Dari milis tetangga.

=======


Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati
lembah permen lolipop.  Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang
beraspal.  
Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, di
kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang
berwarni-warni dengan aneka rasa. 
Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu
tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan
mereka.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa
diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia
mempercepat
jalannya  supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat
sangat banyak didepannya. 

Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam
tas karungnya.  Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi
sepertinya permen-permen tersebut  tidak pernah habis maka ia memacu
langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.  Dia
melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan".  Itulah batas akhir lembah
permen lolipop. 

Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar.  Lelaki itu
bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen
lolipop?  Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa
jeruk?  Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa
mangga?  Itu juga sangat lezat." Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki
tadi. 

Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat
cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop  yang terasa berat di
dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut
dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan!"

Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen
lolipop.  "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil
kamu tapi  kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil
saya?" tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen
anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan
lembah, indah sekali!"

Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada seorang kakek tua
yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa
permen  yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak
menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia
lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk
mengumpulkan
permen-permen itu.  Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya
waktu untuk menikmati kelezatannya  karena ia begitu sibuk memasukkan
semua permen itu ke dalam tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal
dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang
berapa
banyak permen  yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya
menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." 

Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali."
Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan
kembali perjalanannya.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja.
Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup.  Kita
menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi
lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia?  Jika
saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya
mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti... nanti pada waktu saya sudah
menikah... nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri... nanti pada
saat suami saya lebih mencintai saya... 
nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya... nanti pada saat
penghasilan sudah sangat besar... "

Pemikiran 'nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat
'sekarang'.  Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita
konsepkan tentang masa 'nanti' bahagia. 

Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah
mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa 'nanti'
bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak
pernah sampai  di masa 'nanti' bahagia itu. Ritme hidup yang sangat
cepat... target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita
sendirilah yang membuat  semua target itu... tetap semuanya itu tidak
pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.

Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita
duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita
mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama
keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat  membagikan
beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi
lebih indah.

Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran;
memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari
setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan  memperhatikan tawa indah
anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan
menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa
disyukuri. 

Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh
lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi
lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di
lembah permen lolipop. 

 



CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke