Yap hadir, salah satu chinese indooo =D
yg kadang suka nyebelin dgn banyak forward email ini =P

He he he yah masalah dgn etnis tionghoa mirip-mirip lah di mana-mana,
sama dgn masalah dgn etnis lain yg minoritas dan cukup berpengaruh =D

Mirip dgn etnis Yahudi misalnya...sampai-sampai ada julukan Chinese itu
Yahudi Kuning.

Tapi ane kurang senang dan tdk sepaham. Karena separah-parahnya Chinese,
tdk pernah tercatat membunuh Nabi/Tokoh Agama besarnya mereka. Juga
sebenarnya kurang fokus thd issue agama, lebih fokus pd kultur budaya
leluhurnya, makanya ada agama yg sedikit "campur-sari", misalnya
Tri-Dharma. Sedang Yahudi punya fokus besar thd agamanya.

Kembali ke Etnis Yahudi, mereka selalu dianggap biang masalah, pdhal
bisa jadi bukan mereka penyebabnya, hanya stereotype saja utk beberapa
kasus.
Bahkan pengalaman Cie-cie ane tinggal di area Washington, banyak
tetangganya yg etnis Yahudi terpelajar, ramah, santun, taat hukum.

Tapi lain kalau kita membahas Zionisme, memang 100% biang masalah!
(sorry OOT dikit).

Atau etnis tertentu (sorry), misal di beberapa tempat dgn etnis Madura,
atau etnis Padang, atau etnis Batak.



Seperti pepatah klasik Tionghoa, "Semua burung gagak sama hitam di dunia
mana pun", orang Chinese ada yg baik, ada yg bermasalah. etnis lain pun
sama, ada yg baik dan ada yg bermasalah.

Dan masalah timbul karena memang orang tsb bermasalah atau biang
masalah.
Tapi juga banyak masalah timbul hanya karena stereotype.
Bisa jadi juga karena salah paham akibat perbedaan budaya dan
komunikasi.

Cuma di Indonesia, seperti yg rekan-rekan katakan, agak lebih
complicated, karena issue Politik baik yg warisan dari Belanda mau pun
dari rezim-rezim/orde yg pernah berkuasa....plus juga karena KKN atau
simbiosis Ali-Baba.

Ini ane ketahui karena ada peneliti dari chinese-Taiwan yg pernah datang
ke Masjid Lautze Pasar Baru, minta ditemani dan minta tolong bantuan utk
survey dan wawancara.....ia sedang meneliti pengaruh etnis Tionghoa,
Islam dan Mualaf di Indonesia, sekitar tahun 2005 an.

Ia bilang hanya di Indonesia issue rasisme terkait etnis Tionghoa masih
dominan...terutama utk scope area Asia Tenggara, pdhal di daerah lain
sudah menurun atau bahkan nyaris tdk terdengar.

Contoh nyatanya adalah umumnya etnis Tionghoa akan beragama dgn agama
leluhurnya ( Budha, Konghucu, Tao...atau Tri Dharma - yg mirip gabungan
3 agama yg disebut sebelumnya) atau agama mayoritas di tempat ia
berdomisili. Misal di Thailand beragama Budha, di Filiphina beragama
Katholik, di Malaysia ada beberapa negara bagian yg muslim Tionghoanya
cukup signifikan.

Tetapi khusus di Asia Tenggara, terlebih di Indonesia, Muslim Tionghoa
jumlah sedikit. Pdhal di tempat lain cukup signifikan, walau tetap jadi
minoritas dibanding dgn agama leluhur.

Perlu diingat, ada beberapa karakter dominan dan umum, yg hampir ditemui
pd seluruh etnis Tionghoa di mana pun berada, antara lain:
= Ikatan emosi yg tinggi dgn budaya asal, nenek moyang, identitas etnis.
=
= Fokus pd hal-hal yg bersifat mencari kemakmuran baik langsung (bisnis)
mau pun tdk langsung (contoh IPTEK) =
= Tidak mau terlibat dalam banyak konflik, terlebih yg tdk ada kaitan
dgn kemakmuran. Apalagi bila punya memori "kepahitan", cenderung menarik
diri dan mencari aman. =

Kombinasi inilah yg menyebabkan terlihat tertutup, dominan atau bahkan
agresif dlm aspek ekonomi dan yg dianggap menyokong utk kelansungan
ketahanan ekonomi (terlebih di Indonesia, karena ada PP 1950 tsb), dan
terkesan kadang opportunis, pragmatis, atau bahkan kadang terkesan cari
selamat/aman.

Dari sini bisa muncul penilaian atau stereotype positif mau pun negatif.


Perlu dicermati, kalau melihat karakter orang Tionghoa, tdk bisa
digeneralisir, atau hanya melalui pengamatan singkat, karena sangat
tergantung dgn beberapa faktor, seperti:

= Apa sub etnis / suku asalnya? Apakah Hakka (Khe)? Hokkien? Tiociu?
Konghu (Kanton)? Hainan?  dsb. =

Ini mirip dgn issue orang Jawa...jawanya daerah mana? Apa Tegal,
Banyumas, Yogya, Semarang, Surabaya, Banyuwangi? Blak-blakan + ngocol
ala Mendiang Gus Dur (biasanya Jawa Timur), atau sangat tertata
omongannya dan hati-hati ala Jawa Tengah?

Karakternya berbeda-beda, terlebih yg masih totok/kental.

Contoh, orang Khe, umumnya keras, kadang ketus, taat peraturan, fokus pd
pendidikan dan kebudayaan, jarang yg fokus pd bisnis apalagi yg kelas
Kakap.

Tetapi kalau Hokkien, sangat tertarik pd aspek bisnis, pd aspek ekonomi,
terlebih yg totok. Banyak yg jadi pengusaha kelas Kakap. Dari yg benar,
sampai bermasalah. Nama Liem Sioe Liong dkk itu kebanyakan dari etnis
Hokkien.

Kalau Kanton, zaman dahulu kala, sangat fokus pd aspek IPTEK, banyak
tukang yg mahir berasal dari sub etnis ini. Mertua adik ane berasal dari
keturunan Kanton, semuanya insinyur dan bisnis/bekerja di bidang
otomotif serta manufaktur.

= Apa totok, peranakan, kawin campur, bisa berbahasa dialek Tionghoa,
berbudaya Tionghoa?=

Yg Totok akan berbeda dan cenderung menutup diri.
Yg Peranakan, apalagi tdk bisa bahasa atau berbudaya Tionghoa, cenderung
lebih terbuka.
Yg kawin campur, biasanya budaya dan karakternya mixed, tergantung
domisili dan suku yg menikahi/dinikahinya.

Perlu dibedakan antara berbahasa Tionghoa dan berbudaya Tionghoa.
Karena ada populasi yg berbahasa Tionghoa, tetapi kulturnya sangat
Barat. Contoh, di beberapa lokasi di Medan, Padang, Surabaya.
Kebalikannya ada populasi yg tdk berbahasa Tionghoa, tetapi sangat teguh
memegang kultur budaya Tionghoa. Contohnya: Cina Benteng Tangerang dan
Bekasi.


= Domisilinya ada di mana?

Bila di Jawa, Kalimantan, Bangka, cenderung membaur. Selain daerah itu
cenderung agak kurang membaur (walau tdk bisa dipukul rata).
Bahkan bila di Jawa, tingkat asimilasi dan akulturasinya sangat tinggi,
sehingga budaya asal kurang kental.

Bila di luar Jawa, umumnya cenderung lugas, keras, ketus...walau kalau
sudah kenal, asyik juga gaul dgn mereka.
Bila di Jawa, maka cenderung lebih berhati-hati, berbicara tertata ala
Jawa dan Sunda.

Ada beberapa tempat yg dianggap punya stereotype kurang baik karena
faktor lingkungan dan persaingan bisnis, misalnya (maaf) Medan dan
Pontianak, yg dianggap terkenal lihay, tempat pusat Judi atau beberapa
jenis kegiatan kriminal, dsb.  Terlebih Medan, yg merupakan tempat etnis
Batak yg umumnya dianggap keras.

Stereotype ini tdk bisa dianggap valid 100%, karena banyak tokoh agama,
sosial budaya dan pendidikan...intinya orang-orang lurus yg berasal dari
2 daerah ini cukup banyak dan berlimpah. Tetapi memang karakter keras
dan lugasnya, berani berkompetisi serta ambil resikonya sangat terlihat
dari orang-orang di 2 daerah ini. Dan orang umumnya kurang nyaman dgn
karakter tsb, sehingga muncul stereotype negatif.


Itu aja sharing dari ane ttg Chinese Indo, yg mungkin kurang akurat,
karena hanya berdasarkan dari pengalaman dan pengamatan pribadi serta
orang-orang terdekat ane, terutama Papa-Mama ane.

Mohon maaf bila ada yg kurang berkenan.

