Konsorsium Perempuan
“Saya mantan pekerja migran di Taiwan,” kata perempuan ini
dengan suara antusias. Ada nada semangat yang sangat di dalamnya ketika kami
ngobrol. Saya cuma bisa berdecak kagum. Untuk seorang perempuan seusia dia, dan
telah mengalami pahit getir kerja di negeri orang, semangat macam gini ini lho
yang langka banget saya temuin. Meski pernah golput atau ‘digolputkan’, dia
tetap semangat menggunakan hak pilihnya. Merasa tetap optimis kelak akan ada
perubahan yang berarti untuk teman-teman seperjuangannya (para buruh migran).
“Nggak pengen pergi ke Luar lagi?” tanya saya hati-hati,
kuatir menyinggung perasaannya karena sepertinya dia lebih cocok jadi aktivis
LSM daripada TKI.
“Insya Allah pengen, tapi maunya sekolah Mbak…”
Nah bener kan?
Namanya, sebut saja, Mbak Anna. Umurnya belum 30 tahun.
Orangnya ceria, semangat dan sorot matanya cerdas. Saya jadi ingat teman-teman
dari FLP Hongkong, yang notabene TKI juga. Nggak kelihatan lemah, pede banget
malah. Nah gitu dong, walau TKI, mereka kan juga perempuan baik-baik, pejuang
malah. Gimana enggak, mereka inilah yang dijuluki pahlawan devisa negara. Hasil
dari keringat merekalah negara mendapat ‘suntikan’ devisa dengan jumlah yang
amat besar. Jadi harus pede, jangan mau diinjak-injak terus.
“Buat apa sih bikin organisasi kayak beginian?” tanya saya
ke salah satu pengurus KPIPP (Konsorsium Perempuan Indonesia Peduli Pemilu).
Seperti ada ‘bau’ partai di dalamnya. Dan siang itu saya mendapat penjelasan
berupa kiriman file
proposal tentang KPIPP. Di sela-sela kerjaan, saya membaca 15 halaman proposal
tsb.
Hanya dalam lima menit saja, proposal itu sudah bikin mata saya basah.
Bagaimana tidak. Saya baru tahu kalau kondisi para tenaga
migran, yang rata-rata perempuan itu benar-benar amat sangat rentan. Hampir
setiap minggu ada saja jenazah TKW di kirim dari luar negeri. Satu bulan bahkan
bisa
mencapai belasan orang.
“Tadi pagi Bu Wahidah baru aja menjemput jenazah baru lagi
di Bandara…” kata Waras lirih, saat sorenya kami bertemu untuk mempersiapkan
acara sosialisasi pemilu bagi para buruh migran di Jakarta. Bu Wahidah adalah
ketua KPIPP.
Jenazah?
“Dari Malaysia…” lanjut perempuan yang sejak kuliah dulu
saya kenal sangat aktif di kampusnya.
Uhh, untung gue ga jadi pergi ke Malaysia! Kenapa sih negara
tetangga itu nggak pernah sedikit aja bersikap manis dengan bangsa serumpun
sendiri??? Tapi yang jelas para buruh migran ini memang minim perlindungan dari
negara.
Belakang saya diberitahu kalau selain negara-negara Timur
Tengah, Malaysia lah negara yang juga dikenal ‘kejam’ terhadap TKW dan TKI/TKW
kita dihargai jauh lebih murah dari tenaga kerja Filipina maupun Vietnam!!!
Arrrhg…
“Ras, kalau ada yang bisa aku bantu, bilang aja ya…” kata saya saat acara
selesai, tiba-tiba aja seperti ada panggilan jiwa, deuuuu...
Waras sumringah, “bener ya Mbak.”
Saya membayangkan Rumah Demokrasi yang akan dibuat oleh
KPIPP akan ramai dengan berbagai kegiatan percerdasan para buruh migran agar
mereka memperoleh hak akses informasi seluas-luasnya, perlindungan hukum, dan
berbagai hal yang membuat mereka bisa menjadi warga negara yang utuh dan mampu
membela paling tidak bagi diri mereka sendiri. Dan mudah-mudahan mendatang
tidak ada lagi jenazah TKW lagi.......