. Tidak
> ada
> > permintaan/paksaan dari agen untuk membuka jilbab (kecuali bagi
> yang
> > baru
> > datang dan kontrak pertama sekali). Tapi berhari-hari menunggu,
> tidak
> > ada
> > satu majikanpun yang ditawarkan agen padanya. Pernah Ia mencoba
> mencari
> > sendiri, tapi majikan keberatan dengan shalat yang 5 kali sehari
> itu.
> > "Kamu
> > mau kerja apa mau sembahyang," katanya ketus.
> >
> > Fragmen di atas hanyalah sebagian dari kisah mengenaskan perempuan
> > Indonesia
> > di Hongkong, atau mungkin juga di negara-negara lain. Mereka
> mengalami
> > diskriminasi berlapis dari berbagai pihak. Karena kebangsaannya,
> warna
> > kulit, pilihan agama, sampai kepada jenis pekerjaannya. Bukan
> hanya
> > dari
> > majikan, tapi juga dari ag! en, petugas bank, atau pegawai kantor
> > lainnya,
> > dari warga negara asing lainnya yang berada di Hongkong, sampai ke
> KJRI
> > sendiri.
> >
> > Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa merasa "lebih manusia"
> daripada
> > yang
> > lain. Saya juga tidak tahu apakah mereka faham bahwa perbedaan
> warna
> > kulit,
> > kebangsaan, bahasa, penampilan fisik, agama dan keyakinan atau
> apapun
> > lainnya tidak pernah menjadikan seseorang "lebih manusia"
> > daripada yang lain.
> >
> > Kowloon Tong, 22 Juli 04
> >
> >
> > Suraiya Kamaruzzaman,adalah adalah Academic Visitor Southeast Asia
> > Research
> > Centre, City University of Hong Kong. Artikel ini pernah dimuat di
> > Medium
> > edisi 36/II/2004.
> >
> >
> >
> > ---------------------------------
> >  ALL-NEW Yahoo! Messenger - all new features - even more fun!
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> --------------------------------------------------
> Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
> menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
>
> Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
> kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
>
> Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
> [EMAIL PROTECTED]
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>


--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]





--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke