Hai,Vanda

Salam kenal,wah dah jadi seperti apa Teluk Angsan,kapan2 mau berkunjung ke Ibu 
Kost.

Thank's 

Edi Purnama/Bio2

[EMAIL PROTECTED] wrote:                                   
  Wah sama nich teluk angsan….
   
   
    with best regards 
 Vanda 
  
      
---------------------------------
  
  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Purnama 
Edi
 Sent: Friday, 21 November, 2008 11:52 AM
 To: [email protected]
 Subject: Balasan: Re: Balasan: [sma1bks] Fw: [Asasi] FWD: Peduli (artikel Andy 
F. Noya)
  
   
        Ohh..bukan 
 
 Hi,Morry
 
 Salam kenal
 
 asal saya dari Cibarusah,saya lama tinggal di Teluk angsan itu juga ngekost.
 
 Thank's you
 
 Morry Infra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Mas Edi ini abangnya Herly '91 bukan sich?
  
    Yang rumahnya di Tugu?
  
     
  
    Wassalam,
  
    Morry Infra
  
    +966-533214840
  
    2008/11/21 Purnama Edi <[EMAIL PROTECTED]>
            Jadi teringat Pengalaman waktu di Jepang
 Bagi kita yang Ber Agama Islam semestinya Kita itu harus lebih baik dari 
Mereka menjaga kebersihan,mencegah kemubajiran karena dah jelas Dalilnya.
 
 Budaya orang Jepang(ga semua orang jepang sih) membuat saya menarik napas 
panjang,membuat saya malu sendiri,dan tercengang.
 
 Ini Kebiasaan mereka yang pernah saya lihat:
 1. Mendahulukan sama yang tua (mempersilahkan yang lebih tua untuk duduk di 
kendaraan,bahkan untuk   menaiki kendaraan)
 2. Tertib ngantri(ga ada yang namanya nyodok pengen duluan,pernah punya 
temen(indonesia)nyodok antrian di Bandara anehnya juga mereka ga marah kaya di 
Indo keluar bahasa kebun binatangnya...mereka bilang silahkan...(mungkin mereka 
positive thinking aja kali nich orang kaga nyaho ga boleh nyiap)tapi ga tahan 
diketawaan sama semua orang...wekekekkkkkk
 3. Tidak buang sampah sembarangan
 Bekas bungkus permen atau tissue mereka kantongin,karena disekitar situ ga ada 
tong sampah.
 4. Tidak mau merepotkan Orang lain
 Wanita Tuna Susila(WTS) biasa pasang iklan poster di tembok-tembok menjelang 
sore,pagi pagi udah ga ada lagi tuh poster,rapi seperti sedia kala ga ada bekas 
tempelan.
 5. Menghormati Tamu
 Manggut manggut kalo belum kepentok/kejedot ga berenti berenti.
 
 Saya setuju mulailah dari diri kita sendiri.....
 
 Edi Purnama/Bio2
 
 
 
 
 Taura <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
  
                
   
   http://taufikurahman.wordpress.com
   
   --- On Thu, 11/20/08, Rhiza S. Sadjad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
   From: Rhiza S. Sadjad <[EMAIL PROTECTED]>
   Subject: [Asasi] FWD: Peduli
   To: "'Closed mailing list for ISNET members only.'" <[EMAIL PROTECTED]>
   Cc: [EMAIL PROTECTED]
   Date: Thursday, November 20, 2008, 7:16 PM
            Assalamu'alaykom wr.wb.
   Kalo' dicari-cari, point-point dalam
   artikel di bawah ini pasti ada dalilnya,
   baik dalam al-Qur'an mau pun al-Hadits.
   Untuk yang hari ini jadi Khatib Jum'at,
   barangkali bisa jadi materi khutbah yang
   menarik ...... dan mengena !
   Wassalam, Rhiza
   [EMAIL PROTECTED] ac.id
   http://www.unhas.   ac.id/~rhiza/
   
   -------- Isi Pesan Asli --------
   Dari: harnyoto buyung <harnyotobuyung@ yahoo.com>
   Balas-Ke: [EMAIL PROTECTED]   .com
   Untuk: smarp74 <[EMAIL PROTECTED]   .com>
   Judul: [SMARP74] (unknown)
   Tanggal: Tue, 18 Nov 2008 20:35:58 -0800 (PST)
   
   A nice article, good to share with others. 
   EMPATI
   By: Andy F Noya
   
   Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di 
   sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. 
   Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah
   berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin 
   melihat wajah saya yang memelas karena lapar, 
   salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap
   melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
   
   Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para 
   pelayan restoran. Ada   yang menghitung uang, 
   mengemas peralatan masak, mengepel lantai 
   dan ada pula yang membersihkan dan merapikan 
   meja-meja yang berantakan.
   
   Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka 
   seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal 
   tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika
   menemani anak-anak makan di restoran cepat saji 
   seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan 
   keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan
   tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan 
   dan mereka serasa tiada jika saya terlalu 
   asyik menyantap makanan.
   
   Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang 
   selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat 
   bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
   sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan 
   yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, 
   mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat,
   pemandangan tersebut menjadi istimewa.
   
   Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu 
   meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya 
   dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja 
   bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari 
   sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya 
   rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
   perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu 
   meninggalkan sampah bekas makanan.
   
   Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang 
   ayam berserakan di atas meja. Padahal ada 
   kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat 
   sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah 
   kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. 
   
   Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
   
   Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang 
   belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana 
   mereka begitu tega meninggalkan sampah
   berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka 
   betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu 
   harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang
   pelayan sekalipun.
   
   Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk 
   membuang sendiri sisa makanan jika bersantap 
   di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak
   melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. 
   Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. 
   
   Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan 
   tertawaan teman-teman. 
   
   Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan 
   pernah keluar negeri. 
   
   Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, 
   sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan 
   ke tong sampah. 
   
   Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.
   
   Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa 
   makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di 
   tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
   Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang 
   melakukannya, artinya akan besar sekali bagi 
   para pelayan restoran.
   
   Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan 
   kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah 
   seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
   membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di 
   kompleks rumah mereka. Karena setiap hari 
   warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya
   membersihkan sampah di situ, lama-lama 
   mereka malu hati untuk membuang sampah disitu.
   
   Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk 
   mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya 
   lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.
   Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. 
   Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk 
   atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan.
   Keteladanan kecil yang berdampak besar.
   
   Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan 
   senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum 
   kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya
   hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang 
   yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia 
   lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
   Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas 
   kepada banyak orang. 
   
   Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang 
   tersenyum.
   
   Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku 
   "Chiken Soup", saya kerap membayar karcis tol 
   bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa 
   di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, 
   orang di belakang saya pasti akan merasa 
   mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. 
   Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang 
   indah akan membuat dia menyebarkan virus
   kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang 
   dia temui hari itu. Saya berharap virus itu 
   dapat menyebar ke banyak orang.
   
   Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus 
   bagi minimal satu orang setiap hari. 
   
   Pujian itu akan memberi efek berantai ketika 
   orang yang Anda puji merasa bahagia 
   
   dan menularkan virus kebahagiaan tersebut 
   kepada orang-orang di sekitarnya.
   
   Anak saya yang di SD selalu mengingatkan 
   jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih" 
   saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang
   kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" 
   merupakan "magic words" yang akan membuat
   orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" 
   ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya 
   pembantu rumah tangga kita.
   
   Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, 
   misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot 
   seenaknya menyerobot mobil saya. 
   
   Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa 
   saya harus berempati pada mereka. 
   
 Para supir kendaraan umum itu harus berjuang 
   untuk mengejar setoran. 
   
   "Sementara kamu kan   tidak mengejar setoran?'' 
   
   Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah 
   tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. 
   
   Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang 
   menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat 
   nasihat istri tersebut.
   
   Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita 
   jika kita dapat membuat orang lain bahagia. 
   
   Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati 
   pada perasaan orang lain. 
   
   Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan 
   membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, 
   kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.
   
   Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol 
   begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan 
   beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang 
   permen karet sembarangan, kita sudah menghindari 
   orang dari perasaan kesal karena sepatu atau 
   celananya lengket kena permen karet.
   
   Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi 
   tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika 
   berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
   pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang 
   untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di 
   belakang kita? Saya pribadi sering melihat 
   orang yang membuka pintu lalu melepaskannya 
   begitu saja tanpa perduli orang di
   belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
   
   Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita 
   lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita 
   tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
   hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. 
   
   Mulailah sekarang juga. 
   
   
   
         
  
  
     
    
---------------------------------
  
  Dapatkan alamat Email baru Anda! 
 Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! 
  
  
  
  
  
   
  
  
       
      
    
---------------------------------
  
  Nama baru untuk Anda! 
 Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
 Cepat sebelum diambil orang lain!
  
  

         


     
                                       

       
---------------------------------
  Dapatkan nama yang Anda sukai!  
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.

Kirim email ke