Best Regards and Wassalam,




Nugon

--- In [email protected], "Dicky Kurniawan" <marcial_rique...@...>
wrote:
>
> Chinesse Indonesia sombong? Pertanyaannya jadi di balik, kita
(pribumi) yang sombong dan justru mengucilkan mereka. Sikap ini datang
sejak Belanda memberlakukan 3 strata penduduk Hindia Belanda: Eropa,
Pribumi, dan Asia. Warga keturunan China masuk ke dalam strata ke tiga,
strata paling bawah, tp diberikan hak sangat istimewa dalam berdagang.
Belakangan, setelah merdeka, mereka semakin di marginalkan melalui PP
no. 10 tahun 1950 (kalo ga salah) yang semakin menempatkan mereka dalam
posisi terkucil secara pergaulan tetapi hak bisnis dan dagangnya semakin
kuat. Akibatnya, timbul kecemburuan antara pribumi dan etnis Tionghoa
karena perbedaan status ekonomi...Etnis Tionghoa jadi menutup diri dalam
kehidupan sosial-politiknya dan membuat mereka terkesan sombong...Inilah
cikal bakal sikap rasialis penduduk asli terhadap etnis Tionghoa di
Indonesia. Ditambah kemudian dengn segenap aturan2 yang menyulitkan
dalam birokrasi dan administrasi bagi etnis Tionghoa. Susi Susanti dan
Alan BK sewaktu dapet medali emas Olimpiade 92 bahkan belum "resmi
benar" jadi WNI, padahal meski nenek moyangnya imigran China, mereka
besar dan lahir di Indonesia dari ayah-ibu ber-KTP Indonesia...Dan
sampai sekarang, PP tersebut belum dicabut, meski Gus Dur waktu jadi
presiden telah membuat gebrakan dengan memperbolehkan perayaan Imlek
secara nasional dan pemeluk agama Kong Hu Cu diakui keberadaannya.
> it's only a transition
>
> Dicky Kurniawan
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry�
>
> -----Original Message-----
> From: "dian" ambar...@...
> Date: Tue, 02 Feb 2010 17:57:23
> To: [email protected]
> Subject: [sma1bks] Re: NCB 04 : Korea Wave
>
>
> Kayak sepatu, baju, buatan Cina bolehlah bersaing,kualitasnya lumayan
dan memang harganya paling terjangkau di eropa..tapi,sempat kecewa juga
pas dibelikan stetoskop oleh suami dari Libya, mereknya Littman
sih,barangnya mirip bgt, dan kardusnya juga sama banget..tapi pas
dipakai, ketauan deh ini mah aspal..buatan cina? ngga tau deh..
> Emang sih muka kita mirip ama Cina, orang kalo lihat mata kita pasti
dah tau orang Asia..Cuma bedanya sih, kenapa "Chinese"-indo agak sombong
ato gimanaaa gitu???..maap ya bukan rasialis..tapi kenyataan di eropa
malah kebanyakan Chinese buka&bekerja di restoran Cina, atau
cleaning-service..
> Memang orang Cina itu baik sebenarnya,kalo kita memperkenalkan diri ke
mereka kalo kita juga dari Asia, wah mereka senang banget tuh...
>
> --- In [email protected], Morry Infra morry.infra@ wrote:
> >
> > He...he..e..e.e
> > Bukan ngebanggain China...
> >
> > Sekedar informasi juga,
> > Kita kok sebel sich sama China?
> > Penyumbang Carbon terbesar?
> > Gimana dengan US dan Eropah yang lebih dulu nyumbang karbon... dan
sekarang
> > minta negara2 lain menghentikannya... woalah... kalau koment benci
China
> > karena itu... artinya kemakan Propaganda US dan Eropah
tuch....he.e..ee.
> >
> > Kenapa negara2 lain mandang sebelah mata dan sebel sama China?
> > Karena Product China sudah mengalahkan semua product2 dari negara
lain... at
> > least dalam kuantitas... Soal kualitas, mungkin sebagian udah
juga... cuma
> > gak pada mau ngaku aja....he.e.e..e..e
> >
> > Kata orang tak kenal maka tak sayang....
> > China dan orang China itu sebenarnya lebih baik dibanding bangsa
Jepang dan
> > Korea...(ini opini saya pribadi setelah bergaul dengan orang2
tersebut)....
> > Cuma pandangan orang Indonesia terhadap taipan Indonesia, Singapore
dan
> > Malaysia... mungkin bikin kita judge... China juga seperti
itu....he.e.e.e.
> > Itu kurang tepat...
> > China mainland... PRC atau RRC... secara penampakan memang sama...
tapi
> > inside their heart... different....
> >
> > So, jangan terlalu benci dengan China dong.... kalau kita masih suka
Korea
> > atau Jepang...
> > karena..... kita kalau ke US dan Eropah, kita  juga disebut
> > Chinese....he.e.e.e.e.
> >
> > Salam,
> > Morry Infra
> >
> > 2010/2/2 Vita mhevita@
> >
> > >
> > >
> > > Hehehe...bener banget, kayaknya ini demam penulisnya..:p soal
Tsunami China
> > > kayaknya itu udah biasa banget ya.. kita liat gimana Cina
menguasai
> > > industri, merk2 terkenal aja ada versi produk Cina-nya :D (soal
ini ibu2
> > > pasti tau: baju, tas, sepatu..) sebenernya kesimpulan Korea Wave
di negara2
> > > ASEAN bukan diambil dari cerita VCD bajakan sampe FSUI. Tapi dari
kunjungan
> > > ke beberapa tempat yang mewakili negara ASEAN.. mereka punya
corner Korea
> > > dengan slogan Dynamic Korea (terus terang paragraf ini saya buang,
makanya
> > > ceritanya jadi ga utuh ya, abis kepanjangan sih). Buat saya itu
luar biasa
> > > krn sebelumnya saya nggak pernah ngeh dengan negara Korea (ngehnya
cuma
> > > China dan Jepang - pengalaman pribadi :).
> > >
> > > ternyata negara itu sekarang sudah jadi negara di Asia Timur yang
> > > diperhitungkan dunia...(selain China dan Jepang tentunya) btw,
thanks
> > > tambahan ceritanya.... yang jelas saya sebal dengan negara China
krn
> > > penyumbang carbon terbesar...hehehe
> > >
> > > salam,
> > > Vita
> > >
>


Kirim email ke