THREE CUPS OF TEA “…..kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis; pada cangkir pertama engkau masih orang asing; cangkir kedua, engkau teman; dan pada cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apapun – bahkan untuk mati.” Kutipan dari perkataan Haji Ali, Kepala Desa Korphe Pegunungan Karakoram, Pakistan, tokoh yang sampai akhir cerita menjadi kunci pertama dan utama bagi perjuangan seorang Greg Morteson. Three cups of tea masuk kategori buku memoar Greg Morteson sendiri. Kisah sejati perjuangan seorang Amerika dalam mendirikan sekolah-sekolah di remote area, wilayah Afghanistan dan Pakistan. Sarang ‘teroris’ menurut kacamata dunia Barat, tapi tanah air kedua bagi Morteson. Ditulis bersama David Oliver Relin, jurnalis yang karyanya banyak mendapat penghargaan dan buku ini membuktikan, betapa piawainya dia dalam merangkai peristiwa demi peristiwa. Membaca buku ini selain membawa kita berpetualang menikmati keindahan alam menuju puncak tertinggi kedua di dunia (K2), kita juga dibawa masuk ke dalam eksotika budaya dan masyarakat sekitarnya. Bagaimana seorang Amerika, Greg Morteson, menjalin persahabatan dan persaudaraan dengan masyarakat muslim yang kadung di cap fundamentalis. Bagaimana sebuah sekolah bisa mengubah masyarakat yang sebelumnya tak pernah dijamah dunia luar. Dan pastinya, bagaimana sebuah komitmen dan tekad diperjuangkan. Demi untuk membangun satu gedung sekolah sederhana, ternyata Morteson harus dihadapkan pada kenyataan untuk terlebih dulu membangun jembatan gantung yang menghubungkan dua lereng gunung. Jembatan ini untuk mempermudah dan memperpendek jarak antara kota penyedia bahan bangunan dan desa terpencil Korphe. Asyik, nggak bisa berenti kalau sudah membacanya, bahkan menginspirasi. Morteson yang hanya seorang perawat (dan pendaki gunung) yang miskin, memiliki mimpi dan mampu mewujudkannya. Dia berhasil membangun puluhan sekolah di desa-desa terpencil wilayah itu, dan yang paling penting dia mampu membuktikan pada dunia, bahwa 'muslim fundamentalis' - orang yang taat memegang nilai-nilai Islam, sesungguhnya adalah manusia yang paling ramah, toleran serta penuh kasih dalam bergaul dengan sesama manusia, apapun latar belakang agama dan budayanya. Jangan bilang udah baca buku di tahun 2008 kalau kamu belum baca buku yang satu ini! ;) Happy new year!
