Hehehe...
rame juga...
sebenernya kalo mo ngembangin ke arah pertanian ato agropolitan.. ato apalah... 
yang sesuai potensi daerah masing-masing ...dan se-mau gw... yah..kita.... 
harus pake duit sendiri... kalo duitnya minjem kaya sekarang alias pake hutang 
ke luar negeri ... ya.. ga bakalan terjadi yang namanya ...cita-cita se-mao gw 
itu...wong orang yang minjemin itu pasti ada maonya... 

contohnya jepang...
berapa milyar YEN dia nanemin modal di Indonesia... tapi 1 YEN pun... ga 
bakalan jadi pabrik juice semangka babelan, koktail timun suri kalengan yang 
cihuy... kenapa begitu??? karena itu tidak sesuai dengan tujuan mereka... 
tujuan mereka kerja sama dengan indonesia ada dua, 1. Jepang punya kepentingan 
atas Gas Alam di Indonesia sebagai bahan-bakar Nomor 2 di dunia setelah 
Minyak...(indonesia gudangnya gas alam bos..) 2. Mereka  memanfaatkan Tenaga 
kerja kita, untuk menjadi Jepang sebagai pembuat otomotif nomor wahid di dunia. 
Selama kita menuruti keinginan mereka ... mereka pasti akan menggelontorkan 
utang berapa pun... dan walaupun negara kita jago korupsi... ga bakal bisa 
lolos dari sistem audit mereka...

Jadi kita memang musti nekat... kalo mo se-mao gw... puterin uang sendiri.... 
kemplang utang luar negeri... ato kaya Korut ... yang menutup akses dari luar 
untuk mandiri... modal nuklir... ngamcem negara tetangga maksa ngasih pinjeman 
pake nuklirnya hihihi...
namun imbasnya rakyatnya kelaparan hehehe... pasti ga ada yang mao... pasti 
lebih banyak yang memilih jadi boneka... dan diobok-obok kaya sekarang... 
industri yang tidak mem-bumi, pengembangan properti yang tidak me-rakyat... 
dll. 

semuanya hanya untuk kpentingan segilintir orang... yang kaya... yang deket 
sama orang yang ngasih pinjeman... ketimbang nekat bilang gw mao mandiri.... 
itulah indonesia...

ga berubah dari jaman soeharto... tetap sama... neo orba... bukan 
neolib...hehehe...

sedih... beneeeerrrr.................................... 

Toby Fittivaldy 
Fis2  '94   


--- On Tue, 6/30/09, komarudin ibnu mikam <[email protected]> wrote:

From: komarudin ibnu mikam <[email protected]>
Subject: Re: Re: [sma1bks] Fwd: Memihak Petani?
To: [email protected]
Date: Tuesday, June 30, 2009, 4:47 PM











    
            
            


      
      Kacau neh si Dicky. Kalo ngomong ceplas ceplos kayak reman babelan. Top 
lah...buat gue Dicky mewakili sisi bandelnya gue.
 
Cuman, gue mau diskusinya jangan dilariin ke arah yang begubed begitu. Kan, 
bisa kita angkat menyangkut fenomena pertanian di negeri ini. Yang lama 
kelamaan kehilangan identitas. Kagak ada strategi kompehensif untuk mendorong 
pertanian menjadi THE BEST.

 
Pepaya Bangkok
Apel Amerika
 
Ubi jalar di Thailand jadi makanan kerajaan. Di sana didorong orang untuk nanem 
ubi. Di sini, orang malu makan ubi. Lebih bergengsi makan kentutki or, mAk Di. 
Padahal semuanya itu ayam dipaksa gede. Yang digedein selama 12 hari.

 
sayur pucung gabus di Bekasi itu jadi makanan nomor wahid. Wah, jangan ngaku 
orang kaya kalu belon makan pucung gabus. Tapi, lihatlah sendiri....bupati Anda 
itu. Kagak ada sedikitpun kebijakan mikro yang menyentuh. Coba kalo mereka 
gunakan otak. Mikir gimana caranya budi daya gabus. Atau, budi daya belut.  

 
Arrtinya, ada kelebihan lah begitu. Makanya Ky,ntar kalo Bekasi Utara 
terbentuk, gue gedor supaya dibangun Kawasan Agropolitan.  Kawasan modern 
metropoolis berbasi pertanian.. Gue munculin lagi tuh betok gombang. Udang 
galah sembilangan. Dan lain-lain... .

 
udah ah......


2009/6/30 Dicky Kurniawan <marcial_riquelme@ yahoo.com>



Tapi ada juga bukan lulusan pertanian malah berdedikasi di bidang 
tanam-menanam. ...
Tapi ada juga (bahkan) gak lulus sekolah tapi minat tinggi pada bidang 
tanam-menanam. ..


Memangnya kenapa kalo lulusan IPB gak kerja di dunia pertanian sesuai 
jurusannya?? ?
Gua lulusan HI pengennya juga jadi diplomat ato kerja di PBB...tapi nyasar jadi 
kulipanggul televisi.... .

Prabowo yang Jenderal aja gak pernah turun sawah jaman dulu tiba-tiba jadi 
ketua HKTI....kapan maculnya tu orang???


 
It's only a transition.. .

Dicky Kurniawan
News Camera Person
NEWS DIVISION
PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
Gd. Trans TV 3rd Fl.
Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A

Jakarta Selatan 12790
+628174964705
marcial_riquelme@ yahoo.com

dicky.kurniawan@ gmail.com
omongkosongku. blogspot. com

answerlieswithin. multiply. com
  

 








From: "arie_iwpoke17@ yahoo.com" <arie_iwpoke17@ yahoo.com>

To: sma1...@yahoogroups .com
Sent: Monday, June 29, 2009 8:56:41 AM

Subject: Re: Re: [sma1bks] Fwd: Memihak Petani?






Maaf pak Yudi. Saya alumni IPB dan sekarang saya bekerja di perusahaan yang 
100% berhubungan dengan pertanian. Hampir 40% pekerja disini berasal dari IPB. 
Meski saya dan teman2 disini belum bisa berdedikasi penuh pada pertanian 
Indonesia. Tapi harapan itu masih ada, langkah yang di ambil memang tidak 
terlalu prestisius dan wahhh. Tapi kami sedang mencoba.


Paradigma bahwa anak muda tidak mau bekerja di ranah pertanian itu mungkin 
memang benar adanya, tapi yang kenyataan yang sebaliknya pun ada. Hanya saja 
mungkin anda belum menemui secuil aktifitas keberadaan kami.


Regards,
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... 
!


From: "Yudi Setiawan" 
Date: Mon, 29 Jun 2009 08:51:38 +0700
To: <sma1...@yahoogroups .com>
Subject: Fw: Re: [sma1bks] Fwd: Memihak Petani?








Hal ini juga dapat dilihat..... .skarang mana Ada lulusan dari IPB yang
Mau bekerja untuk ngurusin masalah pertanian, perikanan atau perkebunan,
Yang Ada mereka kerja dikantor-kantor yang nggak Ada hubungannya
dengan hal tersebut.... .contohnya perbankan... .gimana mau maju pertanian 
Kita?? 
 

-------Original Message----- --
 

From: komarudin ibnu mikam
Date: 6/27/2009 7:36:23 PM
To: sma1...@yahoogroups .com
Subject: Re: [sma1bks] Fwd: Memihak Petani?
 

Ini tema yang menarik. Mengapa petani miskin?

kalau dari pandangan saya, Pemerintah gagal menanamkan ke benak khalayak kalau 
menjadi petani itu pekerjaan bergengsi, popular dan gaul gitu lho....

Tanya anak2 sekarang, pekerjaan apa yang paling diidamkan. Pasti jawabannya 
MENJADI ARTIS!


Saya punya teman, aluMni sma 1. Anak seorang petani malah jadi guru dan usaha 
cetakan. Ada juga anak pengusaha tahu yang kuliah di ui, malah kerja ama jepun.


Artinya, selain pendektan peraturan dan legal formal, perlu juga pendekatan 
kultural.


Pun tetap, da;am konteks ini pendekatan strutur emang amat bermasalah. Misalnya 
kebijakan pemda kabupaten Bekasi, lebih ke industrialisasi. Bukan ke pertanian.

mana mungkin petani bisa kaya?


2009/6/27 Morry Infra <morry.infra@ gmail.com>










Opini Prof. Widjajono Partowidagdo yang lain lagi.... 
Tapi masih sejalan...soal energi... tapi nendang2 hal2 kelakuan aneh orang 
Indonesia....


---------- Forwarded message ----------
From: Widjajono Partowidagdo <>
Date: 2009/6/27
Subject:  Memihak Petani?

Memihak Petani?
Dari jaman dulu juga Petani tidak keluar dari garis kemiskinan karena harga 
pupuk disubsidi (apalagi sebagian pupuk diekspor). Kalau mau mensejahterakan 
Petani berlakukan saja Pajak untuk Lahan Menganggur seperti di Jepang.. 
Akibatnya Orang2 Kaya yang mempunyai lahan di Pedesaan mau tidak mau harus 
memberdayakan lahannya. Kalau yang mengusahakan Orang Kaya maka dia mempunyai 
akses ke Modal, Teknologi, Pasar dan informasi lainnya (paling tidak dia bisa 
mengakses internet). Orang Kaya bisa Kontrak Bagi Hasil dengan Petani, sehingga 
Petani tambah Pintar dan Sejahtera. Di Jepang tidak ada lahan menganggur. Kalau 
tidak untuk bangunan dan industri, ya untuk pertanian, taman dan hutan.

