kalo setiap orang seperti itu, buku2 motivator yang mengajarkan untuk menjadi no.1 dalam kehidupan tidak akan laku :p
On 2/4/08, Rahman, Tiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dari milis tetangga. > > ======= > > > Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati > lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang > beraspal. > Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, di > kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang > berwarni-warni dengan aneka rasa. > Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu > tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan > mereka. > > Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa > diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia > mempercepat > jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat > sangat banyak didepannya. > > Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam > tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi > sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu > langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya. > > Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia > melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah > permen lolipop. > > Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu > bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen > lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa > jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa > mangga? Itu juga sangat lezat." Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki > tadi. > > Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat > cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di > dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut > dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan!" > > Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen > lolipop. "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil > kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil > saya?" tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen > anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan > lembah, indah sekali!" > > Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada seorang kakek tua > yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa > permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak > menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib menambahkan. > > Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia > lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk > mengumpulkan > permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya > waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan > semua permen itu ke dalam tas karungnya. > > Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal > dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang > berapa > banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya > menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." > > Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." > Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan > kembali perjalanannya. > > Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. > Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita > menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi > lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia. > > Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika > saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya > mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti... nanti pada waktu saya sudah > menikah... nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri... nanti pada > saat suami saya lebih mencintai saya... > nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya... nanti pada saat > penghasilan sudah sangat besar... " > > Pemikiran 'nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat > 'sekarang'. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita > konsepkan tentang masa 'nanti' bahagia. > > Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah > mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa 'nanti' > bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak > pernah sampai di masa 'nanti' bahagia itu. Ritme hidup yang sangat > cepat... target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita > sendirilah yang membuat semua target itu... tetap semuanya itu tidak > pernah terasa memuaskan dan membahagiakan. > > Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita > duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita > mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama > keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan > beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi > lebih indah. > > Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; > memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari > setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah > anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan > menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa > disyukuri. > > Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh > lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi > lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di > lembah permen lolipop. > > > > > > CONFIDENTIALITY NOTICE > The information in this email may be confidential and/or privileged. > This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named > above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified > that any review, dissemination, copying, use or storage of this email > and its attachments, if any, or the information contained herein is > prohibited. If you have received this email in error, please > immediately notify the sender by return email and delete this email > from your system. Thank you. > -- Kurniawan I Kanwil DJP Kaltim www.kurniawan.co.nr
