NCB 04 : Korea Wave
Annyeong haseyo! Anda pecinta drama Korea? Belakangan ini
film-film Hollywood bersaing ketat dengan film-film Asia khususnya Jepang dan
Korea (Ini versi lapak-lapak penjual DVD bajakan lho ya…) Di toko-toko
kaset/CD/DVD asli juga kelihatannya begitu sih. Film Hollywood mulai didisplay
bersama film-film Asia. Bahkan baru-baru ini, bintang Korea di daulat jadi
peran utama film Hollywood, Ninja Asassin (Rain – Jung Ji-Hoon).
Buat yang pernah nonton, sekali dua kali mungkin lama-lama
jadi hapal dengan cerita dan konflik yang diangkat pada drama-drama Korea.
“hampir semua drama Korea yang ditonton lupa sih yang mana.. mirip-mirip
ceritanya.” Komentar teman saya. Memang ada beberapa yang mirip konfliknya.
Tapi menurut saya yang menarik dari drama Korea justru bukan di konflik atau
ceritanya, tapi lebih pada visualisasi tiap adegan yang dibuat oleh sang
sutradara yang sangat sehari-hari , akting pemainnya natural(meski kadang juga
komik sekali-tapi masih mendingan daripada drama Jepang) dan pengambilan
gambarnya bagus (plus romantis J)
Meski belum menyamai Jepang, Korea merangkak untuk bisa
sejajar dengan Jepang. Kalau tahun 90an Asia diramaikan dengan
pusat-pusat kajian Budaya Jepang, maka tahun 2000an ini, gelombang Korea sudah
terasa di mana-mana (yang saya liat sendiri baru di sekitar negara2 Asia
Tenggara sih..). Mereka membuat ‘corner’ dengan slogan “Dynamic Korea”. Di
kampus UI sendiri mereka membuatkan ITTC (Information Technology Training
Center) dengan dilengkapi teknologi paling canggih dari Huawei. Lambang
“Dynamic Korea” dimunculkan dengan stiker mungil di furniture-nya (very
confidence!).
Tahun 90an lalu, orang lebih memilih belajar bahasa Jepang
daripada Korea.
“(bahasa) Korea nggak enak, mulutnya banyak monyongnya…muka
kita jadi jelek…” komentar mahasiswi Fakultas Sastra UI saat itu. Padahal para
native speaker Korea sudah berdatangan. (emang dasar muka kite kagak cakep,
bahasa lah disalahin…hehehe).
Tapi, roda berputar dan tiga tahun ini jurusan Sastra dan
Budaya Korea sudah buka di UI, dan peminatnya cukup banyak. Para calon
mahasiswa yang nggak keterima tes masuk terpaksa belajar Korea lewat
khursus-kursus yang salah satunya dibuka juga di Kampus Ilmu Budaya UI karena
peminatnya mulai banyak.
Tiga dari empat anak guru ngaji saya terkena Korea Wave juga....hehehe.
Bundanya sampe bingung ngeliat anak-anaknya begitu gigih belajar bahasa Korea
dari film dan kaset/CD. "Untungnya mereka sudah fasih mengaji meski gara-gara
belajar Bahasa Korea hafalan surat-surat dari Al-Qur'annya jadi kendor," keluh
Bundanya tidak langsung. Bahkan salah satu dari anaknya sudah tergabung dalam
fans club boyband Korea, SS501, yang namanya Triple S Indonesia. Saya kaget
begitu tahu anak usia SD (adiknya) hafal dengan nama-nama Jung Min, Kyun Jun,
Hyun Joong, Hyung Jun, Young Saeng.... Hhhhh.. (yg nulis ini juga hapal..hihi :p
Sebenarnya tidak hanya bahasa, musik dan film, Korea juga progresif untuk
urusan teknologi, pendidikan, ekonomi dan industri. Dalam beberapa pertemuan
regional (Asia Tenggara), Korea yang nota bene bukan Asia Tenggara, berusaha
ikut terlibat juga (beberapa tahun yang lalu, untuk hal spt ini India-lah yang
paling semangat). Sampai-sampai sebuah panitia pertemuan regional (Asia
Tenggara) harus meninjau ulang keinginan Korea untuk 'bergabung' karena tau-tau
negara ini udah pesan 'kapling' di acara hari H nanti (yeee padahal belum
disetujui, tapi udah pede abis....:p.
Akhirnya, begitulah sepak terjang negara yang dibilang
berkembang paling pesat sejak 3 tahun terakhir dan dijuluki “Morning calm”.
Hmm.. kapan ya bisa berkunjung ke
Korea? – melirik Jeng Okta :D
Happy Monday!
Have a nice day!