Bahasan ini agak ke teknis-nya orang2 teknik tambang, jadinya agak rikuh
untuk memberikan komentar.

 

Dalam hal ini saya hanya usul, kalau di eropa dan negara lainnya, terdapat
petani listrik. Mereka jual semacam baterai untuk dijual ke PLN-nya sana,
semacam isi ulang. Kenapa kita tidak bisa, karena kita banyak lahan dan
pantai, dimana banyak angin kencang yg bisa diubah menjadi salah satu
alternative energy.

 

Saya baca ii (initial investment)-nya memang tinggi, mencapai IDR 2m untuk
satu paket alat, outputnya brp dan harga jualnya brp, berikut bep-nya kapan,
saya lupa.

 

Mestinya kita siap2 dan berhemat krn minyak/gas kita akan habis, sedangkan
yg membutuhkan energy ini makin banyak. Can the alumni imagine, how big that
chaos?

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
Morry Infra
Sent: Saturday, June 27, 2009 8:12 AM
To: 'sma1bks'
Subject: [sma1bks] Fwd: Dik Iman: Harga energi domestik dan Nasionalisme

 






Share permasalahan energi di Indonesia.....

---------- Forwarded message ----------
From: Widjajono Partowidagdo <>
Date: 2009/6/27
Subject: [] Dik Iman: Harga energi domestik dan Nasionalisme



Dik Iman,

Apakah PLN berpikir sehat?. Saya pernah tanya Ir. Ali Herman (EL 72) pada
rapat di DESDM pada waktu dia masih jadi Direktur PLN: "Kenapa PLN tidak mau
beli panasbumi yang biayanya $ 8c/KWH dan kalau pasokan listrik tidak cukup
malah memakai BBM yang biayanya $ 30c/KWH. Kenapa PLN kalau beli gas maunya
murah sekali dan mikirnya panjang sekali, tetapi kalau pakai BBM tidak
mikir?." Waktu itu harga minyak $120/barel. Selesai rapat dia menemui saya
dan bilang: " Kalau saya bukan Direktur PLN saya akan bilang seperti Mas
Wid. Sebagai Direktur PLN bagaimana saya tidak memilih BBM karena kalau saya
memakai BBM dijamin diganti oleh APBN, sedangkan kalau memakai panasbumi dan
gas tidak". Seminggu kemudian dia berhenti dari PLN dan kemudian kerja di
Bakrie. Sekarang dia menyuarakan seperti yang saya suarakan karena Bakrie
mengusahakan panasbumi.

Saya tidak mau bilang PLN tidak sehat. Hanya, menurut saya ada yang tidak
sehat di Negeri ini sehingga pesawatnya sering jatuh, bendungannya jebol dan
banyak rakyatnya yang miskin. Kenapa?. Jawabnya karena tidak punya uang.
Kenapa?. Jawabnya karena harga energi domestik rendah, sehingga Subsidi
Harga BBM besar (sehingga menguras uang untuk subsidi langsung dan
pemberdayaan orang miskin) dan orang malas usaha energi di Indonesia..
Buktinya?. Cadangan dan produksi Minyak kita turun. Panasbumi dan Bahan
Bakar Nabati (BBN) tidak berkembang.

Sekarang mau ditambah semua gas untuk domestik, tetapi harga gas dometik
rendah. Artinya, untung bisnis gas kecil. Siapa yang mau usaha kalau
untungnya kecil?. Apakah kita tidak sadar bahwa kita sudah disusul Malaysia
dalam ekspor LNG dan Australia menemukan gas suuaangat banyak. Tidak perlu
kita memperburuk iklim investasi migas di Indonesia yang sudah kurang baik
ini.

Nasionalisme bukan mengharamkan binis atau berbagi gas dengan negara lain (
Kalau gas itu di Jawa atau Sumatera memang prioritasnya harus untuk
domestik. Kalau di Daerah terpencil dan laut dalam?). Membesarkan Pertamina
dan Medco juga Nasionalisme. Kalau mereka dapat untung lebih banyak dari
Donggi-Senoro, dana tersebut bisa digunakan untuk mengembangkan gas dari
lapangan kecil dan menengah di Jawa dan Sumatera, CBM di Sumatera dan
Kalimantan dan Panasbumi di Jawa dan Sumatera serta untuk usaha migas di
Luar Negeri. Untuk Pertamina, buat pengembangan Natuna dan ONWJ (?). Katanya
mau meningkatkan Kemampuan Nasional?. 

Perlu disadari bahwa Kontrak Bagi Hasil adalah Bagi Produksi. Kalau
Recoverable Cost 20% Revenue maka Bagian Pemerintah untuk gas adalah 70%
dari 80% atau 56% sehingga Kontaktor punya hak 44% produksi. Kalau
mewajibkan semua gas untuk Domesik, siap berurusan hukum?. Kenapa tidak
sekalian Minyak semua untuk domestik?.
Kita mengekspor minyak karena menurut PSC, kalau Recoverable Cost 20%
Revenue, Pemerintah dapat 85% dari 80% yaitu 68% sehingga Kontraktor punya
hak 32%. Itulah sebabnya kita masih mengekspor minyak sekitar 30% produksi
kita (300.000 barel/hari), walaupun mengimpor minyak dan BBM lebih dari
600.000 barel/hari dan akan lebih besar lagi kalau Gas, Panasbumi, BBN dan
CBM tidak berkembang .

Seharusnya kita lebih mengutamakan Nasionalime yang rasional bukan yang
emosional.

Salam,
Widjajono



 

  _____  

From: Kemas Mohamad Asphan 
Date: Fri, 26 Jun 2009 03:27:46 -0700 (PDT)
Subject: Re: [] Stop ekspor gas bumi ! harga gas 7-8 $/MMbtu

Seharusnya yang visioner untuk kepentingan Nasionalis, pertanyaannya adalah
:

 

Mana yang lebih menguntungkan jual ekspor  7-8 U$,/MMBTU  a) Negara dapat
duit untuk dibagi-bagikan ke masing2 departemen, 

atau b) Jual ke Domestik 4-5 U$/MMBTU pemerintah tidak dapat duit dari

jual gas, namun dapat memicu/ merangsang untuk meningkatkan industri
Nasional ?, dan akhirnya negarapun

bisa dapat duit  dari : pajak, serta pertumbuhan ekonomi yang lebih mandiri
secara Nasional.

 

Jawabnya  harus yang b) sebab kita mesti kembali pada konstitusi  yang
mengatakan bahwa kekayaan hasil sumber daya alam harus dimanfaatkan untuk
sebanyak-banyaknya kepada rakyat.

 

kem'82

 

  _____  

From: Iman Nurkamal <>
Sent: Friday, June 26, 2009 2:58:19 AM
Subject: RE: [] Stop ekspor gas bumi ! & harga gas 7-8 $/MMbtu

Dear mas Wid dan ATM,

 

Ini pertanyaan yang menarik, harga gas sebesar  7 - 8 $/MMBTU perlu
diperjelas lebih dahulu, harga gas tsb berdasarkan keekonomian lapangan atau
harga pasar. Jika harga gas tsb merupakan harga pasar berarti harga
keekonomian + opportunity (tergantung harga minyak dunia). 

Harga gas di domestic biasanya berdasarkan harga keekonomian  + sedikit
margin (atau %eskalasi). Pemerintah mempunyai keputusan dalam menentukan
harga gas didomestik dengan mengacu minimum harga keekonomian tanpa
mengikuti harga pasar internasional. 

Saya yakin untuk lapangan gas baru seperti senoro-matindok akan lebih kecil
dari 8 $/MMBtu jika dijual di wellhead mungkin bisa 4 - 5 $/MMBTU dan
kemudian dibangun pabrik pupuk atau mini LNG plant untuk domestic.

Pabrik pupuk Kujang, PIM dan PKT sudah mampu beli harga gas lebih dari 4
$/MMBtu. PGN sekarang sudah menjual ke PLN dengan harga gas 5 - 6 $/MMBtu

Saya yakin jika PLN berpikir sehat dan ada kemauan menghemat BBM, maka harga
gas  7 - 8 $/MMBTU masih sangat murah dibandingkan beli solar

Begitu juga dengan lapangan gas blok Mahakam (Total), Natuna D Alpha dan
Masela, Pemerintah tinggal ketok palu jika perlu Pertamina yang mengelola
lapangan tsb 

Salam

Orlap

 

  _____  

From: On Behalf Of Widjajono Partowidagdo
Sent: Friday, June 26, 2009 3:50 PM
Subject: RE: [] Stop ekspor gas bumi !

 






 

Pertanyaannya adalah apakah domestik mau beli dengan harga $ 7-8/MMBTU?.

 

Salam,

Widjajono

 

PS: Bagaimana pendapat teman2 dari Pertamina dan Medco?.

--- Pada Jum, 26/6/09, Iman Nurkamal <> menulis:


Dari: Iman Nurkamal <>
Topik: RE: Stop ekspor gas bumi !
Tanggal: Jumat, 26 Juni, 2009, 7:30 AM

Wah debat capres cukup lumayan, rupanya JK cukup lumayan menguasai materi!

JK dengan tegas "gas bumi harus dimanfaatkan dalam negeri karena bangsa
Indonesia sangat membutuhkan sebagai energi dan feedstock"

Calon-calon gas bumi yang akan diekspor:

- gas Senoro-Matindok, alasan ekspor tidak jelas?

- gas Masela, alasan karena harga gasnya sangat mahal (akibat mahalnya
project pengembangan lapangan?) jadi domestik tidak mampu beli ?

- gas Natura-D Alpha, alasan karena harga gasnya sangat mahal (akibat
mahalnya project pengembangan lapangan?) jadi domestik tidak mampu beli ?

- sisa gas Kaltim (blok total mahakam) termasuk laut dalam dll  ?

Menurut saya, berapapun harga gas di pasar internasional masih dibawah harga
minyak mentah karena formula harga gas internasional selalu mengikuti
dibawah harga minyak mentah internasional. Sebagai contoh harga minyak
mentah ICP sebesar 60/bbl maka harga gas ekivalen (kalori) = 60/6 = 10
$/MMBtu. Formula harga gas yang dipakai biasanya 60 % - 80% ICP. Jika
dipakai 80% ICP maka 0.8 x 60 = 48 $/bbl = 48/6 = 8 $/MMBTU. 

Jadi masih lebih murah 10 - 8 = $2/MMBTU dibandingkan kita beli minyak
mentah 10 $/MMBTU belum ditambah ongkos refinary mungkin sekitar 5 - 10
$/bbl dan efek lingkungan. 

    

salam 

Orlap 

 

.

 
<http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=22223258/grpspId=1705127014/msgI
d=13487/stime=1246059061/nc1=1/nc2=2/nc3=3> 

 



Kirim email ke