Pagi itu si Item dengan santainya terkulai tidur di atas sajadah saya. Saya
berniat segera mengusir agar dia pindah tidur di tempat lain. Tapi melihat
matanya yang rapat terpejam, dan mendengar dengkurannya yang halus, niat itu
saya urungkan, "bukankah Rasulullah juga tidak pernah mengusik binatang yang
tertidur?" suara hati saya yang lain berbicara.
Kembali saya tatap si Item. Saudara satu emak-nya, kemarin pagi menghembuskan
napas terakhirnya. Kucing yang lebih kami sayangi dibanding si Item. Karena
Item lebih bandel dan lebih sering di luar rumah. Tapi apa salahnya dia tidur
di atas sajadah? Mana tau dia kalau itu sajadah tempat shalat? Dan memangnya
sampai kapan si Item bisa hidup, bagaimana kalau besok pagi dia juga mati dan
pagi ini saya mengusik tidurnya dan mengusirnya dari sajadah saya? Bukankah dia
juga makhluk seperti saya, dan memiliki Tuhan, Sang Pencipta yang sama.
Akhirnya saya biarkan Item asyik terlelap di sana, karena siapa tahu ini hari
terakhir si Item, atau.... hari terakhir saya. Bukankah setiap orang ingin hari
terakhirnya menjadi hari yang paling baik dan paling indah sebelum menghadap
Sang Maha Kuasa? Kalau kematian menjemput saya beberapa menit kedepan.. paling
tidak saya telah melakukan yang menurut saya baik. Membiarkan dan tidak
mengusik kucing berbulu hitam yang sedang nyaman tertidur di atas sajadah saya.
Dan kalau ternyata si Item berumur panjang dan saya masih diberi kesempatan
hidup beberapa saat ke depan, bukankah masih terbentang luas kesempatan membuat
hari-hari tersebut menjadi hari yang paling baik dan paling indah?
Hari terakhir sebelum Ramadan, mudah-mudahan menjadi hari terbaik dan
terindah... dan jika kita diberi kesempatan bertemu dengan Ramadan,
mudah-mudahan hari-harinya tidak sia-sia karena siapa tahu Ramadhan besok
menjadi Ramadan terakhir...
Maaf lahir dan batin ya...