Dari milis tetangga Salam MIK
----- Forwarded Message ---- From: nano sarjono <[email protected]> To: ia gd <[email protected]>; alumni ubv <[email protected]>; dexter <[email protected]>; afni piar <[email protected]>; hasanah dewi <[email protected]>; sania ramdani <[email protected]>; indah porex <[email protected]>; inna advert <[email protected]>; kendria ayu <[email protected]> Sent: Tuesday, April 21, 2009 1:03:48 PM Subject: [iagd] Fw: [girimekarpermai] kartini Kartini Terus terang, apresiasi saya terhadap sosok wanita, semakin hari semakin dalam dan dalam. Bukan sekedar pelengkap hidup. Bukan sekedar belahan jiwa. Bukan juga sebagai pepais - khoirul mata’ - sebaik – baik perhiasan dunia, sebagaimana diterang – terangkan di dalam hadits itu. Respek saya begitu besar, karena memahami dan melihat figur wanita sebagaimana adanya. Ketika melihat Ibu, terbayang betapa besar kasihnya. Bukan sekedar gandangan – li ummika haqqun……, yang membuat brebes - mili itu. Semua orang sepakat: kasih ibu – sepanjang jalan; bagaikan surya menyinari dunia. Tanpa pamrih. Tak terbatas. Tak berbalas. Maka, ketika ada seorang anak mengajukan tuntutan (upah) atas pekerjaan yang dia lakukan; * Untuk memotong rumput minggu ini Rp. 7.500,00 * Untuk membersihkan kamar minggu ini Rp. 5.000,00 * Untuk pergi ke toko menggantikan Mama Rp. 10.000,00 * Untuk menjaga adik waktu Mama belanja Rp. 15.000,00 * Untuk membuang sampah setiap hari Rp. 5.000,00 * Untuk raport yang bagus Rp. 25.000,00 * Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 12.500,00 Total jumlah hutang Rp. 80.000,00 Dengan penuh kelembutan, sang ibu pun membalas; * Untuk sembilan bulan ketika mengandungmu, selama kamu tumbuh dan menginap di dalam perut ibu, GRATIS. * Untuk setiap malam ketika menjagamu, untuk setiap tetes air susu ibu, dan untuk mengobati kamu, GRATIS. * Untuk semua saat kesusahan, kesedihan dan semua air mata yang kamu sebabkan selama ini, GRATIS. * Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut, untuk rasa cemas di waktu yang akan datang, dan selalu mendoakanmu, GRATIS . * Untuk mainan, makanan, baju, dan juga menyeka hidungmu, GRATIS . * Anakku, dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta sejati seorang ibu adalah GRATIS . Adakah yang lebih mulya dari seorang Ibu? Ketika melihat Istri, terbayang betapa besar pengorbanannya. Banyak orang bilang, kerja seorang istri itu dari sebelum matahari terbit sampai mata suami terpejam. Bahkan, ketika matahari sudah tenggelam, hilang dari pandangan, istri masih setia – melek - melayani sang suami. Tersebutlah suatu malam, ruh seorang suami harus bertukar tempat dengan ruh sang istri. Maksudnya agar suami tahu, bagaimana keseharian seorang istri. Maka ruh sang suami yang berada dalam tubuh istri, tiba – tiba dibangunkan ketika jam telah menunjukkan pukul 4 pagi. Padahal perasaan baru saja dia tidur. Dia harus menyiapkan sarapan, membuat susu untuk anaknya dan memasak air untuk mandi. Tibalah adzan shubuh, dia harus membangunkan suami dan anak – anaknya untuk sholat berjamaah. Selesai sholat, menyiapkan baju putra –putrinya untuk sekolah dan baju suaminya untuk berangkat bekerja. Tak lupa juga menyiapkan bekal buat di perjalanan, baik untuk anak dan suaminya agar tidak jajan sembarangan. Baru kemudian sarapan bersama, sebelum melepas mereka semua ke luar rumah. Selesai itu, tidak terus santai. Ritual telah menunggu. Ada mencuci pakaian, mencuci piring, belanja ke pasar, memasak untuk makan siang, menjemur, mengangkat dan menggosok baju, menyapu dan mengepel lantai, membayar tagihan listrik, telepon, membersihkan halaman, nyikat kamar mandi, dll. Serasa habis sudah tenaga, tak ada hentinya. Selesai membersihkan dapur dan toto dahar (menyiapkan makan siang), tak lama kemudian putra – putrinya pulang dari sekolah. Dengan ramah dia sambut buah hatinya dan menanyakan kabar bagaimana sekolahnya. Ketika sang buah hati bercerita, si ibu tekun mendengarkan. Lalu dia harus melayani putra – putrinya, mulai dari makan, ganti baju dan menemani bermain. Tak lupa mengingatkan untuk sholat, jika di sekolah belum sholat. Menjelang sore, mengingatkan anaknya untuk mandi, menyiapkan makan malam dan bersih – bersih sore hari. Kemudian sholat maghrib, mengajari ngaji sampai tiba waktu isya’, sambil menunggu kedatangan suaminya. Rampung isya, baru menyantap kudapan malam. Ternyata, kegiatan istri tanpa jeda. Selesai makan malam dan beres – beres dapur, harus