Sori kalo dobel post ya, abis ga keliatan di my inbox :P

Iya, Ronn, kalo melihat perbedaan ya itulah perbedaan. Ga memaksakan. Malah 
sangat ga memaksa. Yg lain melihat kebenaran yg beda, silakan banget. 
Dan setuju serta tidak setuju dengan tulisan diskusi kita, juga merupakan  
salah satu bentuk perbedaan yang harus dilihat kan? Makanya ada debat dalam 
diskusi, karena ada 2  atau lebih pihak yang berpendapat beda.  Dan salah satu 
persamaan yang bisa dilihat adalah "we are agree to disagree" pendapat satu 
sama lain.





2008/2/12 boy eliza <[EMAIL PROTECTED]>:
                                    Kalo gue pikir liat konteks aja deh, bro ! 
Sumpeh ga niat nyinggung siapa2 nih, just a thought, bukan ga setuju 
forwardnya, cuma kritik (dalam arti ga setuju) aja atas isi tulisan tersebut. 
Ga nyalahin yang forward juga. 
 
Kembali ke konteks buat tulisan di diskusi kita
1. Judul udah ga menggambarkan isi, "Nabi Muslim Lahir di Betlehem". Ini 
maksudnya siapa? Nabi Muhammad s.a.w. udah pasti bukan. Nabi Isa bin Maryam 
a.s. bukan juga karena yang di gambarkan Yesus. Pasti beda lah Nabi Isa bin 
Maryam sama Yesus. Gue rasa yg Kristen juga setuju. Lah terus nabi muslim ini 
siapa? Yang jelas nabi muslim itu yg pertama ikrar pake syahadat yg umat Islam 
pake sampai sekarang ya Nabi Muhammad. 
 2. Trus menggambarkan sejarah yang ga pernah ada di hadist, pertama soal 
lukisan.

Kalo ini sebuah cara supaya org pada toleransi dalam beragama, jelas udah 
merupakan 'pembodohan' buat Islam. Ga usah bikin sejarah 'bohong' kalo cuma 
sekedar ingin bertoleransi, supaya ga  sombong dalam beragama dan alasan lain 
yang dibuat-buat. Ga perlu kita cari cerita 'utopis' yang ga sesuai kenyataan. 
Kalo ga mau sombong ya cukup bersandar pada agama masing2 dengan teguh dan 
menjalankan. Gue yakin ga bakal ada yang bilang agamanya ngajarin sombong :P  
Kalo hal ini dibaca yg udah tau, mungkin ga masalah. Gimana buat orang-orang yg 
baru belajar? Sedangkan didalam tulisan sama sekali ga menjabarkan yang tertera 
pada judul.
 
Dan jangan juga mem 'punish' muslim yang hanya mau menggunakan rujukan dari 
Quran dan hadist aja. Bukan kita ga mau baca, cuma semua informasi tadi kita 
balikin lagi ke rujukan dasar kita Al Quran dan hadist. Selain dengan alasan 
ada dasar hukum sunnahnya dari riwayat shahih juga banyak alasan lain yang 
sangat kuat dan banyak salah satunya 'kesalahan' diatas. 
 Silakan aja menyajikan karya intelektual tapi semua ke 'intelektual'an kembali 
dibandingkan dengan nilai2 kebenaran di Quran dan hadist. Karena pada dasarnya 
yg kami  pegang agama bukan sebagai ilmu semata tapi juga pegangan hidup. 
Sukur2 apa2 yang diomongin bisa ada dipraktekan.
Karen ataupun selain Karen, karena ini sebagai jalan hidup yg kudu di 
pertanggung jawab kan, gue harus nge-balikin penilaian ke Quran dan hadist. Dan 
ga keberatan jika umat Kristiani juga mengembalikan penilaian ke Bible.
 Gimana temen2?



kurniawan iswanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
                           kan ga semua 'barang' baru harus dilalap bos, 
tergantung kepentingan dan interestnya. jaman sekarang, informasi dapat 
diperoleh dengan mudahnya, dah  kayak banjir, sehingga diperlukan filter untuk 
menyaring mana yang sampah dan mana yang bukan. terlebih lagi untuk hal yang 
fundamental, seperti masalah agama. bisa jadi tradisi keilmuan bung komar tidak 
payoyeh sehingga mudah untuk bersikap objektif terhadap buku2 sejenis. cuma ane 
ga kebayang aja, jika suatu saat nanti, kita menceritakan tentang sejarah islam 
dimulai dengan kata-kata "menurut karen amstrong, pada suatu malam nabi 
muhammad mengalami peristiwa isra dan mi'raj" daripada  "menurut hadits riwayat 
...." 
  

2008/2/12 komarudin ibnu mikam <[EMAIL PROTECTED]>:
                                     ASYIIIIk....
 MANTAP NEH...kalao diterusin bisa 124 sks jurusan pemikiran islam atau 
oksidentalisme.
 TOP  lah...ini yang gue mau.
 
 Tidak ada bantahan soal Karen Armstrong. Buku-bukunya buat gue termasuk yang 
wajib beli. Buat referens. Ia terkenal objektif. Persoalannya memang ada 
'curigation' dari sejumlah orang kita terhadap karya-karya barat. Karena 
disana, selembut apa pun, ada ideologi yang mendasari. Dan, cenderung anti 
Islam.  Khawatirnya ketika dibaca merasuk dan merusak. 
  
 Hanya, dalam hemat gue, segalanya bisa terjadi baik merusak atau malah 
menguatkan keyakinan (good impact). Persoalannya tradisi ilmu di lingkungan  
kita cenderung payah. Bener, payoyeh! Terkadang, belum apa-apa sudah maen 
punish. Tanpa dilihat secara objektif, mana yang item, mana yang putih. Sendal 
bagus ambil, sendal jepit buang ke laut. Khan mestinya gitu....
  
 Ah, alangkah indahnya...bila ketika mendapatkan informasi baru. Segera 
diskusikan. Diwacanakan menjadi sesuatu yang mampu menjadi intelectual 
discourse. Mematangkan. Mendewasakan. Plus, mencerdaskan. Lebih  bagus lagi 
kalau kemudian dibukukan. Sehingga, pas meninggal ada warisannya gitu lho....
 
 So, mulai sekarang...gue pikir waktu yang tepat untuk berubah. Menatap masa 
depan yang lebih baik. Mengambil yang terbaik. Dari manapun datangnya. 
  
 ok..salut buat semuanya!
 
     
               
              






-- 
Kurniawan I
 Kanwil DJP Kaltim
www.kurniawan.co.nr 
     

            
        

---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?   Find them fast with Yahoo! Search.
     
               
              





-- 
Kurniawan I
Kanwil DJP Kaltim
www.kurniawan.co.nr 
     
                               

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke