IDUL FITHRI, HARI
(PURA-PURA) KEMENANGAN
Shaum Ramadhan adalah salah satu pembinaan Islam bagi setiap pribadi yang
menyatakan diri mu’min,
yaitu dengan jalan menahan lapar dan haus serta berbagai dorongan hawa napsu
baik yang dipengaruhi oleh faktor dari dalam (perut, bawah perut, atas perut)
maupun yang dipengaruhi oleh faktor dari luar, mulai sejak Subuh sampai dengan
Maghrib, tidak itu saja malamnya pun harus bertahajud. Sehingga diharapkan
dengan Shaum Ramadhan ini akan terbentuk pribadi-pribadi mu’min yang tangguh,
yang SABAR yakni teguh bertahan dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun
juga, meskipun kondisi yang menegakkan bulu roma sekalipun; ketakutan yang luar
biasa, kekurangan harta benda, bahkan kelaparan sekalipun. Inilah KETAHANAN
NASIONAL!! Bila bangsa ini di “embargo” oleh bangsa lainnya, dia akan menjawab
: “Kami adalah bangsa yang sudah terlatih dengan Shaum Ramadhan, “setengah
piring” tidak akan membuat kami mati!!
Namun kenyataannya pada hari pertama Shaum saja, banyak
“syethan” berkeliaran (katanya syetan diikat??). Dengan tidak malu-malu dan
dengan congkaknya menunjukkan dirinya tidak Shaum, bukan saja dihadapan yang
lain, bahkan dihadapan Allah. Coba bandingkan 10 atau 20 tahun yang lalu,
mereka yang tidak Shaum malu menunjukkan diri kalau dia tidak Shaum, malah
sehabis makan begitu keluar mereka melangkah dengan gontai dan sering meludah.
Begitu pula saat menjelang berbuka, tersedia beraneka ragam
makanan dan minuman tersaji dengan indahnya di meja makan. Ada kolak, pacar
cina, es buah, es kelapa, teh manis, air putih, korma –entah yang mana yang
akan dilahap terlebih dahulu. Pun tersedia beraneka penganan (kue basah),
goreng gorengan sampai makan besar (nasi dan lauk pauknya). Ini Shaum atau
apa?! Pantas kalau ada yang menterjemahkan Shaum dengan PUASA, puas-puasin
rasa!!
Menjelang akhir Shaum Ramadhan, kita lihat terjadi lonjakan
ekonomi yang luar biasa, harga-harga melambung tinggi, terjadi inflasi. Apa ini
bukan untuk memenuhi hawa napsu rumah tangga, dengan satu prinsip “setahun
sekali”?! Oleh karena itu terjadilah
“deficit spending”, turunlah THR sebagai tunjangan langit, kalau tidak turun
mungkin
langit akan runtuh. Dalam kondisi yang demikian beruntunglah mereka yang
mengail di air keruh, yaitu para pedagang, preman pasar, calo terminal dsb.
Itulah
hari kemenangan mereka.
Idul Fithri, hari kemenangan. Siapa yang menang? Kita atau
hawa napsu kita? Berhasilkah kita dengan Shaum Ramadhan mengalahkan hawa napsu
kita? Dan harus diingat, seperti disebutkan pada permulaan, Shaum Ramadhan ini
adalah pembinaan sama dengan baru latihan ketahanan dan kesabaran!! Perang
sesungguhnya adalah sebelas bulan ke
depan, masihkah kita konsumerisme, hedonisme, korupsi, atau masih mengedepankan
hawanapsu? Positipnya; akankah kita berbagi dengan yang lainnya dalam arti
saling menghargai/menghormati, saling memakmurkan, saling kasih sayang, saling
memenuhi harapan, saling menghantarkan mencapai tujuan??. Disini akan
terlihat berhasil atau tidaknya kita dalam Shaum Ramadhan. Kalau tidak maka
Idul Fithri ini adalah Hari (pura-pura) Kemenangan, yach seperti Idul Fithri
tahun-tahun
berlalu, pergi tanpa makna….
Taqabbalallaahu Minna wa Minkum, semoga Allah, atas satu
pilihan ILMU, berkenan mengujudkannya menjadi kehidupan kami dan kalian semua,
Amin Ya Rabbal ‘Aalamiin.
Suaraku bukan suara zaman kini
Suaraku adalah suara zaman kan datang
September akhir, 2009
Mursalin
SMA 1 Bks ’89 (1.1, Bio3)
Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!
http://id.mail.yahoo.com