Wuih dalem, tapi beberapa BUMN sudah revolusioner cth telkom, pertamina, tapi memang sepertinya PLN belum terdengar nih. Padahal malaysia aja dah mau eksport listrik ke sumatera dengan bahan bakar batubara. And parahnya lagi batubaranya dari kalimantan.....gubrak banget dah......
AriefK Sent from my NerdBerry® freakz smartphone powered by XL -----Original Message----- From: Morry Infra <[email protected]> Date: Sat, 27 Jun 2009 04:11:52 To: 'sma1bks'<[email protected]> Subject: [sma1bks] Fwd: Dik Iman: Harga energi domestik dan Nasionalisme Share permasalahan energi di Indonesia..... ---------- Forwarded message ---------- From: Widjajono Partowidagdo <> Date: 2009/6/27 Subject: [] Dik Iman: Harga energi domestik dan Nasionalisme Dik Iman, Apakah PLN berpikir sehat?. Saya pernah tanya Ir. Ali Herman (EL 72) pada rapat di DESDM pada waktu dia masih jadi Direktur PLN: "Kenapa PLN tidak mau beli panasbumi yang biayanya $ 8c/KWH dan kalau pasokan listrik tidak cukup malah memakai BBM yang biayanya $ 30c/KWH. Kenapa PLN kalau beli gas maunya murah sekali dan mikirnya panjang sekali, tetapi kalau pakai BBM tidak mikir?." Waktu itu harga minyak $120/barel. Selesai rapat dia menemui saya dan bilang: " Kalau saya bukan Direktur PLN saya akan bilang seperti Mas Wid. Sebagai Direktur PLN bagaimana saya tidak memilih BBM karena kalau saya memakai BBM dijamin diganti oleh APBN, sedangkan kalau memakai panasbumi dan gas tidak". Seminggu kemudian dia berhenti dari PLN dan kemudian kerja di Bakrie. Sekarang dia menyuarakan seperti yang saya suarakan karena Bakrie mengusahakan panasbumi. Saya tidak mau bilang PLN tidak sehat. Hanya, menurut saya ada yang tidak sehat di Negeri ini sehingga pesawatnya sering jatuh, bendungannya jebol dan banyak rakyatnya yang miskin. Kenapa?. Jawabnya karena tidak punya uang. Kenapa?. Jawabnya karena harga energi domestik rendah, sehingga Subsidi Harga BBM besar (sehingga menguras uang untuk subsidi langsung dan pemberdayaan orang miskin) dan orang malas usaha energi di Indonesia.. Buktinya?. Cadangan dan produksi Minyak kita turun. Panasbumi dan Bahan Bakar Nabati (BBN) tidak berkembang. Sekarang mau ditambah semua gas untuk domestik, tetapi harga gas dometik rendah. Artinya, untung bisnis gas kecil. Siapa yang mau usaha kalau untungnya kecil?. Apakah kita tidak sadar bahwa kita sudah disusul Malaysia dalam ekspor LNG dan Australia menemukan gas suuaangat banyak. Tidak perlu kita memperburuk iklim investasi migas di Indonesia yang sudah kurang baik ini. Nasionalisme bukan mengharamkan binis atau berbagi gas dengan negara lain ( Kalau gas itu di Jawa atau Sumatera memang prioritasnya harus untuk domestik. Kalau di Daerah terpencil dan laut dalam?). Membesarkan Pertamina dan Medco juga Nasionalisme. Kalau mereka dapat untung lebih banyak dari Donggi-Senoro, dana tersebut bisa digunakan untuk mengembangkan gas dari lapangan kecil dan menengah di Jawa dan Sumatera, CBM di Sumatera dan Kalimantan dan Panasbumi di Jawa dan Sumatera serta untuk usaha migas di Luar Negeri. Untuk Pertamina, buat pengembangan Natuna dan ONWJ (?). Katanya mau meningkatkan Kemampuan Nasional?. Perlu disadari bahwa Kontrak Bagi Hasil adalah Bagi Produksi. Kalau Recoverable Cost 20% Revenue maka Bagian Pemerintah untuk gas adalah 70% dari 80% atau 56% sehingga Kontaktor punya hak 44% produksi. Kalau mewajibkan semua gas untuk Domesik, siap berurusan hukum?. Kenapa tidak sekalian Minyak semua untuk domestik?. Kita mengekspor minyak karena menurut PSC, kalau Recoverable Cost 20% Revenue, Pemerintah dapat 85% dari 80% yaitu 68% sehingga Kontraktor punya hak 32%. Itulah sebabnya kita masih mengekspor minyak sekitar 30% produksi kita (300.000 barel/hari), walaupun mengimpor minyak dan BBM lebih dari 600.000 barel/hari dan akan lebih besar lagi kalau Gas, Panasbumi, BBN dan CBM tidak berkembang . Seharusnya kita lebih mengutamakan Nasionalime yang rasional bukan yang emosional. Salam, Widjajono ------------------------------ *From*: Kemas Mohamad Asphan *Date*: Fri, 26 Jun 2009 03:27:46 -0700 (PDT) *Subject*: Re: [] Stop ekspor gas bumi ! harga gas 7-8 $/MMbtu Seharusnya yang visioner untuk kepentingan Nasionalis, pertanyaannya adalah : Mana yang lebih menguntungkan jual ekspor 7-8 U$,/MMBTU a) Negara dapat duit untuk dibagi-bagikan ke masing2 departemen, atau b) Jual ke Domestik 4-5 U$/MMBTU pemerintah tidak dapat duit dari jual gas, namun dapat memicu/ merangsang untuk meningkatkan industri Nasional ?, dan akhirnya negarapun bisa dapat duit dari : pajak, serta pertumbuhan ekonomi yang lebih mandiri secara Nasional. Jawabnya harus yang b) sebab kita mesti kembali pada konstitusi yang mengatakan bahwa kekayaan hasil sumber daya alam harus dimanfaatkan untuk sebanyak-banyaknya kepada rakyat. kem'82 ------------------------------ *From:* Iman Nurkamal <> *Sent:* Friday, June 26, 2009 2:58:19 AM *Subject:* RE: [] Stop ekspor gas bumi ! & harga gas 7-8 $/MMbtu Dear mas Wid dan ATM, Ini pertanyaan yang menarik, harga gas sebesar 7 – 8 $/MMBTU perlu diperjelas lebih dahulu, *harga gas tsb berdasarkan keekonomian lapangan atau harga pasar*. Jika harga gas tsb merupakan harga pasar berarti harga keekonomian + opportunity (tergantung harga minyak dunia). Harga gas di domestic biasanya berdasarkan harga keekonomian + sedikit margin (atau %eskalasi). Pemerintah mempunyai keputusan dalam menentukan harga gas didomestik dengan mengacu minimum harga keekonomian tanpa mengikuti harga pasar internasional. Saya yakin untuk lapangan gas baru seperti senoro-matindok akan lebih kecil dari 8 $/MMBtu jika dijual di wellhead mungkin bisa 4 – 5 $/MMBTU dan kemudian dibangun pabrik pupuk atau mini LNG plant untuk domestic. Pabrik pupuk Kujang, PIM dan PKT sudah mampu beli harga gas lebih dari 4 $/MMBtu. PGN sekarang sudah menjual ke PLN dengan harga gas 5 – 6 $/MMBtu *Saya yakin jika PLN berpikir sehat dan ada kemauan menghemat BBM, maka harga gas 7 – 8 $/MMBTU masih sangat murah dibandingkan beli solar* Begitu juga dengan lapangan gas blok Mahakam (Total), Natuna D Alpha dan Masela, Pemerintah tinggal ketok palu jika perlu Pertamina yang mengelola lapangan tsb Salam Orlap ------------------------------ *From:* *On Behalf Of *Widjajono Partowidagdo *Sent:* Friday, June 26, 2009 3:50 PM *Subject:* RE: [] Stop ekspor gas bumi ! Pertanyaannya adalah apakah domestik mau beli dengan harga $ 7-8/MMBTU?. Salam, Widjajono PS: Bagaimana pendapat teman2 dari Pertamina dan Medco?. --- Pada *Jum, 26/6/09, Iman Nurkamal <>* menulis: Dari: Iman Nurkamal <> Topik: RE: Stop ekspor gas bumi ! Tanggal: Jumat, 26 Juni, 2009, 7:30 AM Wah debat capres cukup lumayan, rupanya JK cukup lumayan menguasai materi! JK dengan tegas “gas bumi harus dimanfaatkan dalam negeri karena bangsa Indonesia sangat membutuhkan sebagai energi dan feedstock” Calon-calon gas bumi yang akan diekspor: - gas Senoro-Matindok, alasan ekspor tidak jelas? - gas Masela, alasan karena harga gasnya sangat mahal (akibat mahalnya project pengembangan lapangan?) jadi domestik tidak mampu beli ? - gas Natura-D Alpha, alasan karena harga gasnya sangat mahal (akibat mahalnya project pengembangan lapangan?) jadi domestik tidak mampu beli ? - sisa gas Kaltim (blok total mahakam) termasuk laut dalam dll ? Menurut saya, berapapun harga gas di pasar internasional masih dibawah harga minyak mentah karena formula harga gas internasional selalu mengikuti dibawah harga minyak mentah internasional. Sebagai contoh harga minyak mentah ICP sebesar 60/bbl maka harga gas ekivalen (kalori) = 60/6 = 10 $/MMBtu. Formula harga gas yang dipakai biasanya 60 % - 80% ICP. Jika dipakai 80% ICP maka 0.8 x 60 = 48 $/bbl = 48/6 = 8 $/MMBTU. Jadi masih lebih murah 10 - 8 = $2/MMBTU dibandingkan kita beli minyak mentah 10 $/MMBTU belum ditambah ongkos refinary mungkin sekitar 5 – 10 $/bbl dan efek lingkungan. salam Orlap .
