Sastra yang Mendustai Pembaca
Sabtu, 4 April 2009 | 03:23 WIB
DAMHURI MUHAMMADSeorang
kawan, sebutlah Fulan, pernah datang memenuhi panggilan sebuah
perusahaan penerbitan buku berkelas di Jakarta. Konon, ia memperoleh
tawaran menjadi penyunting naskah sastra terjemahan, khususnya dari
roman-roman berbahasa Arab. Dalam perjalanan,
kawan itu tiba-tiba khawatir bakal gagal sebab tak ada yang bisa
diandalkannya, selain sedikit kemahiran menulis fiksi dan sedikit
kemampuan membaca teks-teks berbahasa Arab.Selepas
bincang-bincang penuh basa-basi yang sesekali bernada menguji, Fulan
bertanya kepada penguji yang tampak sudah kenyang pengalaman di dunia
sastra terjemahan dari bahasa Arab itu—seperti roman- roman karya para
pengarang Mesir: Thaha Husain, Naguib Mahfouz, Nawwal el-Saadawi, Radwa
Ashour, atau Ala Al-Aswany.”Jebolan universitas Al-Azhar (Kairo)
banyak sekali. Kemampuan bahasa Arab mereka tak diragukan, kenapa Bapak
malah memanggil saya?” Sambil menggeleng penguji itu bilang, ”Bahasa
Arab mereka memang hebat, tetapi mereka kurang cakap dalam berbahasa
Indonesia.”Pernyataan penguji mewakili secara tepat problem dunia penerjemahan
Arab-Indonesia. Para penerjemah begitu menguasai aspek gramatikal Arab (qawaid
al-lughah), tetapi kurang ”maju” dalam berbahasa Indonesia. Banyak dari mereka
yang belum mempraktikkan bahasa Indonesia yang ”baik” dan ”benar”. Kerja
terjemahan mereka bukan alih bahasa dalam arti sejatinya, tetapi hanya
mendedahkan teks bahasa Indonesia yang masih bercita rasa Arab. Meski sudah
(meng)-Indonesia, jejak Arabnya masih saja tersisa. Setengah Arab, setengah
Indonesia.Terjemahan, satu contoh”Seorang
pelayan keluar dari sebuah vila yang megah, matanya sibuk mengitari
jalanan yang lengang. Angin sepoi-sepoi bertiup dengan lembut,
menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja.” Kutipan ini salah
satu contoh teks terjemahan dari sebuah roman berbahasa Arab.Tengoklah,
kata keluar yang terbaca rancu meski mungkin tidak salah. Lebih tepat
bila diganti muncul. Kata megah tidak tepat menyifati vila—sebab, megah
lazimnya menyifati gedung. Lebih sepadan bila megah diganti mewah.Begitupun
kata sibuk tidak serasi bersanding dengan mata, lagi-lagi meski tidak
salah. Sorot mata lebih berjodoh dengan kata awas—kejelian, ketelitian
mengamati obyek. Mengitari akan terasa lebih tajam bila diganti dengan
menyigi atau menelusuri.Menyunting bukan sekadar menggunting
kalimat, tetapi juga memperkaya pilihan kata guna mempertajam
pesan-pesan teks. Agaknya belum memadai bila kerja penyuntingan hanya
mempertimbangkan aspek leksikal-gramatikal saja, dituntut pula
eksplorasi yang mendalam untuk memilih padanan kata yang jitu, yang
sepadan satu sama lain, dan karena yang disunting adalah teks sastra,
ambiguitasnya tentu harus tetap terjaga.”Angin sepoi-sepoi
bertiup dengan lembut, menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja”
terdengar janggal. Dalam cita rasa bahasa Indonesia,
sepoi-sepoi sesungguhnya lebih tepat bila ditempatkan sebagai kata
sifat. Bertiup dapat diganti dengan berembus atau berkesiur.Hal
kata dengan, inilah yang disebut sebagai jejak bahasa asal dalam teks
terjemahan. Dapat diduga, dengan adalah terjemahan dari bi (huruf ba
berharakat kasrah), yang di dalam kaidah tata bahasa Arab disebut huruf
Jar. Angin berembus/berkesiur sepoi-sepoi sudah mengandung sifat
lembut. Maka, dengan lembut tidak perlu lagi. Inilah salah satu cara
menghapus jejak bahasa asal dalam teks terjemahan.Adapun frase
”menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja”, selain mengulang
kata (nyanyi), preposisinya terdengar tidak logis. Seolah-olah embusan
angin sepoi-sepoi yang bernyanyi. Padahal yang bernyanyi bukan angin,
melainkan daun-daun. Dedaunan bergerak—melenggok-lenggok, menimbulkan
bunyi—akibat embusan angin. Karena kesiur angin sepoi-sepoi, dedaunan
(seolah-olah) menyanyikan sebuah lagu senja. Maka boleh jadi akan lebih
baik bila kalimat tersebut berbunyi, ”angin berembus sepoi-sepoi,
hingga daun-daun seolah-olah menyanyikan sebuah lagu senja.Dengan
perubahan itu, preposisinya menjadi sangat logis dan secara tidak
sengaja malah menciptakan sebuah metafora (”lenggok-lenggok daun yang
menimbulkan bunyi serupa nyanyian lagu senja”).Setelah disunting
dengan cara mempertajam diksi, memangkas kata yang tak perlu,
menghilangkan repetisi, meluruskan preposisi, rumusan teks hasil
terjemahan di atas akan berubah menjadi: ”Seorang pelayan muncul dari
sebuah vila mewah. Sorot matanya awas menelusuri jalan yang lengang.
Angin berkesiur sepoi-sepoi, hingga daun-daun seolah-olah sedang
menyanyikan sebuah lagu senja”.Buah dustaMenyunting
teks terjemahan, tampaknya tidak hanya perlu penguasaan terjemahan
tekstual, tetapi juga membutuhkan kecerdasan dalam menyingkap tafsir
kontekstual. Sebagai contoh, kata hadist
(bahasa Arab) dalam teks ilmu hadis, asosiasi maknanya mengarah pada
sumber hukum Islam kedua setelah Al Quran. Namun, bila kata itu
ditemukan dalam teks filsafat, tidak bisa lagi dimaknai sebagaimana
maknanya dalam konteks ilmu hadis.Hadis dalam bahasa filsafat bermakna
”temporal” (nisbi, relatif). Begitu juga kata qadim,
dalam ilmu sejarah, asosiasi maknanya mengarah pada waktu yang telah
berlalu (lampau, dahulu). Namun, dalam konteks ilmu kalam (teologi
Islam), filsafat dan sebagian besar teks sastra, qadim bermakna; ”eternal”
(kekal, tak berubah).Kerja
penyuntingan teks terjemahan sangat berpeluang membuahkan dusta. Itu
terjadi ketika muncul ketidakselarasan antara pesan teks asli dan teks
alih bahasa. Dusta yang bermula dari penerjemah, dilanjutkan oleh
penyunting, hingga menjadi dusta berkepanjangan yang terus-menerus
ditimpakan kepada khalayak pembaca ”tak berdosa”. Ini kerap terjadi
dalam penerjemahan dan penyuntingan teks sastra terjemahan, khususnya
dari roman-roman berbahasa Arab yang terus berhamburan dalam khazanah
perbukuan Tanah Air sejak beberapa tahun belakangan ini.Ironisnya,
dalam banjir naskah itu, masih saja ditemukan sebagian penyunting yang
bekerja tanpa pengetahuan yang memadai terhadap aspek ketatabahasaan
Arab. Sementara kebutuhan pengetahuan tentang itu sangat vital, bahkan
masih perlu dilengkapi dengan pemahaman tentang dasar-dasar ilmu
stilistika Arab (Bayan, Ma’ani, Badi’, ’Arudh dan Qawafi).Itu
pun sebenarnya masih perlu dilengkapi dengan kemampuan yang terlatih
dalam menulis karya sastra, membentangkan layar estetik, meraih
diksi-diksi yang tepat, dan piawai bermain tamsil, amsal, dan umpama.
Dengan begitu, penyunting dapat menyulap roman-roman berbahasa Arab
menjadi (seolah-olah) bukan karya terjemahan.Maka, saya jadi
mengerti, kenapa kawan saya, Fulan, lebih bisa dipercaya dibandingkan
dengan para penyunting yang canggih bahasa Arab-nya, tetapi payah dan
bermasalah bahasa Indonesia-nya.
Pilihan tersebut sudah tepat. Tentu saja penguji tersebut berharap agar
kerja penyuntingan dapat menghasilkan sastra terjemahan yang bisa
dipertanggungjawabkan keabsahannya sehingga tidak lagi sewenang-wenang
mendustai pembaca.DAMHURI MUHAMMAD Cerpenis dan Penyunting Buku
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/04/03235211/sastra.yang.mendustai.pembaca
Toby Fittivaldy
Fis2 '94