|
Bagi
yang laen mohon maaf pake jalur umum nich...
Iya
nich boss iim, pa kabarnya???
Aku
kayaknya bulan desember baru ke bekasi, jadi utk buk-ber gak bisa ikutan
tuch.
btw
temen-temen di siberut lagi bikin usaha elektro plating tuch, lebih detail tanya
risman aja.
Sekarang di departemen apa boss di epson, exc itu apa
ya???
oh ya
anak dah berapa?? aku dah 2 nich...
OOT
nih Bung Syarif
Kapan balik ke Bekasi?
rindu nih..pengen ngumpul-ngumpul lagi bareng geng
siberut..
Boleh juga kita adain Buk-Ber pas Ramadhan nanti, OK
kah?
Oh
yah..mungkin Pak Bud-san (masih moderatornya kan?) punya agenda untuk
silaturahim buat anggota milis ini di bulan ramadhan, bedah bukunya Pak Komar
misalnya?
image...
makanya ja-im dong.
hi teman, wajar lah kalo dapet perlakuan seperti itu,
apalagi di negara maju macem Jepang, mereka pasti melakukan stereotype
sama orang asing, itu tidak bisa dihindari, sama seperti kita
memperlakukan orang asing atau lain suku di negeri kita ini, kita
sering stereotipe seperti, keturunan cina itu begini..orang jawa itu
begitu, orang padang itu begono dll...kita sering melakukannya tanpa
sadar...
gua juga pernah punya pengalaman yg gak enak sama orang
asing...tapi lama lama dipikir...ternyata gua juga sering bersikap
diskriminasi terhasap orang asing atau suku lain di negeri sendiri,
jadi...yah..begitulah..
Ronne
----- Original Message -----
Sent: Thursday, October 07, 2004
5:43 PM
Subject: [sma1bks] Re: Fwd:
[perbanas] Ternyata Diskriminasi itu ada dimana-mana(tambahan)
Assalamualaikum wr wb wuih he
he he...ternyata di jepang juga ya....he he he...di sini juga kok
wi....tapi bukan gue sih yg kena, tapi kata2nya telak bgt ...gue
quote ya " u r indonesian?....what is indonesian people can
do?!...(sigh).... note that this is a word of supervisor to his
student..... parah kan?....tapi karena hal2 ini gue jadi
semangat...utk membuktikan pada mereka that we r not
nothing!!!... dan berhasil lo...di sini ada lomba presentasi
penelitian(dr berbagai negara), dan yg menang org indo....way the go!
he he he.... kalo di pikir2 cuma org indo doang ya
yg baek ya?, kalo di negeri kita sendiri kayaknya bule itu di
junjung ttiiinnggiiii bgt ampe gajinya aja lebih gede dr org kita
sendiri....padahal di sini ....contrast bgt...org asing ga boleh dpt
gaji lebih gede dr org lokal, org asing (indo) got the dirty
job.....di sana jg ga wi?....padahal jelas kalo org indo itu most of
the time lebih terampil, terutama kalo berkaitan dgn
komputer. ini jadi pelajaran buat kita
utk terus memacu diri ... gue dukung wi....I know that u r one of the
best from Indonesia!...show them what we r made of..!....