 
Kenapa produktivitas pertanian kita rendah?. Kenapa Petani kita miskin?. 
Jawabnya adalah karena yang mengelola lahan kita adalah Petani yang kurang 
berpendidikan dan tidak mempunyai akses ke Modal, Teknologi, Pasar dan 
Informasi lainnya. Di Amerika Petani Kacang, Jimmy Carter, bisa jadi Presiden. 

 
Kenapa kebanyakan Alumni IPB tidak jadi Petani? Mereka banyak yang kerja di 
Bank, jadi Wakil Rakyat, di Pemerintah dan sebagainya. Kenapa kursi di Fakultas 
Pertanian Unpad kabarnya hanya sepertiga terisi?. Kenapa orang Desa lebih suka 
jadi Pembantu, Kuli Bangunan dan Sopir (Baik di Kota Besar di Indonesia maupun 
di Malaysia dan di Negara2 lain) daripada jadi Petani. Jawabnya karena jadi 
Petani untungnya kecil, bahkan sering rugi. Kenapa? Karena harga Produk 
Pertanian rendah. Di Jepang harga beras 500 Yen per kilo (40 ribu). Di Niko, 
jagung godok 500 Yen. Di Jepang harga produk pertanian domestik lebih mahal 
dari produk impor dan Orang Menengah dan Kaya Jepang tetap beli produk 
domestik. Hanya orang miskin dan orang asing yang beli produk impor. Akibatnya 
Petani senang dan Jepang bisa Swa Sembada beras.

 
Harga produk yang rendah selalu merugikan Produsen dan Investor. Sebaiknya 
harga produk dibuat wajar saja. Bukankah $6,5/MMBTU hanya setara $39/barel 
minyak?. Akibatnya kita bisa mengembangkan gas secara optimal, disamping 
mempunyai dana dari Bagian Pemerintah untuk membangun Infrastruktur, 
meningkatkan Kualitas Informasi Migas untuk daerah2 yang ditawarkan, 
meningkatkan Kemampuan Nasinal, membangun Pabrik Petrokimia dan mengembangkan 
Energi Non Migas termasuk Energi Pedesaan. 

 
Dijamin, kalau harga gas $6,5/MMBTU maka CBM akan berkembang dimana mana. Kalau 
dihargai Rp. 5.500/ liter maka biodiesel dan bioetanol bisa masuk pasar 
sehingga diusahakan orang. Kalau tarif listrik 8c/KWH (bukan $6,5c/KWH) maka 
Panasbumi berkembang dimana mana. Untuk orang miskin tarif listrik tetap 
$6c/KWH, dengan syarat hanya 900 watt dan pemakaiannya hemat. Kalau boros maka 
kelebihannya $8c/KWH (Salahnya, sudah miskin boros lagi...). Bukankah listrik 
ada meternya?. Seorang teman di Singapura bilang: " Orang Kaya di Indonesia 
enak. Harga Energi dan Pangan murah. Bayar Pajak bisa Nego. Urusan dengan 
Pemerintah bisa Cincay."

 
Perlu disadari bahwa "Ekonomi Kerakyatan (Kesejahteraan) " tidak bisa jalan 
begitu saja. Perlu dukungan Peraturan2 serta Moral dan Keseriusan Stakeholders 
(Pemerintah, Pengusaha, Akademisi/ Ulama dan Rakyat). Kalau tidak, maka dia 
hanya merupakan "Dagangan" waktu Pemilu dan "Lebih Mensejahterakan" yang dagang 
sesudahnya.  

 
Salam,
Widjajono



-- 
Komarudin Ibnu Mikam
WTS - Writer Trainer Speaker
komarmikam.multiply .com

0818721014-33113503
karya-karya ;
Novel Intelijen SOA (luxima)
sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
prahara buddenovsky (GIP)
dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)

nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
merit yuk! (qultum media)
rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)



 













-- 
Komarudin Ibnu Mikam
WTS - Writer Trainer Speaker
komarmikam.multiply .com
0818721014-33113503
karya-karya ;
Novel Intelijen SOA (luxima)

sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
prahara buddenovsky (GIP)
dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
merit yuk! (qultum media)

rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)



 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke