wah, menarik yah Vit. boleh pinjem gak? he.he..he..... Jadi, gak ada konflik gitu? satu hal yang unik adalah membuat buku yang tidak ada konfliknya. Baiiik dari lembar pertama sampai akhir. Semuanya eksotika mulain dari budaya, nilai, mimpi dan kultur. Kalau Bekasi, kira-kira apanya yah yang eksotis?
Duh, mantep kali yeee kalo ada Morteson from Muara Gembong yang punya mimpi dan komitmen, sehingga anak SD Muara mati gak harus jalan lima kilo pake sepeda butut yang udah gak ada rem, gak ada pedal, gak ada hand gripnya. Jadi sepeda itu tinggal tulang doang. BEsi, jari-jari ama ban. Dan, mereka gak bisa sekola kalo musin ujan. Abis jalanan becek, gak ada tukang ojek. Eh, bukan sekadar becek lagi. itu mah cinta laura. Belok. Maksud saya, dibel. Pokoknya jalanan tanah yang berubah jadi lumpur. Gimana gak itu tanah sengketa. Secara de jure milik Dephut. Defacto jadi lahan garapan. Kalo dibangun ama pemda, pemda nolak kaena alasan takut kpk. Sebab, itu kan lahan dephut. Izinnya ribet. Cerita Laskar Pelangi itu bukan hanya ada di Babel, di Muara gebong juga ada. Bedanya gak ada yang nulis soal mereka... gimana vita? Berminat? On Wed, Dec 24, 2008 at 4:05 PM, Lusiana M. Hevita <[email protected]>wrote: > THREE CUPS OF TEA > > > > "…..kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis; pada cangkir > pertama engkau masih orang asing; cangkir kedua, engkau teman; dan pada > cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang > siap untuk berbuat apapun – bahkan untuk mati." Kutipan dari perkataan Haji > Ali, Kepala Desa Korphe Pegunungan Karakoram, Pakistan, tokoh yang sampai > akhir cerita menjadi kunci pertama dan utama bagi perjuangan seorang Greg > Morteson. > > > > Three cups of tea masuk kategori buku memoar Greg Morteson sendiri. Kisah > sejati perjuangan seorang Amerika dalam mendirikan sekolah-sekolah di remote > area, wilayah Afghanistan dan Pakistan. Sarang 'teroris' menurut kacamata > dunia Barat, tapi tanah air kedua bagi Morteson. Ditulis bersama David > Oliver Relin, jurnalis yang karyanya banyak mendapat penghargaan dan buku > ini membuktikan, betapa piawainya dia dalam merangkai peristiwa demi > peristiwa. > > > > Membaca buku ini selain membawa kita berpetualang menikmati keindahan alam > menuju puncak tertinggi kedua di dunia (K2), kita juga dibawa masuk ke dalam > eksotika budaya dan masyarakat sekitarnya. Bagaimana seorang Amerika, Greg > Morteson, menjalin persahabatan dan persaudaraan dengan masyarakat muslim > yang kadung di cap fundamentalis. Bagaimana sebuah sekolah bisa mengubah > masyarakat yang sebelumnya tak pernah dijamah dunia luar. Dan pastinya, > bagaimana sebuah komitmen dan tekad diperjuangkan. Demi untuk membangun satu > gedung sekolah sederhana, ternyata Morteson harus dihadapkan pada kenyataan > untuk terlebih dulu membangun jembatan gantung yang menghubungkan dua lereng > gunung. Jembatan ini untuk mempermudah dan memperpendek jarak antara kota > penyedia bahan bangunan dan desa terpencil Korphe. > > > > Asyik, nggak bisa berenti kalau sudah membacanya, bahkan menginspirasi. > Morteson yang hanya seorang perawat (dan pendaki gunung) yang miskin, > memiliki mimpi dan mampu mewujudkannya. Dia berhasil membangun puluhan > sekolah di desa-desa terpencil wilayah itu, dan yang paling penting dia > mampu membuktikan pada dunia, bahwa 'muslim fundamentalis' - orang yang taat > memegang nilai-nilai Islam, sesungguhnya adalah manusia yang paling ramah, > toleran serta penuh kasih dalam bergaul dengan sesama manusia, apapun latar > belakang agama dan budayanya. Jangan bilang udah baca buku di tahun 2008 > kalau kamu belum baca buku yang satu ini! ;) > > > > Happy new year! > > > > > -- Komarudin Ibnu Mikam WTS - Writer Trainer Speaker komarmikam.multiply.com 0818721014-33113503 karya-karya ; Novel Intelijen SOA (luxima) sekuntum cinta untuk istriku (GIP) prahara buddenovsky (GIP) dinda izinkan aku melamarmu (KBP) sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat) nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat) merit yuk! (qultum media) rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)
