http://taufikurahman.wordpress.com

--- On Wed, 12/10/08, Teguh Prakoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Teguh Prakoso <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [dago_permai] Cinta oh Cinta...
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, December 10, 2008, 4:50 PM






PENYAIR DAN LEMBAH ITU...
Pasangan yang sedang berasyik masyuk itu sejak awal menyita hampir perhatian 
semua penumpang. Mengelilingi selat Bosphorus yang membelas sayap Asia dan 
Eropa, Kota Instambul menjelang senja, memang sebuah sensasi romansa. Mereka 
terus berpelukan, Dan berciuman. Yang ada hanya kata indah. Senyum. Dan ribuan
kebahagiaan. Dunia jadi milik mereka berdua. Dan semua penumpang, termasuk 
rombongan adalah penonton setia yang semakin medorong ekshibisi mereka. Ibarat 
cawan-cawan anggur yang terus memabukkan orang-orang kasmaran.
Tapi kami semua tiba-tiba tersentak. Begitu wisata bahari sore itu selesai, 
pasangan itu turun dari boat sambil bertengkar hebat. Tidak ada yang mengerti 
di antara kami: apa asal usul kemesraannya, atau apa pula sebab musabab 
pertengkarannya.
Tapi yang ada hanya sebuah kaedah sederhana yang bisa disimpulkan : Tidak semua 
kata cinta lahir dari cinta, sebab tidak semua yang terkata selalu datang dari 
jiwa. Boleh jadi itu sekadar lintasan pikiran yang tak berakar dalam hati. Atau 
respon sesaat terhadap suasana yang mengharu biru. Kata yang tak berakar di 
hati selalu mengandung virus: berlebihan, basa-basi, tidak realistis, tidak 
punya daya gugah, atau punya daya gugah tapi mengandung kebohongan.
Ini dia penyakit penyair yang disebut Qur'an; "Dan para penyair itu, diikuti 
orang-orang pendusta. Tidaklah kamu melihat bagaimana mereka mengembara tanpa 
arah di setiap lembah. Dan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka 
kerjakan." (QS. Al Syu'ara : 224-226)
Yahimun : mengembara tanpa arah. Itu ungkapan ajaib dan sangat akurat. Lalu 
diperkuat dengan pernyataan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka 
lakukan. Itu membuatnya lebih dalam lagi. Karena akhirnya, ini adalah cerita 
tentang watak yang terbelah, antara kata dan laku, tentang kata tanpa makna dan 
arah, tentang kata yang hanya sekadar kata.
Penyair dan lembah itu, metafora tentang ketidakjujuran, tentang jiwa yang 
sakit, tentang karakter yang lemah. Cinta memang harus berkembang jadi kata. 
Sebab itu membuatnya nyata. Dan meyakinkan. Tapi kata itu harus benar-benar 
merupakan anak-anak manis yang lahir dari rahim cinta. Hanya itu yang 
membuatnya kuat dan berkarakter. Hanya itu yang membuat kata menyatu dengan 
laku. Serta bebas dari keterbelahan jiwa. Jika tidak cinta akan terkena virus 
yang menimpa para penyair.
Seringkali kata-katanya terlalu sederhana. Tapi kadar jiwa dan makna yang 
dikandungnya mungkin lebih dahsyat dari puisi-puisi yang pernah memenangkan 
nobel. Seperti ketika Rasulullah SAW menyanjung khatidjah : "Adakah perempuan 
yang bisa menggantikan Khadijah?" Ketika akhirnya rasa penasaran mendorong 
Aisyah menanyakan itu, Rasulullah menjawab : "Dia beriman ketika semua orang 
kafir, dia mengorbankan harta ketika semua orang menahannya, ia memberiku 
anak-anak."
Pengakuan jujur yang abadi. Cinta yang terkembang jadi kata tapi tak sempat 
disampaikan kepada sang kekasih. Sederhana. Apa adanya. Tapi dalam. Karena 
memang lahir dari rahim cinta sejati.
Sumber: Serial Cinta Anis Matta di Majalah Tarbawi

-- 
Teguh Prakoso
Wireless Communication Center
Universiti Teknologi Malaysia
81310 Skudai, Johor Bahru
 














      

Kirim email ke