http://taufikurahman.wordpress.com

--- On Thu, 11/20/08, Rhiza S. Sadjad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Rhiza S. Sadjad <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Asasi] FWD: Peduli
To: "'Closed mailing list for ISNET members only.'" <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Date: Thursday, November 20, 2008, 7:16 PM






Assalamu'alaykom wr.wb.
Kalo' dicari-cari, point-point dalam
artikel di bawah ini pasti ada dalilnya,
baik dalam al-Qur'an mau pun al-Hadits.
Untuk yang hari ini jadi Khatib Jum'at,
barangkali bisa jadi materi khutbah yang
menarik ...... dan mengena !
Wassalam, Rhiza
[EMAIL PROTECTED] ac.id
http://www.unhas. ac.id/~rhiza/

-------- Isi Pesan Asli --------
Dari: harnyoto buyung <harnyotobuyung@ yahoo.com>
Balas-Ke: [EMAIL PROTECTED] .com
Untuk: smarp74 <[EMAIL PROTECTED] .com>
Judul: [SMARP74] (unknown)
Tanggal: Tue, 18 Nov 2008 20:35:58 -0800 (PST)

A nice article, good to share with others. 
EMPATI
By: Andy F Noya

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di 
sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. 
Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah
berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin 
melihat wajah saya yang memelas karena lapar, 
salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap
melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.

Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para 
pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, 
mengemas peralatan masak, mengepel lantai 
dan ada pula yang membersihkan dan merapikan 
meja-meja yang berantakan.

Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka 
seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal 
tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika
menemani anak-anak makan di restoran cepat saji 
seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan 
keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan
tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan 
dan mereka serasa tiada jika saya terlalu 
asyik menyantap makanan.

Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang 
selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat 
bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan 
yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, 
mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat,
pemandangan tersebut menjadi istimewa.

Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu 
meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya 
dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja 
bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari 
sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya 
rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu 
meninggalkan sampah bekas makanan.

Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang 
ayam berserakan di atas meja. Padahal ada 
kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat 
sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah 
kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. 

Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.

Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang 
belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana 
mereka begitu tega meninggalkan sampah
berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka 
betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu 
harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang
pelayan sekalipun.

Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk 
membuang sendiri sisa makanan jika bersantap 
di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak
melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. 
Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. 

Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan 
tertawaan teman-teman. 

Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan 
pernah keluar negeri. 

Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, 
sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan 
ke tong sampah. 

Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.

Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa 
makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di 
tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang 
melakukannya, artinya akan besar sekali bagi 
para pelayan restoran.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan 
kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah 
seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di 
kompleks rumah mereka. Karena setiap hari 
warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya
membersihkan sampah di situ, lama-lama 
mereka malu hati untuk membuang sampah disitu.

Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk 
mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya 
lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. 
Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk 
atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan.
Keteladanan kecil yang berdampak besar.

Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan 
senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum 
kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya
hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang 
yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia 
lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas 
kepada banyak orang. 

Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang 
tersenyum.

Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku 
"Chiken Soup", saya kerap membayar karcis tol 
bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa 
di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, 
orang di belakang saya pasti akan merasa 
mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. 
Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang 
indah akan membuat dia menyebarkan virus
kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang 
dia temui hari itu. Saya berharap virus itu 
dapat menyebar ke banyak orang.

Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus 
bagi minimal satu orang setiap hari. 

Pujian itu akan memberi efek berantai ketika 
orang yang Anda puji merasa bahagia 

dan menularkan virus kebahagiaan tersebut 
kepada orang-orang di sekitarnya.

Anak saya yang di SD selalu mengingatkan 
jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih" 
saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang
kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" 
merupakan "magic words" yang akan membuat
orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" 
ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya 
pembantu rumah tangga kita.

Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, 
misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot 
seenaknya menyerobot mobil saya. 

Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa 
saya harus berempati pada mereka. 

Para supir kendaraan umum itu harus berjuang 
untuk mengejar setoran. 

"Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?'' 

Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah 
tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. 

Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang 
menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat 
nasihat istri tersebut.

Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita 
jika kita dapat membuat orang lain bahagia. 

Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati 
pada perasaan orang lain. 

Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan 
membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, 
kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.

Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol 
begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan 
beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang 
permen karet sembarangan, kita sudah menghindari 
orang dari perasaan kesal karena sepatu atau 
celananya lengket kena permen karet.

Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi 
tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika 
berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang 
untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di 
belakang kita? Saya pribadi sering melihat 
orang yang membuka pintu lalu melepaskannya 
begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.

Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita 
lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita 
tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. 

Mulailah sekarang juga. 

 














      

Kirim email ke