Pesantren Assalafiyah Attaqwa 02, Tanjung Air :
Terasi Goreng Dalam Meretas Masa Depan

Siang itu di Kampung Tanjung Air, Desa pantai Hurip, Kec. Babelan Bekasi.
Terik mentari menikam kepala. Panasnya terasa sampai ke sum-sum tulang.
Namun, semuanya tidak dirasakan oleh ….., seorang buruh tani dari Penombo,
Kec. Muara Gembong, Bekasi. Yang ada di batok kepalanya adalah menyeolahkan
anaknya : Halim. Walau uang sepeserpun tidak ada di kantong. “Saya mah
terserah Pak Ustad. Yang penting anak saya nyantren….” Katanya kepada Ustad
Nurhasan .
Ustad Nurhasan gak tega. Meski ia gak tahu harus bagaimana menanggulangi
makan dan kebutuhan Halim, ia tetap menerima Halim menjadi salah satu
santrinya. Ia cuma mengusap wajah. Ia memang belum tahu akan kemana ia
bicara. Namun, dengan bekal keyakinan ia optimis bisa mendidik anak-anak
tidak mampu itu dalam bidang ilmu agama. Untunglah sebagai buruh tani, sang
ayah masih bisa mengrimkan beras. Upahnya sebagai buruh tani. Itu pun
sekarung untuk tiga bahkan sampai empat bulan.
Lalu untuk lauknya, biasanya Halim juga dibekali dengan terasi udang bikinan
sendiri. Terasi itu yang kemudian digoreng. Pake garam yang banyak. Pake
bawang seadanya. Cabai. Jadi se toples., bisa cukup untuk seminggu. Bila
waktu luang. Tidak ada jam pengajian. Ia keluar pesantren memancing ikan.
Sesorean, biasanya ia bisa dapat 2-3 ekor ikan lele, betik atau sepat. Kalau
lagi rejeki ia bisa dapat 4-5 ekor. Dan, itu bisa dijual ke masyarakat.
Lumayan untuk sekadar uang jajan. Dua sampai tiga ribu perak.
Itulah yang diceritakan ustad Nurhasan ke saya. Halim adalah satu dari 39
anak binaan di sana. Dari 39 itu. 12 orang anak yatim. 27 orang dhuafa.
Kalau ngomong jujur, pesantren ini sangat tidak layak untuk dijadikan wadah
pembinaan generasi muda. Tempat tidur tidak ada. Hanya, ruang kelas yang
diisi sekitar 30-40 orang. Soal alas ya seadanya. Buat kakus, para santri
sudah tidak ada alternative. Kecuali ‘helicopter’ di empang belakang.
Ih….jorok banget dah!
Namun demikian, ini pilihan yang masih jauh lebih baik. Daripada mereka di
rumah. Sekolah nggak. Kerja juga gak. Ujung-ujungnya nongkrong gak karuan
jadi preman. Bekasi Utara gitu lho….! Siapa yang gak kenal. Ya, tapi
semuanya konsekwensi logis. Mereka kan tetap butuh makan untuk hidup. “kalau
abang enak sekolah. Bisa cari duit pake otak. Lah kalo saya? Cuman berantem
yang saya bisa. Bini dua. Hayo gimana?” kata Engkar, preman muara waktu saya
tanya kenapa seh bang jadi jawara.
Yah, gitu deh. Ustad Nurhasan cerita seandai ada donator yang mau berbagi.
Cukuplah rp. 5000 perak per satu orang.

5000 x 30 hari = 150.000/orang
Kalau ada 39 orang berarti 39 x 150.000 = 5.850.000/ bulan.

Ini baru kebutuhan dasar. Makan. Belum lagi untuk kebutuhan sarana dan
prasarana. Seperti kebutuhan MCK. Ini kan butuh dana yang tidak sedikit.
Kalau menurut ustad Nurhasan ancar buat bikin tolet itu kira-kira Rp. 8
juta. Untuk 4 titik jongkok plus kolam.
Yah, idealnya seh harus ada perpustakaan dan lab. Praktek.
Oh, iya kalau siang mereka sekolah baik MI Mts atau SMK Attaqwa. Di lokasi
yang sama. Dengan kondisi sama. Tidak dipungut biaya. Dana BOS liumayan lah
buat bayar guru-gurunya.
Apapun. Saya menyaksikan sendiri. Bahwa masih ada mereka yang berjuang
meretas masa depan. Dengan bekal apa adanya. Terasi goren g pun jadi. Ya,
meretas masa depan berbekal terasi goreng.
Pahiiiit….!

Komarudin ibnu mikam
0818721014
Komarmikam.multiply.com

Kirim email ke