menemani belajar, ngajari dan mengerjakan pr – pr putra - putrinya sambil menunggu suaminya pulang. Rampung memberikan bimbingan kepada buah hatinya, terus mengantar mereka tidur. Kadang perlu dibacakan cerita atau diberi dongeng pengantar tidur, dan itu sudah menunjukkan jam 9.30 malam. Ketika buah hatinya sudah terlelap, tiba – tiba sang suami pulang. Seperti biasa, sang istri membukakan pintu, cium tangan, membawakan tas dan dengan setia menyertai suami sambil mendengarkan ceritanya. Ada keluh - kesah, ada capek. Ada juga yang menggembirakan serta berita sedih. Semua tumpah – ruah dari mulut sang suami. Sang istri mencoba untuk tetap mengerti. Padahal sejak jam 4 pagi dia sudah bekerja. Serasa sudah habis tenaga. Tinggal sisa – sisa. Namun, ada kalanya suami ingin mandi air panas. Ingin diperhatikan. Manja. Habis mandi, makan ingin ditemani. Selesai makan rehat sejenak untuk bercakap – cakap, bertukar informasi tentang kegiatan hari ini. Pas jam 11 malam, suami – istri itu berangkat ke peraduan. Ketika sang suami sudah tidur lelap, maka ruh sang suami yang berada di tubuh sang istri memberontak. Dia tidak sanggup, menjalani itu semua. Terlalu capek dan terlalu berat buat dia. Cukup sehari saja. Nggak lebih. Maka, di penghujung malam itu, ruh suami berdoa agar dikembalikan lagi ke keadaan semula. Tetapi apa jawaban yang dia terima. Terdengarlah suara sebagai jawaban atas doanya itu, “Tidak bisa, kamu harus tetap berada di tubuh istrimu selama 9 bulan lagi. Sebab tadi malam, sehabis amal sholih, Allah mengqodar memberi anak di dalam rahimmu.” Gubrakkkkk…..!!! Adakah yang rela meremehkan seorang istri? Ketika saya melihat seorang putri, maka terbayang perisai surga di hadapanku. Sebab Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang memiliki dua anak perempuan lalu ia berbuat baik pada keduanya kecuali mereka kelak akan memasukkannya ke surga.” (Rowahu Bukhori fi adabil mufrod hadits no 77). Demikian halnya dengan saudara perempuan. Adakah yang lebih indah dari anak dan saudara perempuan? Bahkan, Nabi menyebutkan, berjalan dengan janda seperti jihad fi sabilillah. Aduhai eloknya…! Ketika kita bisa melihat semua dengan apa adanya, maka tak ada yang berbeda. Apakah kita merasa bahwa lelaki itu lebih unggul? Ataukah kita merasa bahwa wanita lebih hebat? Tidak. Kuat itu lemah dan lemah itu kuat. Isi itu kosong dan kosong itu isi. Dalam asad sering kita diingatkan dengan buah jadi kembang dan kembang jadi buah. Dalam permainan suit, gajah kalah sama semut, semut kalah oleh manusia dan manusia kalah sama gajah. Atau versi lain; Samson kalah sama Delilah, Delilah kalah sama macan, dan macan kalah sama Samson. Itulah sunnatullah. Mudah – mudahan, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini kali ini, kita bisa merefleksikan keberadaan kaum wanita dengan sebenar – benarnya. Tidak hanya slogan, namun dalam tataran praktik, seiring ajaran islam sendiri yang memang telah menjunjung tinggi harkat dan martabat wanita. Tidak perlu emansipasi. Sebab keluhuran islam telah menjawab semuanya. Dari Muawiyah bin Jahimah, sesungguhnya Jahimah datang kepada Nabi SAW lalu berkata; ‘Ya Rasulullah SAW, saya ingin berperang, dan sungguh saya datang untuk meminta pendapatmu.” Maka beliau bersabda, “Apakah kamu punya ibu?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, “Tetaplah bersamanya, karena sesungguhnya surga ada di kakinya.” (Rowahu Ibnu Majah dan an-Nasa’i) Dari Abu Huroiroh ra, ia menuturkan, seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak saya perlakukan dengan sebaik – baiknya?’ Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia berkata, ‘Lalu siapa lagi?’ Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia berkata, ‘Lalu siapa lagi?’ Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia berkata, ‘Lalu siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Kemudian Bapakmu.” (Rowahu Bukhory dan Muslim). Raden Ajeng Kartini hanya mengingatkan, merepro, sejalan dengan ajaran luhur itu. Membukakan tabir, agar kita lebih peduli dan mengerti akan peran sentral kaum wanita di sekitar kehidupan kita. Jadi, bukan jamannya lagi berkebaya dan berkonde, mempercantik diri seperti Kartini. Yang paling penting, temukan yang hakiki dari seorang wanita, sebagai wujud pemahaman yang benar akan keberadaanya sesuai kodrat Yang Maha Kuasa. Itulah, maksud emansipasi yang sebenar – benarnya. Selamat Hari Kartini. Jazakumullohu khoiro Herman Gunadi
