Kenapa Tantowi jadi Duta Baca?
   
      Tantowi Yahya, sebagai duta baca dan perpustakaan Indonesia turut 
memeriahkan acara kongres Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) yang diadakan di 
Bali November kemarin. Sebelum dan sesudahnya, jelas ada sesi foto-foto dengan 
para ibu yang memang nge-fans dengannya, secara dia juga seorang selebritis. 
Tapi yang menarik sebenarnya bukan itu. Tantowi sempat memberikan presentasi 
makalahnya yang bagus dan berbobot. Pertama menerima fotokopian power point-nya 
sempet kepikiran, ini dia bikin sendiri apa dibikinin orang ya? Tapi begitu 
menyimak presentasinya, saya ragu ini dibuatkan orang lain. Tantowi begitu 
menguasai masalah Information Literacy atau Keberaksaraan di dalam masyarakat 
informasi, yang merupakan teman sentral kongres.
   
  Beberapa waktu kemudian saya memperoleh informasi tambahan mengenai alasan 
Tantowi dijadikan duta baca nasional. Rupanya dia memang seorang ‘predator 
buku’ bukan lagi kutu buku. Segala macam buku dia baca. Bahkan dengan 
pendidikannya yang terbatas (tamat D1 atau D2?) Tantowi bisa mengimbangi lawan 
bicaranya dari kalangan manapun. Itu karena ia melahap habis buku apapun, dari 
kelas ringan sampai kelas berat. Coba sebut saja satu judul buku secara acak, 
bisa jadi dia sudah pernah membacanya atau tahu isinya. Mungkin ini juga yang 
membawa dia jadi presenter handal karena selalu bisa bicara, dan tak asal 
bicara. Sementara orang lain ke Singapur untuk sekedar jalan-jalan dan 
shopping, Tantowi justru mengunjungi Perpustakaan. Perpustakaan di Singapur 
memang tidak ada bandingannya. Para pecinta buku akan dimanjakan dengan layanan 
yang relatif mudah, koleksi yang bagus-bagus dan lengkap serta fasilitas yang 
membuat pengguna enggan beranjak. Sebut saja Library at Orchad
 ([EMAIL PROTECTED]), National Library of Singapore, Lee Wee Nam Library di 
NTU, NUS Central Library… entah karena saking cintanya masyarakat Singapur pada 
kegiatan membaca atau bukan, sampai-sampai dalam lembaran Changi Express, 
newsletter bandara Singapur itu, ada kolom kecil “Changi Airport Bestsellers”. 
Daftar 10 buku yang menjadi bestseller di bandara Changi!
   
  Saya mempelajari bahwa perpustakaan adalah produk budaya masyarakatnya. Ia 
adalah hasil dari kerja sinergis antara masyarakat, negara dan pengelolanya, 
yaitu pustakawan. So, kita berharap banyak Tantowi-Tantowi yang lain yang akan 
lahir sehingga semua yang ada di Singapur bisa terwujud juga disini kali ya…
   
   
  Ps.tulisan ini dibuat tidak bertujuan untuk mempromosikan Tantowi Yahya …:p










 
---------------------------------
Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.

Kirim email ke