Kalo gue pikir liat konteks aja deh, bro ! Sumpeh ga niat nyinggung siapa2 nih, 
just a thought, bukan ga setuju forwardnya, cuma kritik (dalam arti ga setuju) 
aja atas isi tulisan tersebut. Ga nyalahin yang forward juga. 

Kembali ke konteks buat tulisan di diskusi kita
1. Judul udah ga menggambarkan isi, "Nabi Muslim Lahir di Betlehem". Ini 
maksudnya siapa? Nabi Muhammad s.a.w. udah pasti bukan. Nabi Isa bin Maryam 
a.s. bukan juga karena yang di gambarkan Yesus. Pasti beda lah Nabi Isa bin 
Maryam sama Yesus. Gue rasa yg Kristen juga setuju. Lah terus nabi muslim ini 
siapa? Yang jelas nabi muslim itu yg pertama ikrar pake syahadat yg umat Islam 
pake sampai sekarang ya Nabi Muhammad. 
2. Trus menggambarkan sejarah yang ga pernah ada di hadist, pertama soal 
lukisan.

Kalo ini sebuah cara supaya org pada toleransi dalam beragama, jelas udah 
merupakan 'pembodohan' buat Islam. Ga usah bikin sejarah 'bohong' kalo cuma 
sekedar ingin bertoleransi, supaya ga sombong dalam beragama dan alasan lain 
yang dibuat-buat. Ga perlu kita cari cerita 'utopis' yang ga sesuai kenyataan. 
Kalo ga mau sombong ya cukup bersandar pada agama masing2 dengan teguh dan 
menjalankan. Gue yakin ga bakal ada yang bilang agamanya ngajarin sombong :P  
Kalo hal ini dibaca yg udah tau, mungkin ga masalah. Gimana buat orang-orang yg 
baru belajar? Sedangkan didalam tulisan sama sekali ga menjabarkan yang tertera 
pada judul.

Dan jangan juga mem 'punish' muslim yang hanya mau menggunakan rujukan dari 
Quran dan hadist aja. Bukan kita ga mau baca, cuma semua informasi tadi kita 
balikin lagi ke rujukan dasar kita Al Quran dan hadist. Selain dengan alasan 
ada dasar hukum sunnahnya dari riwayat shahih juga banyak alasan lain yang 
sangat kuat dan banyak salah satunya 'kesalahan' diatas. 
Silakan aja menyajikan karya intelektual tapi semua ke 'intelektual'an kembali 
dibandingkan dengan nilai2 kebenaran di Quran dan hadist. Karena pada dasarnya 
yg kami pegang agama bukan sebagai ilmu semata tapi juga pegangan hidup. Sukur2 
apa2 yang diomongin bisa ada dipraktekan.
Karen ataupun selain Karen, karena ini sebagai jalan hidup yg kudu di 
pertanggung jawab kan, gue harus nge-balikin penilaian ke Quran dan hadist. Dan 
ga keberatan jika umat Kristiani juga mengembalikan penilaian ke Bible.
Gimana temen2?


kurniawan iswanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               kan 
ga semua 'barang' baru harus dilalap bos, tergantung kepentingan dan 
interestnya. jaman sekarang, informasi dapat diperoleh dengan mudahnya, dah 
kayak banjir, sehingga diperlukan filter untuk menyaring mana yang sampah dan 
mana yang bukan. terlebih lagi untuk hal yang fundamental, seperti masalah 
agama. bisa jadi tradisi keilmuan bung komar tidak payoyeh sehingga mudah untuk 
bersikap objektif terhadap buku2 sejenis. cuma ane ga kebayang aja, jika suatu 
saat nanti, kita menceritakan tentang sejarah islam dimulai dengan kata-kata 
"menurut karen amstrong, pada suatu malam nabi muhammad mengalami peristiwa 
isra dan mi'raj" daripada  "menurut hadits riwayat ...." 
 

2008/2/12 komarudin ibnu mikam <[EMAIL PROTECTED]>:
                                    ASYIIIIk....
 MANTAP NEH...kalao diterusin bisa 124 sks jurusan pemikiran islam atau 
oksidentalisme.
 TOP lah...ini yang gue mau.
 
 Tidak ada bantahan soal Karen Armstrong. Buku-bukunya buat gue termasuk yang 
wajib beli. Buat referens. Ia terkenal objektif. Persoalannya memang ada 
'curigation' dari sejumlah orang kita terhadap karya-karya barat. Karena 
disana, selembut apa pun, ada ideologi yang mendasari. Dan, cenderung anti 
Islam.  Khawatirnya ketika dibaca merasuk dan merusak. 
 
 Hanya, dalam hemat gue, segalanya bisa terjadi baik merusak atau malah 
menguatkan keyakinan (good impact). Persoalannya tradisi ilmu di lingkungan  
kita cenderung payah. Bener, payoyeh! Terkadang, belum apa-apa sudah maen 
punish. Tanpa dilihat secara objektif, mana yang item, mana yang putih. Sendal 
bagus ambil, sendal jepit buang ke laut. Khan mestinya gitu....
 
 Ah, alangkah indahnya...bila ketika mendapatkan informasi baru. Segera 
diskusikan. Diwacanakan menjadi sesuatu yang mampu menjadi intelectual 
discourse. Mematangkan. Mendewasakan. Plus, mencerdaskan. Lebih bagus lagi 
kalau kemudian dibukukan. Sehingga, pas meninggal ada warisannya gitu lho....
 
 So, mulai sekarang...gue pikir waktu yang tepat untuk berubah. Menatap masa 
depan yang lebih baik. Mengambil yang terbaik. Dari manapun datangnya. 
 
 ok..salut buat semuanya!
 
     
               
              





-- 
Kurniawan I
Kanwil DJP Kaltim
www.kurniawan.co.nr 
     
                               

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke