"
Media tv dan media massa banyak ratingnya naik krn mengemas acara yg memiliki 
unsur 3 cairan ; air mata (kesedihan/kemenang an/dll), darah 
(kekerasan/pembunuh an/dll), air raja (perselingkuhan/ perceraian/ dll). Yahudi 
paling ahli mengemas acara2 gak mutu gini.
"

Kontrol terutama bukan menghujat dan menyalahkan orang lain, tetapi diri kita 
sendiri. Kalo gak berkenan, ganti channel...kalo gak berkenan juga, matikan 
televisinya....Masa sih itu ajaran Yahudi tiga cairan itu??? Gua si ngelihatnya 
itu bisa jadi pengingat bahwa hidup kita masih lebih baik ketimbang yang 
ditayangkan, misalanya ada berita pembunuhan....Dan itu bisa bikin kita 
waspada...Kalau sampai muncul airmata setelah menonton sebuah tayangan yang 
memang mengharukan misalnya, bisa menimbulkan simpati dan empati khan?

Memaknai tayangan televisi itu tidak harus menghujat orang lain atau golongan 
lain...kalau dengan begitu, anda bisa saja menyamakan Ust. Arifin Ilham itu 
Yahudi, karena setiap shownya di televisi selalu ada tangisan??? Gak fair 
bung!,,,,,,Terus keluarnya air mata haru karena Indonesia menang Piala Thomas 
misalnya..masak mo disamain juga....

KPI memang sangat pasif, tapi bukan berarti tidak ada pergerakan. KPI juga 
tidak berhak menentukan berhentinya siaran tanpa ada laporan dari masyarakat. 
Contoh nyata adalah kasus SmackDown..KPI tidak bisa menghentikan begitu saja 
tayangan itu, karena KPI bukanlah lembaga yang mempunyai wewenang 
memberhentikan siaran secara sepihak. Juga aksus Tukul cipika cipiki di 
televisi. Kalo gak ada laporan dari warga, yaaa...tukul pasti masih cipika 
cipiki....KPI lebih mirip polisi, bekerja kalo ada laporan...POlisi khan gak 
mungkin nangkep seseorang kalo gak ada laporan???

Negara lain menurut ane maju karena tidak menghujat golongan lain. Mereka 
membangun dan membentuk kelompok2 diskusi, misalnya ada Phi Beta Gamma, Ivy 
Leauge, dan mengembangkan potensi kecerdasannya disana. Di Indonesia, orang 
masih menghujat orang lain dengan serius, tapi lupa akan potensi dirinya 
sendiri....

Bagi ane, membentuk media yang cerdas dan mendidik dimulai dari kontrol di 
rumah...batasi dengan ketat tontonan yang layak dan memang pas dengan keinginan 
anda....dengan demikian, industri akan mengerti...

*kalonggaksuka,gantichannel,masihnggaksukamatikantelevisi,bacabukudandengarkanmusik*
 
It's only a transition...

Dicky Kurniawan
News Camera Person
NEWS DIVISION
PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
Gd. Trans TV 3rd Fl.
Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A
Jakarta Selatan 12790
+628174964705
[email protected]
[email protected]
omongkosongku.blogspot.com
answerlieswithin.multiply.com
  
 




________________________________
From: Irzan Supriyadi <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, March 31, 2009 4:36:57 PM
Subject: RE: *****SPAM***** Re: [99only] Re: [sma1bks] Fw: [kampus-tiga] 
Dicari: Mualaf


Sebagian saya setuju dgn email2 sebelumnya.
Media tv dan media massa banyak ratingnya naik krn mengemas acara yg memiliki 
unsur 3 cairan ; air mata (kesedihan/kemenang an/dll), darah 
(kekerasan/pembunuh an/dll), air raja (perselingkuhan/ perceraian/ dll). Yahudi 
paling ahli mengemas acara2 gak mutu gini.
 
KPI (Komite Penyiaran Nasional) tidak aktif, mis : melakukan survey terhadap 
dampak acara yg berating tinggi. KPI hanya mengurus hal2 perizinan dan sangat 
pasif. Contoh terkini, ketika sinetron hareem sudah dihujat oleh banyak masa 
Islam, eh KPI baru bertindak. KPI mestinya riset, apakah penduduk Negara maju 
lbh baik dari Indo. karena tv ato krn apa?
 
Bgrkali ada teman2 dari KPI bisa sharing mengenai hal ini. Tq.
 
