Mungkin saya terlambat menulis di e-mail ini. Tapi daripada tidak sama sekali. Saya sebenarnya sudah bisa menebak bakal banyak orang yang marah dengan moment 10.15 itu. Saya pribadi benar-benar minta maaf, karena saya ada dalam tim 10. 15 itu. Sebenarnya kiamat buat pemilu bukan dimulai 10.15, tapi pukul 09.00, ketika sebuah stasiun televisi menyiarkan exit poll yang melanggar kesepakatan bersama. Waktu itu kpu sudah dihubungi, tapi tak juga bereaksi. Lalu, setengah jam berikutnya, giliran tv yang menyiarkan program nyanyi juga mengeluarkan quick count. Kesepakatan hancur. Kita berdebat keras, karena ini taruhannya publik. Akhirnya kita tayangkan dengan alasan menegur otoritas. Berbilang menit, protes deras mengalir, dari mulai warga biasa, otoritas, hingga capres-cawapres. Kami benar-benar terperanjat, karena sebenarnya bukan kami yang pertama atau kedua. Lima menit, langsung kami tarik. Tapi, nasi sudah jadi bubur, apologi apapun yang kami sampaikan, tetap saja kami bersalah, walaupun bukan yang pertama melanggar kesepakatan. Tetapi, terus terang itu murni persaingan media, tidak ada rekayasa politik atau design tertentu dari penguasa. Toby banyak benarnya, televisi memang membentuk pencitraan buat capres-cawapres. Bukannya saya menganggap masyarakat kita bodoh, tapi memang baru sebagian kecil yang berpendidikan tinggi. Sebagian besar rakyat kita masih agraris, tinggal di pedesaan, atau kota dengan pendapatan minimal. Televisi masih jadi dewa buat masyarakat kita. Masyarakat kita memang makin cerdas, tapi belum cukup banyak. Yang biasa akses internet juga cuma di 7 kota besar. Jadi, pencitraan televisi masih dominan, karena masyarakat sulit membeli buku, koran, atau internet karena mahal. Tapi, percayalah Toby, dan rekan-rekan sekalian, kebanyakan orang media tidak suka dengan incumbent. Bukan hanya sekarang, tapi sejak masa Soeharto dulu. Karena memang seperti itu indoktrinasinya sejak mereka calon reporter. Kebanyakan dari mereka memilih golput, seperti Dicky itu (benar gak dick!), yang lainnya non-incumbent. Bukan karena sok jagoan, tapi hanya agar kekuasaan tidak terlalu korup dan absolut. Tanda-tandanya sudah mulai kelihatan satu-dua. Mudah-mudahan sepuluh tahun lagi, bangsa Indonesia makin banyak orang pintarnya, makin banyak yang pakai internet buat diskusi bukan buat pornografi, pendapatannya makin tinggi jadi tak perlu kredit lagi yang memberatkan ekonomi. Makin pintar menyaring informasi, sehingga tidak hanya mengikuti televisi. Saya juga bisa pensiun nulis berita di tv. ------- marwan -------
--- On Sat, 11/7/09, arrysign <[email protected]> wrote: From: arrysign <[email protected]> Subject: [sma1bks] Re: Cerita Negara Boneka (innailahi... part2) To: [email protected] Date: Saturday, 11 July, 2009, 9:02 AM Phi gue tau harapan lu, bisa nyusul gue kerja disini khan... udah kapan lu kesini tar kita photo2 di merlion hehehe.. one world order, tak ada batas negara lagi, yang ada hanya batas ketaqwaan dan nomor rekening, ibarat dunia ini suatu perusahaan, maka posisi2 sudah dibagi2 siapa yg jd CEO, Manager, Staff, and OB. jd bisa dibayangkan apa yg harus dilakukan seorang OB untuk menjadikan dirinya staff atau kalo ga jd karyawan tetap aja... meskipun berkehendak mau jd staff, pas manager bilang jgn dulu deh kamu masih cocok di posisi OB, so kembali lagi si OB diposisinya semula... :D cheerss... --- In sma1...@yahoogroups .com, Renata Pramento <renata_pramento@ ...> wrote: > > Saya mungkin memang tidak sepintar Anda bung, tapi saya setidaknya masih > menaruh harapan untuk bangsa ini, tidak seperti judul Anda bung. > > > --- On Fri, 7/10/09, Toby Fittivaldy <toby.fittivaldy@ ...> wrote: > > From: Toby Fittivaldy <toby.fittivaldy@ ...> > Subject: Re: [sma1bks] Cerita Negara Boneka (innailahi.. . part2) > To: sma1...@yahoogroups .com > Date: Friday, July 10, 2009, 3:47 PM > Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
