tapi ya tidak harus ditelan apa adanya,
kadang pembanding itu perlu, pengukuran, dsb,
jgn sampai seperti katak dalam tempurung, atau jangkrik didalan kotak, atau 
juga comfort zone,
apa juga puas dgn bambu runcing, sedangkan kita bisa membuat senapan angin, dsb

untuk kasus beli komputer, ada point "sekalian jalan2 di mall ini" , itu ada 
nilai intangible yg mungkin lebih besar dari 100rb, kepuasan. Kenapa ada orang 
hobi mancing seharian yg harus bayar 100rb untuk dapet ikan sepat 2 ekor, atau 
orang yg menghabiskan puluhan juta untuk tune-up mesin ikut drag-race untuk 
mendapatkan piala dari kaleng merk oli. 

Pembanding itu perlu, dalam hal yg positif seperti ngelamar lagi ditempat lain, 
daripada main sikut atau tenun di tempat kerjanya yg lama untuk dapat gaji 3jt.

well....

 



________________________________
From: Morry Infra <[email protected]>
To: Serba_KL Serba_KL <[email protected]>; [email protected]; 
iatmi-saudi <[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>
Sent: Monday, March 9, 2009 1:41:26 AM
Subject: [sma1bks] Fwd: Perbandingan Tidak Rasional


---------- Forwarded message ----------
From: armon syahruddin <armon_syahruddin@ yahoo.com>
Date: 2009/3/8




Artikel menarik ttg perbandingan dalam hidup...
(diambil dari www.tanadisantoso. com)
 
============ ========= ========= ==

Perbandingan Tidak Rasional 

Seorang ibu rumah tangga bisa saja rela berbelanja jauh hanya untuk mendapatkan 
barang yang berdiskon. Sebenarnya dia hanya membeli sekardus mi instan seharga 
100 ribu rupiah untuk menghemat 20 ribu rupiah. Dan dia rela sekalipun harus 
menempuh hujan deras dan antri berdesak-desakan.

Namun kenapa ibu tadi mau membeli komputer seharga 7,5 juta rupiah, padahal ada 
tawaran di tempat lain yang lebih murah 100 ribu rupiah? "Ah, sekalian 
jalan-jalan di mall sini. Sini kan lebih dekat." kata si Ibu. Ibu segan pindah 
ke toko lain yang sebenarnya jauhnya sama dengan beli mi instan di atas. Hal 
ini karena uang 100 ribu rupiah hanya bagian kecil dari harga 7,5 juta rupiah. 
Sedangkan uang 20 ribu rupiah senilai 20% dari harga 100 ribu rupiah.

Kita sering berpikir dengan tidak rasional. Karena kita berpikir ketika kita 
membandingkan sesuatu hal dengan hal lainnya. Entah itu sebuah penawaran, cara 
kita menawar, cara kita hidup selalu seperti itu. Saya kasih contoh seorang 
pegawai yang bekerja selama setahun yang pernah saya wawancarai. Saya tanya, 
"Berapa gajimu sekarang?" "3 juta Pak," katanya, "Tapi saya sudah bekerja 
selama setahun. Saya tidak puas dengan gaji saya." 

Lalu saya tanya lagi, "Dulu waktu kamu diterima, berapa gajimu?" Dia menjawab, 
"1 juta." "Waktu itu kamu membayangkan tahun depan gajimu naik jadi berapa?" 
tanya saya lagi. "Ya, paling naik menjadi 1,5 juta," jawabnya. "Lha sekarang 
kan kamu sudah 3 juta? Kenapa kamu masih tidak puas?" cecar saya. Diam sejenak, 
dia menjawab, "Iya sih, tapi ada teman yang baru saja masuk kerja sudah bergaji 
3,5 juta."

Ternyata dia membandingkan dirinya dengan orang lain. Bukan karena dia tidak 
puas dengan gajinya 3 juta itu. Tapi dia tidak puas karena dia mulai 
membandingkan dengan orang lain. 

Dalam kehidupan, kita selalu membandingkan diri kita terlalu banyak dengan 
orang lain. Dia punya mobil, saya tidak punya. Dia punya rumah lebih besar lagi 
dari kita. Bukan karena kita butuh rumah yang lebih besar, tapi karena kita 
tidak puas orang lain memiliki sesuatu yang lebih besar dari kita. 

Marilah kita hidup dengan lebih sadar bahwa membandingkan sesuatu dengan yang 
lain itu tidaklah baik. Penting apa yang anda miliki sekarang dan sudah 
memuaskan anda. Dan kita harus lebih bisa sadar dengan hal ini.  





      

Kirim email ke