http://groups.yahoo.com/group/smilingheart/message/2243


Chin Nia <nia_...@...> 

nia_dpk 


Belajar Dari Manusia-Manusia Gerobak


 -----Original Message-----
 From: SANKARNO TJANDRA
 Sent: 14 Januari 2010 17:26
 Subject: FW: Belajar Dari Manusia-Manusia Gerobak

 Best Regards,

 Sankarno Tjandra
 Subject: Belajar Dari Manusia-Manusia Gerobak

 Malam itu jam di handphone sudah menunjukkan pukul 23.00
 WIB, sementara
 aku dan istriku masih *on the way* *home*. Butiran gerimis
 kecil mulai
 nampak menghiasi kaca depan mobil kami. Sekitar dua ratus
 meter dari
 tikungan jalan menuju rumah, iring-iringan itupun tampak
 dua kelompok
 "Manusia Gerobak".

 Seorang lelaki berada di depan, menarik gerobak, sementara
 seorang
 perempuan -yang nampaknya istrinya- berjalan di belakang
 mengikutinya.
 Di dalam gerobak, tampaklah dua orang anak kecil tertidur
 lelap
 berselimutkan botol-botol plastik bekas. Sedangkan kelompok
 kedua,
 kelompok yang lain, agak berbeda. Seorang lelaki tetap
 berada di depan,
 sementara seorang anak kecil perempuan duduk di ujung
 gerobak sambil
 bernyanyi-nyanyi kecil, di dalam gerobak, seorang perempuan
 hamil tua
 nampak berbaring, bersama koran-koran bekas. Pemandangan
 yang sangat
 unik. Sangat menyentuh.

 Segera setelah melewati mereka mobil kami sengaja menepi.
 Terdorong oleh
 naluri dan hobby photography, akupun meraih kamera yang
 memang hampir
 selalu menemaniku kemanapun aku pergi dan bergegas
 mengabadikan
 pemandangan tersebut. Dengan angle dan penerangan seadanya,
 gambar
 keduanya berhasil kudapatkan. Tapi sesuatu dihati ini
 berbisik, bahwa
 apa yang kulakukan masih belum cukup. Aku melewati mereka
 kembali untuk
 kedua kalinya, kini setelah berada dalam posisi sejajar,
 istriku
 menurunkan kaca dan memberikan mereka sesuatu.

 (Aku tentunya tidak mau menjadi seorang pemenang Pulitzer,
 namun
 kemudian stress dan mati bunuh diri karena objek fotonya
 yang notabene
 adalah seorang bocah hitam ceking kelaparan, mati
 digerogoti Burung
 Bangkai, hanya karena ia lebih mengutamakan memotret
 ketimbang menolong
 bocah malang tersebut !!!)

 "Terimakasih Eneng cantik !", teriak ibu
 dirombongan pertama hampir
 berbarengan dengan suaminya.

 "Terimakasih tante", teriiak anak kecil
 dirombongan kedua dengan
 sumringah.

 "Semoga banyak rejeki ya..", sapa ibunya yang
 tengah hamil tua, dari
 dalam gerobak, sambil tertawa riang.

 Mendengar dan melihat kecerian mereka membuat aku merasa
 malu seketika
 itu juga. Baru saja kami menghadiri sebuah pentas luar
 biasa gemerlap,
 yang dihadiri oleh Agnes Monica. Dan kami nyaris BT karena
 tidak
 kebagian kursi.

 Kemudian setelah itu, kami menyempatkan diri untuk makan
 malam di sebuah
 Mall yang menyediakan konsep "Makan di Bawah Langit
 Terbuka" di roof top
 mereka, inipun dengan gerutuan karena lamanya pesanan kami
 muncul di
 depan hidung ini, akibat pengunjung yang luar biasa ramai.

 Betapa mudah, kegembiraan dan keceriaan hidup kita
 direnggut oleh
 sesuatu yang sebenarnya "remeh" dan "bukan
 persoalan hidup mati" seperti
 itu. Kita seperti terbiasa, menggolongkan bahwa hal-hal
 "tambahan" itu
 begitu mutlak perlu dalam hidup kita, seakan tanpa itu
 semua hidup kita
 akan berhenti.

 Tidak bisa tidur karena harga saham melorot.

 Marah karena mobil kita masuk bengkel.

 Stress karena gak kebagian ticket premier 2012.

 BT karena hari Senin.

 Uring-uringan karena dimarahin boss.

 Ngedumel karena pesawat delay.

 Bunuh diri di Mall karena putus cinta.

 Dendam karena ide kita diserobot teman kantor.

 Memaki-maki keadaan karena gak jadi liburan ke Hongkong.

 Bertengkar dengan rekan bisnis karena sebuah kesalahpahaman
 biasa.

 Membatalkan umroh hanya karena Dude Herlino batal umroh
 (kallo yang ini
 mah..adegan film..Emak Ingin Naik Haji he..he..)

 Dan lain sebagainya...

 Padahal kalau dipikir-pikir, semua itu "tidak
 sampai" membuat kita demi
 anak istri menarik gerobak kesana-kemari. Atau "tidak
 sampai" menyeret
 kita untuk tidur dalam gerobak berselimutkan sampah-sampah
 yang akan
 dijual.

 Atau bahkan lebih gila dari itu semua : melahirkan dalam
 gerobak !!

 Sepertinya kita perlu mengubah pola pikir kita yang sudah
 sedemikian
 teracuni oleh "gemerlap" kesuksesan, persaingan
 dan keduniawian.

 Menyisihkan waktu untuk sekedar menepi, agar lebih
 bersyukur dengan
 rejeki, pekerjaan dan hidup yang Sang Khaliq berikan kepada
 kita.
 Sehingga "hal-hal tambahan" itu dapat didudukkan
 dalam porsi yang lebih
 rendah atau bahkan jika terlalu membebani kenikmatan hidup,
 dapat
 dibuang saja ke dalam gerobak sampah ! ***

 :BCA:








-- 
Mina
www.wangmeimei.multiply.com



      

Kirim email ke