From:sma1...@yahoogroups .com [mailto:sma1bks@ yahoogroups. com] On Behalf Of 
Arief Kurniawan
Sent: Tuesday, March 31, 2009 3:09 PM
To: sma1...@yahoogroups .com
Subject: *****SPAM*** ** Re: [99only] Re: [sma1bks] Fw: [kampus-tiga] Dicari: 
Mualaf
 
Huahuahua rame, gw demen
Ada yang mau survey sukarela ngga?
Gw jamin pemirsa TV jumlahnya 2kali lipat sama pengguna telepon.. Anak umur 1.5 
tahun aja dah demen TV. Makanya gw agak strict sama anak gw kalo urusan TV. 
Anak itu bisa jadi zombie gara2 TV, tapi ngga ada anak2 yang jadi zombie gara2 
telepon. TV komunikasi satu arah, telepon komunikasi 2 arah. Loe bisa saling 
berbagi sama orang yang loe telepon, ama TV? Gw juga punya TV dirumah, bukannya 
gw so anti TV, tapi bukan TV nya disalahin, penyiarannya yang perlu di lurusin. 
Ada koq acara2 yang bagus yang dicky sebutkan, tapi prosentasenya berapa nih 
dari jumlah jam dalam sehari selama 1 minggu?? Ada yang mau ngasih data dan 
fakta nya ngga (ngorek2 ala detektip)

Ada lagi satu cerita yang lebih ekstrem, dosen gw, ada yang gak punya TV, 
alasannya simple, dia ngga mau anak2nya jadi monster and zombie. Trus untuk 
informasi dan edukasi gimana bos? Sungguh rrrruarrrr biazzzzaaaa, di buat 
perpustakaan dirumah untuk anak2nya, setiap minggu dia ajak anak2nya nyari 
buku2 baru dan bekas di pasar johar semarang, kadang2 jalan2 ke jogja cuman 
buat nyari buku sama anak2nya. Kalo gw pernah nanya kenapa seperti itu? Lagi2 
jawabnya simple, walaupun sama misalkan topik yang di TV sama dibuku belon 
tentu penggambaran sutradara itu humanis (karena goalnya rating), tetapi fitrah 
semua manusia berimajinasi adalah imajinasi ya humanis, manusiawi, dan harmony 
(kecuali kalau yang schizofren ya).

Ayo ada yang nambahin lagi, btw bagus juga bang komar untuk selalu mengkritisi 
acara TV dengan sering ngirim komentar ke TV, ikutan ah........




AriefK

Sent from my NerdBerry® freakz smartphone powered by XL

________________________________

From: komarudin ibnu mikam 
Date: Tue, 31 Mar 2009 06:44:08 +0700
To: <sma1...@yahoogroups .com>
Subject: Re: [99only] Re: [sma1bks] Fw: [kampus-tiga] Dicari: Mualaf
Hajar terus Rifkur...
Emang tivi kudu dibombardir dengan berbagai masukan biar lebih dewasa dan 
mendidik. Selama ini konsep tayangan itu hanya sekadar hiburan. Padahal jelas 
di sana ada propaganda. Kampanye nilai. Ada pengibulan massal dengan dalih demi 
selera pasar. Padahal selera pasar itu sebenarnya agak remang-remang. Sebab, 
hal itu bisa dibentuk pemilik dana dan pembuat program.
 
hajar teru Rif..
ini agar terus menerus.
Tercipta kemudian kelompok konsumen media yang kuat. Ulah cicing wae kalo 
nonton tv. Angkat telepon. Faks. Email atau apa pun protes. harus protes. 
Bagaimana pun perlahan tapi pasti kalau ada protes, program itu akan terus 
dievaluasi. Pemberontakan terhadap media. Perlawanan. Sehingga meniimbulkan 
alternatif media.
 
Jangan takut ama Dicky.....[hi. ..hi..hi]
Biar orang media keluar semua. Marwan. Si Popay. Si .....sapa Ki yang di DRTV. 
Om Opik. Biar mereka mengeluarkan sesuatu yang selama ini disembunyikan.
 
Hayo hajar terus..
hidupkan milis ini menjadi ajang interaksi opini yang berbeda.
jangan cuman bedua ntar personalisasi. ..
Sapa yang setuju.
sapa yang kagak.
 
terus konkritnya apa gitu lho..
2009/3/30 Dicky Kurniawan <marcial_riquelme@ yahoo.com>
Hohoho..postingan yang nyari muallaf malah belom dibikin brur...
 
Soal acara....ini opini gua, bukan opini tempat kerja gua ya...
 
Televisi itu bagian dari industri, sama seperti industri lainnya. Ketika satu 
program sukses, dalam industri televisi ukurannya rating dan share, maka 
pengekor lainnya akan berderet berharap berkah kesuksesan serupa. Sama saja 
ketika industri telekomunikasi sekarang berebut citra yang paling murah. Dari 
Rp 0,1 sampe Rp 0, 0000....1 dikampanyekan (dicitrakan) berharap dapet 
pelanggan dan menjadi nomor satu. Perkara tarifnya bener atau tipu-tipu 
perusahaan tak mau tahu. Tujuannya jelas, konsumen! Konsumen beralih ke 
operator yang bertarif murah, pendapatan meningkat... .Sederhana. .ini hitungan 
bisnis....Industri televisi juga demikian. Ingin menjadi nomor satu di negeri 
ini, tak peduli dengan kualitas tayangan, yang penting disukai penonton. 
Ukurannya? lagi-lagi rating dan share yang diukur sama lembaga independen ABG 
Nielsen. Rating share tinggi menunjukkan penonton membludak dan itu lahan duit 
buat perusahaan. Rating share tinggi, iklan berjubel,
 maka pendapatan stasiun televisi meningkat.
 
Kalo lu ngomong kualitas, menurutlu apa si ukuran kualitas terhadap tayangan 
televisi?Trans TV itu gudangnya acara (yang dikemas untuk menghibur) 
berkualitas dibanding TV lain..Bukannya gua ngebanggain tempat kerja gua, 
tapi karena gua terlibat di dalamnya. Metro TV dan TV One gua cukup berbangga 
dengan slogan TV berita, tapi apa iya lu mo nonton berita (serius) mulu tiap 
saat??? Nah Trans TV mengemas berita dengan gaya berita. Boleh dibilang sedikit 
menganut gaya Discovery Travel and LIving. Ada Kuliner macam Harmoni Alam dan 
Ala Chef...ada petualangan dan travelling ala Jelajah dan Perjalanan Tiga 
Wanita, ada dokumenter macam Surat Sahabat, Sang Bintang, Hidup Ini Indah yang 
dikemas dengan gaya yang lebih ngepop.. Kalo mo serius ada KPK, Reportase 
Investigasi. .Yang ringan buat ibu2 ada juga di Jelang Siang, Pesona Indonesia 
dsb....Tidak kehilangan sense of news-nya tapi tetap menghibur, orang tak perlu 
berkerut melihat tayangan berita yang
 dikemas ringan dan menghibur.
 
Satu lagi, program televisi dibuat berdasarkan sasaran penonton. Penonton Surat 
Sahabat akan berbeda dengan penonton KPK. Lu nonton sinetron yang tayang dari 
Kebon Jeruk akan berbeda sama lu nonton berita dari Kedoya. Ada asumsi bahwa 
kenapa sinetron itu merajai, karena penontonnya ibu-ibu dan remaja putri. Dari 
jaman TVRI kalo pas telenovela macam Dynasty dan Santa Barbara penonton 
utama dirumah adalah Ibu-ibu dan wanita.. Dan lu tau sendiri kalo udah Ibu-ibu 
dan cewek2 yang pegang remote, akan susah ganti channel..hihihi. ...
 
Soal mengumbar kesedihan orang antara sepakat dan gak sepakat. Kenapa sepakat 
bahwa ini untuk nunjukin kalo diluaran sana banyak orang yang gak seberuntung 
lu dirumah. Kenapa gak sepakat karena itulah yang dimauin penonton. Penyebabnya 
adalah industri ini terlalu berpegang teguh pada rating dan share. Ada bacaan 
permenitnya loh....Jadi kita tau, kompetitor itu unggulnya dimana lemahnya 
dimana.
 
Kenapa sinetron dan acara TV banyak adegan marah2 dan teriak-teriak? Karena 
rating-sharenya tinggi saat adegan itu, maka PH dan pembuat tayangan akan 
membuat acara sedemikian rupa......
 
Gua si cuma bilang kalo TV terresterial di Indonesia belum punya stok banyak 
soal tayangan bermutu. Kalo lu punya duit lebih, gua saranin berlangganan TV 
kabel..pilihan channel banyak..jangan khawatir akan kebablasan tayangan yang 
gak pantes ditonton anak, karena ada fasilitas lock channel. Kalo gak punya 
dana, lebih baik matikan televisi anda dan perbanyak baca buku sambil denger 
musik.....
 
Dan meski gua kerja di stasun televisi, tapi gua jarang nonton televisi kecuali 
siaran langsung sepak bola liga eropa and beberapa dokumenter. Selebihnya 
tidak...!!!!
 
It's only a transition.. .

Dicky Kurniawan
News Camera Person
NEWS DIVISION
PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
Gd. Trans TV 3rd Fl.
Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A
Jakarta Selatan 12790
+628174964705
marcial_riquelme@ yahoo.com
dicky.kurniawan@ gmail.com
omongkosongku. blogspot. com
answerlieswithin. multiply. com
  
 
 
 

________________________________

From:Arief Kurniawan <batigol_arief@ yahoo.com>
To: sma1...@yahoogroups .com; SMUN 1 Bekasi #99 <99o...@yahoogroups. com>; 
inswapala <inswap...@yahoogrou ps.com>
Sent: Monday, March 30, 2009 9:10:22 PM
Subject: [99only] Re: [sma1bks] Fw: [kampus-tiga] Dicari: Mualaf
Rekan2

Gw barusan lihat acara di t****tv, msh berlangsung kayaknya wkt gw nulis email 
ini. Acara realitas.

Cuman koq gw lihat fenomena nya saat ini, acara2 di tv (contoh: term*h*k m*h*k 
dan acara ini tadi yg gw gak tau judulnya), mengumbar kesedihan orang untuk 
acara tontonan. TV kan dunia entertainment, nah berarti kita memanfaatkan 
kesedihan orang untuk meng-entertain orang lain demi rating...... .sangat tidak 
humanis

Gw sih miris ngeliatnya, tapi fenomena TV sekarang lebih ngedepanin rating 
daripada kualitas. Contoh aja R***
Sinetron ngga abis2nya, ampe jengah. 

Untuk temen2 media mungkin bisa punya ide acara yang berkualitas gitu, memang 
sih masih ada acara yang bermutu kayak KPK, Secret file, atau acara2 sejenis 
yang membuat TV sebagai saran edukasi dan informasi. Juga acara entertainment 
yang berkualitas, inget ngga sama acara miniseri jaman dulu Rumah Masa Depan, 
Jendela Rumah Kita, dll acara sinetron dan miniseri tapi humanis, relevan, 
tidak mengada ada. Sinetron yang humanis saat ini yang gw tahu : para pencari 
tuhan, si doel 1 (kalo yg 2 ampe ke 5 dah ngga humanis)

Goalnya cuman satu : menjadikan acara TV berisi humanis/manusiawi/ fitrah dan 
jangan menjadikan acara TV seperti MONSTER
AriefK

Sent from my NerdBerry® freakz smartphone powered by XL

________________________________

From: Dicky Kurniawan 
Date: Mon, 30 Mar 2009 03:47:13 -0700 (PDT)
To: SMA 1 Bekasi<sma1...@yahoogroups .com>; SMUN 1 Bekasi 
#99<99o...@yahoogroups. com>; inswapala<inswap...@yahoogrou ps.com> 

Subject: [sma1bks] Fw: [kampus-tiga] Dicari: Mualaf
Kalo ada yang berminat..langsung aja hubungi yang bersangkutan. ..jangan ke gua
 
It's only a transition.. .

Dicky Kurniawan
News Camera Person
NEWS DIVISION
PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
Gd. Trans TV 3rd Fl.
Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A
Jakarta Selatan 12790
+628174964705
marcial_riquelme@ yahoo.com
dicky.kurniawan@ gmail.com
omongkosongku. blogspot. com
answerlieswithin. multiply. com
  
 
 
 
----- Forwarded Message ----
From: selo ruwandanu ruwandanu_s...@...
Sent: Monday, March 30, 2009 3:23:22 PM
Subject: [kampus-tiga] Dicari: Mualaf
Om Moderator, numpang ya.. 
 
Sebuah program TV bernafaskan Islam tengah mencari presenter untuk menambah 
slot durasi baru. 
 
syarat:
1. Mualaf (mengerti, paham, dan mengamalkan Islam dengan baik)
2. Pintar dan fisik Sehat
3. Bersedia mengikuti proses Liputan selama beberapa hari di luar kota
4. Jenis kelamin bebas
5. Mempunyai jiwa Syiar
6. Tinggal di Indonesia, dan bisa berbahasa Indonesia (bagi WNA atau WNI 
keturunan)
 
kirimkan CV langsung ke: ronnysuyanto@ yahoo.com
Bagi yang memenuhi syarat, akan dihubungi langsung.
 
terima kasih,
 
:selo ruwandanu
 
 
 
 



-- 
Komarudin Ibnu Mikam
WTS - Writer Trainer Speaker
komarmikam.multiply .com
0818721014-33113503
karya-karya ;
Novel Intelijen SOA (luxima)
sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
prahara buddenovsky (GIP)
dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
merit yuk! (qultum media)
rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)



      

Kirim email ke