best
wishes,
Wassalam wr wb
On Wed, 06 Oct 2004 14:14:03
-0000, uysangno <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > >
> makasih banget postingannya.... > > mungkin bagi
yang cuma membaca, ada sedikit rasa masa sih atau bener > gak
sih... > dulu pun saya memikirkan hal yang sm 'kayaknya gak
mungkin deh' > > tp setelah saya belajar di KL, malay untuk
satu tahun, cukup banyak > pengalaman yang mebuat saya berpikir
'kenapa harus ada diskriminasi, > bukan saya yang minta untuk
dilahirkan sebagai seorang yg > berkebangsaan indonesia, atau pun
apa anda lebih baik dr saya??' > pikiran itu yang ada di benak
saya ketika mendapat perlakuan gak > enak dr orang malay, dan yg
menyedihkan, dr sesama bangsa sendiri ' > pramugari
merpati' > > ketika saya belajar bahasa jepang, dan juga
science untuk persiapan > ujian masuk di univ jepang, ada satu
sensei(guru) yang berkebangsaan > malaysia, tetapi keturunan
china. Ketika itu ada soal matrix yg > diberikan, pd saat itu saya
hanya mencoba untuk menjawab soal itu, > tetpi entah kenapa tiba2
pandangannya tajam dan bicara 'this is the > easiest one, you will
find the hardest one later' > ups....mungkin cara saya menjawab
soal itu salah. dan pada akhirnya > saya biasakan untuk menyimpan
jawaban saya sendiri. > tetapi di saat saya tidak menjawab, dan
ada seorang teman yg > berkebangsaan thailand keturunan china
menjawab sang sensei > berkata 'hey, you are great, you are so
clever'... > and then i just wondered 'hey, what does it
mean???' > gak bisa ngapa2in...cuma berusaha untuk menyelesaikan
soal2 yg > diberikan sensei secara cepat, dan pasang tampang saya
sudah > selese... > karena saya orang yg cukup frontal, dan
berani menentang even he is > my sensei...(gawat juga sih
sebenernya di jepang skr ini, soalnya > sensei dianggap tuhan :((
) > (red - ga ada maksud untuk mendiskreditkan satu suku atau
ras > tertentu, mohon maaf) > > pengalaman yg kedua,
ketika hendak kembali ke tanah air pada saat > liburan >
naik merpati, dan ketika di atas pesawat, tanpa ada basa basi,
sang > pramugari berkata 'ada ringgit, tuker donk.punya
berapa??' > apakah kata2 ini pantas terlontar dari mulut seorang
pramugari yang > terlihat cantik, yang profesionalismenya dilihat
dr cara mereka > meberi pelayanan kepada penumpang > saya
pikir TIDAK sama sekali... > kalo sang pramugari berpikir saya
adalah seorang pembantu rumah > tangga yg hendak pulang ke tanah
air bertemu keluarga, tetap itu > tidak pantas diucapkan. >
biar bagaimana pun juga, gaji dia adalah penumpang yang bayar... >
tidak ada hak dia untuk memperlakukan penumpang, walaupun TKI >
sekalipun dengan perlakuan seperti itu...... > > mustinya
dikirim ke customer service nya merpati ya.... > > itu aja
pengalaman dari saya... > semoga saja semua manusia di dunia ini
semakin mengerti tentang hak > asasi manusia > semua manusia
adalah sama, yang berbeda adalah amalnya di mata > Tuhan.. >
:)) > > regards, uy > > --- In
[EMAIL PROTECTED], Nurina Tri Cahyanti
<[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > > >
> Note: forwarded message attached. > > > > >
> --------------------------------- > > Yahoo!
Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends > today!
Download Messenger Now > > Ternyata, Diskriminasi itu ada
dimana-mana > > > > Oleh Suraiya Kamaruzzaman >
> > > 13 Juli 2004. Ani menemui seorang teller di counter
HSBC, Hongkong. > > Buruh migran Indonesia (BMI) yang bekerja
di Hongkong itu > bermaksud > > membuka > >
sebuah joint account. "Are you domestic helper?" tanya pegawai >
itu, > > yang > > dijawab dengan anggukan kepala Ani.
Kalimat berikutnya sungguh > > mengejutkan. > >
"Pembantu rumah tangga tidak bisa membuka rekening di HSBC,"
tutur > > pegawai > > bank itu. Tidak ingin menyerah,
Ani menjelaskan bahwa rekening itu > akan > > dibuka
bersama rekannya yang bukan pembantu rumah tangga. > > >
> Tapi, persoalan belum selesai dan si petugas meminta Ani
menunggu, > > sampai > > saya hadir bersama seorang
rekan dari negara lain. Setelah > mendapat > >
beberapa > > penjelasan, ia mengatakan kami bisa membuka
rekening dimaksud. Ia > > melayani > > dengan ramah,
cepat tanpa lupa memberikan advis yang menyenangkan. > >
Pelayanannya membuat teman saya memutuskan untuk membuka satu >
rekening > > bank > > pribadi di HSBC. Sesaat
kemudian, ia beranjak untuk berbicara > dengan > >
managernya. "Kalian warga negara mana?" tanyanya kepada kami >
sebelum ia > > melangkah. > > > > Tak lama
kemudian ia kembali. "Maaf, menurut peraturan bank ini, >
semua > > warga > > negara Indonesia tidak bisa
membuka rekening di HSBC," katanya. > > Pernyataan itu tentu
saja membuat kami heran. Kenapa? Karena kami > warga > >
Indonesia, katanya! "Ini diskriminasi!" saya berdiri dan
menyergah > > dengan > > nada tinggi. Tapi, si pegawai
memang hanya menjalankan kebijakan > bank. > > "I
am > > sorry, this is our bank policy" > >
katanya > > > > Menurutnya, peraturan tersebut berlaku
sejak dua atau tiga tahun > lalu. > > Dia tidak ingat
pasti. Padahal, sejak mulai kuliah di Hongkong 1,5 > >
tahun > > lalu, saya mempunyai rekening di HSBC. Juga Ani.
