Mar gimana planning buat kunjungan tgl 6 Sept besok? kabari gw ya
Jipu
--- In [email protected], Toby Fittivaldy <toby.fittiva...@...> wrote:
>
> ane bingung ...bang... pengen bantu tapi kayanya kemampuan ane terbatas...
> ane bantu doa aje mudah-mudahan ada jalan keluarnya ... dan ada donatur tajir
> yang ga butuh duit invens akhirat di situ... amien....
> Â
> Toby Fittivaldy
> Fis2Â '94 Â
>
>
> --- On Wed, 9/2/09, komarudin ibnu mikam <komaribnumi...@...> wrote:
>
> From: komarudin ibnu mikam <komaribnumi...@...>
> Subject: [sma1bks] Berbkal Terasi Goreng Meretas Masa Depan
> To: "Nenis Ok" <nenis...@...>
> Cc: "Syaifu R. (SR autocare)" <sya...@...>
> Date: Wednesday, September 2, 2009, 3:00 PM
>
>
>
>
>
>
> Â
>
>
>
>
>
> Pesantren Assalafiyah Attaqwa 02, Tanjung Air :
> Terasi Goreng Dalam Meretas Masa Depan
>
> Siang itu di Kampung Tanjung Air, Desa pantai Hurip, Kec. Babelan Bekasi.
> Terik mentari menikam kepala. Panasnya terasa sampai ke sum-sum tulang.
> Namun, semuanya tidak dirasakan oleh â¦.., seorang buruh tani dari Penombo,
> Kec. Muara Gembong, Bekasi. Yang ada di batok kepalanya adalah menyeolahkan
> anaknya : Halim. Walau uang sepeserpun tidak ada di kantong. âSaya mah
> terserah Pak Ustad. Yang penting anak saya nyantrenâ¦.â Katanya kepada
> Ustad Nurhasan .
>
> Ustad Nurhasan gak tega. Meski ia gak tahu harus bagaimana menanggulangi
> makan dan kebutuhan Halim, ia tetap menerima Halim menjadi salah satu
> santrinya. Ia cuma mengusap wajah. Ia memang belum tahu akan kemana ia
> bicara. Namun, dengan bekal keyakinan ia optimis bisa mendidik anak-anak
> tidak mampu itu dalam bidang ilmu agama. Untunglah sebagai buruh tani, sang
> ayah masih bisa mengrimkan beras. Upahnya sebagai buruh tani. Itu pun
> sekarung untuk tiga bahkan sampai empat bulan.Â
>
> Lalu untuk lauknya, biasanya Halim juga dibekali dengan terasi udang bikinan
> sendiri. Terasi itu yang kemudian digoreng. Pake garam yang banyak. Pake
> bawang seadanya. Cabai. Jadi se toples., bisa cukup untuk seminggu. Bila
> waktu luang. Tidak ada jam pengajian. Ia keluar pesantren memancing ikan.
> Sesorean, biasanya ia bisa dapat 2-3 ekor ikan lele, betik atau sepat. Kalau
> lagi rejeki ia bisa dapat 4-5 ekor. Dan, itu bisa dijual ke masyarakat.
> Lumayan untuk sekadar uang jajan. Dua sampai tiga ribu perak.
>
> Itulah yang diceritakan ustad Nurhasan ke saya. Halim adalah satu dari 39
> anak binaan di sana. Dari 39 itu. 12 orang anak yatim. 27 orang dhuafa.
> Kalau ngomong jujur, pesantren ini sangat tidak layak untuk dijadikan wadah
> pembinaan generasi muda. Tempat tidur tidak ada. Hanya, ruang kelas yang
> diisi sekitar 30-40 orang. Soal alas ya seadanya. Buat kakus, para santri
> sudah tidak ada alternative. Kecuali âhelicopterâ di empang belakang.
> Ihâ¦.jorok banget dah!
>
> Namun demikian, ini pilihan yang masih jauh lebih baik. Daripada mereka di
> rumah. Sekolah nggak. Kerja juga gak. Ujung-ujungnya nongkrong gak karuan
> jadi preman. Bekasi Utara gitu lhoâ¦.! Siapa yang gak kenal. Ya, tapi
> semuanya konsekwensi logis. Mereka kan tetap butuh makan untuk hidup.
> âkalau abang enak sekolah. Bisa cari duit pake otak. Lah kalo saya? Cuman
> berantem yang saya bisa. Bini dua. Hayo gimana?â kata Engkar, preman muara
> waktu saya tanya kenapa seh bang jadi jawara.
>
> Yah, gitu deh. Ustad Nurhasan cerita seandai ada donator yang mau berbagi.
> Cukuplah rp. 5000 perak per satu orang.
>
> 5000 x 30 hari = 150.000/orang
> Kalau ada 39 orang berarti 39 x 150.000 = 5.850.000/ bulan.
>
>
> Ini baru kebutuhan dasar. Makan. Belum lagi untuk kebutuhan sarana dan
> prasarana. Seperti kebutuhan MCK. Ini kan butuh dana yang tidak sedikit.
> Kalau menurut ustad Nurhasan ancar buat bikin tolet itu kira-kira Rp. 8 juta.
> Untuk 4 titik jongkok plus kolam.
>
> Yah, idealnya seh harus ada perpustakaan dan lab. Praktek.
> Oh, iya kalau siang mereka sekolah baik MI Mts atau SMK Attaqwa. Di lokasi
> yang sama. Dengan kondisi sama. Tidak dipungut biaya. Dana BOS liumayan lah
> buat bayar guru-gurunya.
>
> Apapun. Saya menyaksikan sendiri. Bahwa masih ada mereka yang berjuang
> meretas masa depan. Dengan bekal apa adanya. Terasi goren g pun jadi. Ya,
> meretas masa depan berbekal terasi goreng.
> Pahiiiitâ¦.!
>
> Komarudin ibnu mikam
>
> 0818721014
> Komarmikam.multiply .com
> Â
> Â Â
>