--- Pada Sab, 18/4/09, Achmad Abdillah <[email protected]> menulis:
Dari: Achmad Abdillah <[email protected]> Topik: Dynamics size for dynamics market Kepada: [email protected] Cc: [email protected], [email protected], [email protected] Tanggal: Sabtu, 18 April, 2009, 3:10 AM Dynamics size for dynamics market Oleh. Achmad Fauzi Abdillah *) Tujuh puluh tahun lalu, Keynes membantu memecahkan persoalan ekonomi klasik yang dihadapi Amerika Serikat yang kemudian resepnya banyak dipakai untuk membantu memulihkan Eropa pasca perang dunia kedua melalui Marshall Plan dan negara-negara lainnya termasuk di Indonesia di masa Orde Baru. Namun memberikan resep keynes untuk krisis keuangan global melalui stimulus fiskal di masing-masing negara sama halnya seperti memberikan obat flu ke penderita HIV yang sedang kena flu. Subtansi boleh jadi benar namun konteks sekarang tidak sama dengan yang diamati keynes 73 tahun yang lalu. Sistem Keuangan Global yang menerapkan prinsip "one size for all market" akan diuji keperkasaannya. Apakah semakin perkasa atau semakin tersudut di seluruh negara ?. Dalam hukum klasik supply and demand akan bekerja sepanjang supply mampu terus memenuhi demand. Negara-negara yang mampu memproduksi barang dengan harga yang paling kompetitif akan semakin diterima di negara-negara yang market friendly, sebaliknya negara yang tergantung dengan produk impor akan menghadapi masalah klasik berupa defisit fiskal yang akan semakin lama akan semakin membesar. Pertumbuhan konsumsi akan lebih tinggi dibanding pertumbuhan investasi akan menjadi pemandangan yang semakin banyak dijumpai di banyak negara termasuk Indonesia walaupun penguasa moneter menurunkan suku bunga mendekati nol (zero). Jeruk impor dari China akan semakin manis dirasakan masyarakat Indonesia ketimbang jeruk lokal karena harganya yang jauh murah ketimbang di produksi di Indonesia yang rasanya seperti pahit. Para petani tidak mampu melawan struktur harga yang membentuk harga jeruk agar lebih murah. Para banker tidak mampu mengelola resiko yang sistematis seperti ini karena deposan akan lari begitu NPL (non-performaing loan) yang semakin tinggi. Walaupun Bank Sentral memberikan subsidi bunga ke petani sekalipun, tetap saja, penyakit HIV ini tidak membuat kekebalan petani semakin membaik disebabkan petani tidak sendirian terkena penyakit ini, ada produsen pupuk, produsen bibit, produsen obat hama, penyedia jasa transportasi dan belum termasuk dengan resiko pasar yang mudah berubah. Belum lagi dalam hal pengembangan Infrastruktur, kecuali komponen transportasi hampir sebagian besar dari seluruh komponen yang dibutuhkan untuk mengembangkan infrastruktur tidak perlu impor mulai dari tanah, pasir, besi, semen, buruh, tenaga ahli, atau dengan kata lain bisa diperoleh di Indonesia, tapi kenapa kita menunggu investor asing untuk mengerjakannya ? Bank syariah yang ada di Indonesia tidak lebih hanya sekedar "halalisasi" bank konvensional dengan dominasi akad murabahah di portofolio kreditnya. Padahal kapasitas terpasang nya jauh lebih besar yang bisa dibayangkan oleh bank konvesional kaliber International sekalipun. Pemerintah sejatinya membantu menfasilitas para banker mengembangkan terobosan produk2 yang inovatif terutama di portofolio kredit dan investasinya yang tidak sekedar " one size for all market" tapi dengan model-model keuangan yang disesuaikan dengan pasar masing-masing atau " dynamics size for dynamics market". *). Pengamat Ekonomi Politik Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