Tapi, si pegawai > tidak > > bereaksi apapun ketika kami
menunjukkan buku rekening kami di depan > > hidungnya. Hari itu
juga saya mengirim surat pembaca ke South > China > >
Morning > > Post dengan tembusan ke Jakarta Post. >
> > > 20 Juli 1004. Saya menemani seorang BMI ke kantor
Marriage > Register. > > Kon! on, di kantor itu berlaku
juga perlakuan diskriminatif dan > > melecehkan. > >
Kalau ada BMI yang menikah dengan penduduk lokal, pasangan itu >
sering > > ditanyai hal sangat pribadi dalam ruang yang saling
terpisah. > Misalnya, > > warna celana dalam favorit
pasangan, berapa kali having sex dalam > > seminggu, >
> dimana calon pengantin diwawancarai dalam ruangan berbeda.
Ini > > bullshit. > > Bagaimana mereka merasa
mempunyai hak untuk mengorek-ngorek > persoalan > >
sangat > > personal? Melanggar hak asasi manusia, juga
melanggar nilai-nilai > > kepercayaan yang dianut oleh
masyarakat tertentu, tidak boleh > melakukan > > kontak
seksual sebelum menikah. Katanya pemerintah Hongkong >
khawatir, > > buruh > > migran menikah dengan warga
lokal hanya sebagai cara untuk mendapat > > permanent resident.
Bukan karena cinta. So what? Sejak kapan pula > >
pemerintah > > Hongkong disibukkan mengurus cinta rakyatnya?
Atau ini > diskriminasi > > karena > > Indonesia
dan Hongkong mempunyai situasi ekonomi berbeda? > > >
> Begitu kami menghadap, petugas pendaftaran menyap! a, "'Tell
me, > which > > one > > domestic helper?". Saya
kaget dengan pertanyaan itu. Apa bedanya? > > Toh peraturan
tertulis tentang perkawinan di kantor ini, sama bagi > >
semua > > orang. Bisa dipahami, jika pertanyaan itu diajukan di
kantor > imigrasi. > > Karena mereka mengurus status
berbeda, misalnya perpanjang visa > turis, > >
perpanjangan kontrak domestic helper, untuk ngurus permanent >
residen, > > dan > > lainnya, dimana semuanya
mempunyai persyaratan dan formulir > berbeda. > > >
> Masih ada cerita lain dari seorang teman BMI dari Yogya.
Beberapa > tahun > > lalu, tuturnya, setiap makan malam,
Dia di suruh pindah oleh > majikannya > > (warga lokal).
"Kamu pergi dari depan meja, kami tidak sanggup > menelan >
> makanan karena kulitmu hitam sekali". Ini betul-betul
penghinaan. > > Padahal > > yang dimakannya masakan si
'Hitam" tadi, yang sebenarnya berkulit > sawo > > matang
dan berparas cantik. > > > > Perlakuan diskriminatif
dan tidak menyenangkan terhadap warga > Indonesia > >
di > > Hong Kong, khususnya yang bekerja sebagai pembantu rumah
! tangga, > > samasekali bukan hal baru. Apalagi langka. Dan
lebih dari itu, > besarnya > > jumlah WNI yang bekerja
sebagai domestic helper di Hongkong juga > > menghidupkan
"kebiasaan" membentak atau merendahkah siapapun, > asalkan >
> dia > > berkulit dan berwajah Indonesia. Pengalaman saya
berikut mungkin > bisa > > jadi > >
contoh. > > > > Pulang dari kantor imigrasi, di Lamma
Island akhir tahun lalu, > saya > > berjalan > >
sambil setengah melamun ketika di depan saya ada seorang bocah
3,5 > > tahun > > yang naik sepeda kecil. Rupanya
tanpa disengaja, setang sepeda > mengenai > > tangan
seorang ibu-ibu sekitar 60-an tahun. > > Tidak ada luka, bahkan
mungkin tekanan sepeda kecil itu tidak > terasa. > > Tapi
si bocah turun dari sepedanya. "I am so sorry, Madam" katanya >
> dengan > > santun. > > > > Pemandangan
itu sungguh membuat saya terkesan dan menghentikan >
langkah. > > Tanpa saya duga, tiba-tiba si ibu berambut pirang
dan berkulit > putih > > itu > > melotot ke arah
saya dan membentak "Lain kali hati-hati kalau > bekerja!. >
> Sepersekian detik saya tertegun, seb! elum saya sadar bahwa
ada > tak > > kurang > > 83.000 perempuan
Indonesia, rekan saya yang mencari sesuap nasi di > >
negeri > > ini. Jadi pembantu rumah tangga, menjadi pengasuh
anak. Saya > pandangi > > si Ibu > > dengan
dingin, tanpa berkata sepatahpun. Dari sorot matanya, saya >
tahu > > dia > > menyadari kekeliruannya. Tapi, tidak
ada permintaan maaf > sedikitpun > > keluar > >
dari mulutnya. Ia mundur selangkah, membalikkan badan, dan
pergi. > > Anggapan > > sebagai pembantu tidak membuat
saya kecewa, tetapi memperlakukan > orang > > berbeda
karena jenis pekerjaannya yang membuat saya terluka. >
> > > Minggu lalu, seorang teman BMI dari Jawa Timur
bercerita, Dia > pernah > > diberhentikan majikan
semena-mena. Empat bulan bekerja, tak pernah > > sepatahpun
mendapat protes. Baik dari segi kebersihan rumah, >
kepintaran > > masak ataupun kemampuannya berbahasa Kanton.
Suatu malam, tiba- > tiba > > Majikan > >
mengatakan "Kamu saya berhentikan, orang Indonesia itu, hitam, >
kotor, > > dan > > bau". Badannya gemetar menahan
marah. "Kalau aku dibilangnya > kotor, > > kerja >
> tidak beres, ! bisa kuterima. Tapi Dia menyebutnya orang
Indonesia > > hitam dan > > bau, untuk sebuah
kesalahan yang tak kumengerti," suara serak > > > >
Tak jarang di mall atau supermaket, saya perhatikan rekan
senegara > > dibentak-bentak majikan di depan umum, "Dasar Kamu
orang > Indonesia, > > bodoh! > > Tolol
semuanya!" Makian semacam itu bertaburan, untuk seluruh orang >
> Indonesia, hanya untuk hal sederhana, misalnya anak asuhan
merajuk. > > Orang-orang lalu lalang melirik sejenak, dan
meneruskan > aktifitasnya > > masing-masing. Saya marah,
maju selangkah dan ingin menegur si > majikan, > >
agar > > hati-hati kalau bicara. Tapi pandangan memelas dan
mata berkaca > dari > > rekan > > yang saya
tidak tahu nama, dan datang dari Indonesia belahan mana, > >
membuat > > langkah saya surut. > > Mungkin ia
khawatir protes saya hanya akan membuatnya kehilangan > >
pekerjaan. > > > > Sejak di Hongkong, beberapa kali
saya menelpon KBRI tanpa menyebut > > identitas > >
pribadi; menanyakan perpanjangan paspor atau bertanya tentang >
pemilu. > > Walaupun informasinya tidak cukup le! ngkap, nada
suara cukup > ramah dan > > bersahabat. Pernah juga
disarankan untuk datang kekedutaan > langsung. > >
Ketika > > datang untuk bertanya hasil pemilu 5 Mei, saya
mendapat pelayanan > > sangat > > baik, juga informasi
lengkap. Padahal saya melihat di ruang pojok > kiri > >
lantai dasar gedung Kedubes, seorang BMI kena bentak gara-gara >
belum > > melampirkan surat izin orang tua untuk kepentingan
pernikahannya > > > > Dua hari lalu, saya menelpon
bagian Konsuler di KBRI untuk > menanyakan > > peraturan
kontrak baru bagi BMI tanpa bantuan agen. Mungkin karena >
saya > > bertanya soal kontrak, nada suara di ujung sana
menjadi tak ramah, > > "Kamu > > datang saja ke
Kedutaan!". Sepotong informasipun tidak saya dapat, > >
kecuali > > berkamu-kamu dengan kesan tertangkap secara
gamblang. Bahkan nama > > penerima > > telepon saya
saja tidak saya dapat "Kamu datang saja kebagian > >
konsuler!" > > katanya sambil menutup telpon. > > Dari
suaranya, saya tahu ia perempuan. > > > > Lima hari
sebelumnya, seorang teman BMI lebih memilih pulang ke > >
Indonesia > > dari pada! membuka jilbab untuk mendapatkan
majikan. > > Padahal, sudah beberapa tahun, ia tidak pernah
menemui masalah > > jilbabnya, > > bahkan ketika ia
tengah bekerja di rumah majikannya sekalipun! > Tetapi >
> baru-baru ini nenek yang diasuhnya meninggal, sehingga
kontraknya > tidak > > diperpanjang. Tidak ada lagi tugas
yang harus dilaksanakan. Tidak > ada > >
permintaan/paksaan dari agen untuk membuka jilbab (kecuali bagi >
yang > > baru > > datang dan kontrak pertama sekali).
Tapi berhari-hari menunggu, > tidak > > ada > >
satu majikanpun yang ditawarkan agen padanya. Pernah Ia mencoba >
mencari > > sendiri, tapi majikan keberatan dengan shalat yang
5 kali sehari > itu. > > "Kamu > > mau kerja apa
mau sembahyang," katanya ketus. > > > > Fragmen di
atas hanyalah sebagian dari kisah mengenaskan perempuan > >
Indonesia > > di Hongkong, atau mungkin juga di negara-negara
lain. Mereka > mengalami > > diskriminasi berlapis dari
berbagai pihak. Karena kebangsaannya, > warna > > kulit,
pilihan agama, sampai kepada jenis pekerjaannya. Bukan >
hanya > > dari > > majikan, tapi juga dari ag! en,
petugas bank, atau pegawai kantor > > lainnya, > >
dari warga negara asing lainnya yang berada di Hongkong, sampai
ke > KJRI > > sendiri. > > > > Saya
tidak tahu bagaimana mereka bisa merasa "lebih manusia" >
daripada > > yang > > lain. Saya juga tidak tahu
apakah mereka faham bahwa perbedaan > warna > >
kulit, > > kebangsaan, bahasa, penampilan fisik, agama dan
keyakinan atau > apapun > > lainnya tidak pernah
menjadikan seseorang "lebih manusia" > > daripada yang
lain. > > > > Kowloon Tong, 22 Juli 04 >
> > > > > Suraiya Kamaruzzaman,adalah adalah
Academic Visitor Southeast Asia > > Research > >
Centre, City University of Hong Kong. Artikel ini pernah dimuat
di > > Medium > > edisi 36/II/2004. >
> > > > > > >
--------------------------------- > > ALL-NEW Yahoo!
Messenger - all new features - even more fun! > > > >
[Non-text portions of this message have been removed] > >
> -------------------------------------------------- >
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk > menambah teman,
saudara, sahabat, dan [.....]. > > Jika ingin berhenti
menerima email dari sma1bks, > kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] > > Ingin menerima
email dari sma1bks, kirim email ke >
[EMAIL PROTECTED] > Yahoo! Groups Links >
> > >
>
-------------------------------------------------- Ikatan
Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk menambah teman, saudara,
sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari
sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari
sma1bks, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
-------------------------------------------------- Ikatan
Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk menambah teman, saudara,
sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari
sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari
sma1bks, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
-------------------------------------------------- Ikatan
Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk menambah teman, saudara,
sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari
sma1bks, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin
menerima email dari sma1bks, kirim email
ke [EMAIL PROTECTED]
-------------------------------------------------- Ikatan
Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk menambah teman, saudara,
sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari
sma1bks, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin
menerima email dari sma1bks, kirim email
ke [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
| Yahoo! Groups Sponsor |
ADVERTISEMENT
![click here]() | |
![]() |
Yahoo! Groups Links
|