Ari, teman seperjalanan kami, meminta supir taksi menuju Popular Guest House. Di tempat inilah rencananya kami menginap, dengan catatan kalau ada kamar kosong. Kami agak nekad juga mencari penginapan on the spot begini, nggak ngebooking sebelumnya. Tapi karena di Siem Reap ini banyak tersedia penginapan, so tidak perlu kuatir soal itu. Menurut supir taksi, ada sekitar 200an tempat menginap mulai dari hotel berbintang sampai guest house di Siem Reap. Sepanjang perjalanan menuju kota Siem Reap, supir menunjukkan hotel-hotel mewah beserta rate harganya. Kami hanya tertawa-tawa begitu tahu biaya menginap di hotel berbintang bisa biaya seluruh perjalanan kami ke Angkor..hehehehe. Ongkos taksi dari bandara ke tempat tujuan 7 dolar (dibagi ber-4 :). Sesampai di sana, resepsionis-nya langsung mengenali Ari karena Oktober tahun lalu ia menginap di sini. Kami kemudian ditunjukkan dua kamar di lantai 1. Kamar sederhana, dengan kamar mandi di dalam dan ber-kipas angin saja, cukup 6 dolar semalam (dibagi ber-2 :). Bagi kami, yang penting penginapan ini bersih dan ‘aman’. Pagi itu kami langsung merencanakan kunjungan ke beberapa tempat. Ari mengontak Anc (baca: Ang), supir Tuk-tuk yang dulu pernah membawanya keliling Angkor. Sayang Anc sedang ‘bertugas’, staf Popular merekomendasikan pengganti Anc: Sam. Setelah menyimpan ransel dan koper bawaan masing-masing, kami langsung menemui Sam dan naik Tuk-tuk menuju Floating Village. Oya, Tuk-tuk adalah semacam Bentor (Becak Motor-tapi motornya di depan), memiliki kursi yang saling berhadapan, seperti delman di Yogya hanya saja bukan ditarik oleh kuda tapi oleh motor. Satu Tuk-tuk bisa dinaiki berempat (berenam juga bisa asal orangnya kecil-kecil hehehe). Biaya Tuk-tuk juga murah. Untuk seharian itu, dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore kami membayar 10 dolar (dibagi ber-4 :) Sangat cocok buat para traveler ber-budget terbatas. Sam sendiri memiliki wajah yang Jawa banget, dan pendiam (jika dibandingkan Anc supir Tuk-tuk yang membawa kami esoknya) . Tapi dia sangat gesit dan lancar berbahasa Inggris. Begitu tahu kami ingin ke floating village, Sam langsung memacu Tuk-tuknya kencang-kencang menuju ke sana. Penjalanan ke Floating Village makan waktu sekitar 40 menit lebih kearah Selatan. Belakangan saya baru tahu kalau kami sedang menuju Tonle Sap. Tonle Sap adalah danau terluas se-Asia Tenggara (kirain Danau Toba yang terluas :), dan di sini ada perkampungan terapung yang jadi obyek wisata (di beberapa tempat di Indonesia ada juga yang mirip seperti ini, sayangnya saya belum berkesempatan menengok yang di tanah air). Untuk menuju floating village harus menggunakan perahu motor. Ternyata untuk satu paket wisata ke floating village kena charge 15 dolar per orang. “Aku baca di internet cuma 10 dolar kok… kenapa ini 15 dolar?” Ari berusaha menawar harga. Tapi para petugas itu keukeuh. Sementara kami menimbang-nimbang biaya, rombongan turis lain asyik aja melenggang menuju perahu setelah membeli tiket...:D “Kalo 15 dolar, mendingan kita nggak usah ke sana deh….” Ya kami memang menekan biaya perjalanan ini seminim mungkin. Biaya 15 dolar per orang cukup mahal untuk paket wisata yang katanya ‘hanya’ 1,5-2 jam saja. Kami bermaksud kembali ke Tuk-tuk untuk melanjutkan perjalanan. “Masih banyak tempat yang bisa kita lihat dan nggak semahal ini…” katanya Ari. Sam menghampiri kami dan menanyakan kenapa kami tidak jadi ke Floating Village. Ari menceritakan soal harga tiket yang 15 dolar, lalu Sam menawarkan diri untuk membantu kami memasuki floating village dengan tarif 10 dolar per orang. “Kumpulkan uangnya, Miss.. saya yang akan membelikan tiketnya.” Dan..tak lama Sam kembali sambil membawa 4 tiket… berhasil!!… kami pun akhirnya melenggang menuju perahu. Hihihi…bisa gini yak?? Pas liat tiketnya, tidak tertera biaya 15 atau pun 10 dolar di situ. Huhh..dasar pungli! :) to be continue – Insya Allah :)
