Udeh2
Bubar !!!


~®~

-----Original Message-----
From: "sangbayu" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 6 Sep 2010 05:50:46 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [sma1bks] Re: [Koran-Digital] Berbekal Rp 50.000, Paskibra Kabur

Santai aja mas, gak ada yg perlu dimaafkan kok ....Sebaiknya lain kali kalo 
copas ditambahi keterangan sehingga terjadi kesepahaman makna antara 
komunikator dan komunikan, bukankah seperti yg anda tulis "kebanyakan sumber 
permasalahan adalah cara berkomunikasi"

Salam, 


Sent from my blackberry®
powered by INDOSAT

-----Original Message-----
From: "nugon19" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 06 Sep 2010 05:18:37 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [sma1bks] Re: [Koran-Digital] Berbekal Rp 50.000, Paskibra Kabur

Maaf bila membuat rancu...
tapi jelas tulis yg dicopy tsb adalah komentar dari rsa - Mas Satriyo,
teman ane yg kebetulan juga berkecimpung di bidang jurnalistik.
Dan di bawah komentar tsb, tertulis artikel dari Kompas.
Sekali lagi maaf bila membuat rancu...walau pun saya pribadi dan banyak
teman di beberapa milis, membacanya tdk terkesan rancu...bisa membedakan
dgn jelas mana yg komentar dan mana yg artikel.
Serta memahami dgn baik dan sepakat dgn komentar dari Mas Satriyo yg
merupakan analisa dari pesan yg disampaikan oleh artikel Kompas tsb.
dari Mas Satriyo sendiri, notes pesan tsb dibuat bold, sbb:
Saya malu. Muka saya tampil di televisi, saya diceritakan terus
Jelas televisi bagian dari Pers, dan punya andil dlm hal ini, seperti
blow-up kebanyakan kasus, termasuk kasus Ariel cs.
Sekali lagi mohon maaf kalau justru yg seperti ini membuat Mas Bayu
sendirian rancu.

Wassalam,



Nugon


--- In [email protected], "sangbayu" <bayus...@...> wrote:
>
> Bagian ini lho mas : (saya copas saja )
>
> Sebuah pelajaran moral dan etika buat teman-teman pers, agar tidak
memandang remeh akan harkat dan martabat "sasaran" berita yang selama
ini selalu diperlakukan "tidak manusiawi" ... seolah mereka tidak
mempunyai hidup dan hanya berfungsi sebagai etalase subjek siap untuk
dipanen sebagai bahan berita. Tidak terbayang untuk kasus lainnya yang
jauh lebih tidak manusiawi, spt kasus terorisme. Memang untuk kasus
moral lainnya spt korupsi tentu ada perkecualian, tapi untuk kasus
lainnya terutama saat yang menjadi "objek penderita" alias victim yang
menjadi bahan berita, alangkah baiknya tetap berstatus John Doe atau
Jane Doe, Fulan atau Fulanah, sebagai seringnya media menggunakan
eufimisme "rumah ibadah" untuk menyamarkan gereja atau masjid atau
klenteng dst. Masyarakat memang dewasa dan cerdas, tapi apakah lalu
media berhak dan bisa berlaku tidak dewasa dan bodoh ...? rsa
>
>
> Sebelum diforward ke milis kita, sebaiknya dihapus dulu karena bagian
diatas membuat rancu...saya menganggap berita dari kompas.com adalah
salah satu contoh dari apa yg dimaksud oleh tulisan di
atas......sebaiknya diberi juga keterangan bahwa tulisan di kompas.com
adalah contoh yg baik dimana wartawan tsb sudah melindungi subyek dari
"eksploitasi" sebuah berita......
>
> Ini bukan masalah saya suka atau tidak suka dgn email anda....saran
saya sebaiknya lebih hati2 kalo forward email dari manapun, isi kepala
tiap orang berbeda karena itu saya melakukan cross check kepada anda si
pengirim email ini.....demikian semoga anda paham
>
> Salam,
>
> Sent from my blackberry®
> powered by INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "nugon19" nugo...@...
> Sender: [email protected]
> Date: Mon, 06 Sep 2010 01:42:48
> To: [email protected]
> Reply-To: [email protected]
> Subject: [sma1bks] Re: [Koran-Digital] Berbekal Rp 50.000, Paskibra
Kabur
>
> Bukannya itu kode etik jurnalistik dan amanat serta resiko yg harus
> ditanggung oleh setiap wartawan???Apa yg mendiskreditkan?ane ndak
paham
> maksudnya.
> justru wartawan ini bagus, memberikan pesan moral kpd media massa utk
> mempertimbangkan obyek berita.
> ane sungguh ndak paham dimana mendiskreditkannya...apa yg mas Bayu
> pikirkan memangnya pd saat membacanya???
> email ini ane dapatkan dari rekan yg memang aktif di dunia jurnalistik
> juga.Dan tdk ada issue yg aneh terkait email ini.
> jadi sekali lagi...ane sungguh tdk paham dimana yg dianggap
> mendiskreditkan????
> yah setiap kepala punya pikiran masing-masing.
> in case tdk sepakat, tdk setuju, ambil yg bagusnya saja.kalau ndak
suka,
> yah di delete saja.
> Wassalam,
>
>
>
>
> Nugon
>
> --- In [email protected], "sangbayu" bayusang@ wrote:
> >
> > Kalo begitu sebaiknya pemberitaan tsb tidak usah dimasukkan ke dalam
> email krn saya menganggapnya sbg contoh yg mendeskriditkan subyek :)
> >
> > Bayangkan kalo semua yg baca email sampiyan berpikirnya sama seperti
> saya, kasihan wartawannya (nama wartawan jelas2 tertulis tuh...) yg
> sudah berusaha menulis sesuai kaidah jurnalistik (melindungi identitas
> sumber)
> >
> > Salam,
> >
> > Sent from my blackberry®
> > powered by INDOSAT
> >
> > -----Original Message-----
> > From: "nugon19" nugon19@
> > Sender: [email protected]
> > Date: Sun, 05 Sep 2010 01:36:22
> > To: [email protected]
> > Reply-To: [email protected]
> > Subject: [sma1bks] Re: [Koran-Digital] Berbekal Rp 50.000, Paskibra
> Kabur
> >
> > memang tdk ada di versia pemberitaan ini.
> > --- In [email protected], "sangbayu" bayusang@ wrote:
> > >
> > > Saya baca kok gak ada nama si subyek pemberitaan mas? Hanya ada
> > capaska saja? Atau saya kurang teliti?
> > >
> > >
>

-=-=-=-=-
Sebuah pelajaran moral dan etika buat teman-teman pers, agar tidak
memandang remeh akan harkat dan martabat "sasaran" berita yang selama
ini selalu diperlakukan "tidak manusiawi" ... seolah mereka tidak
mempunyai hidup dan hanya berfungsi sebagai etalase subjek siap untuk
dipanen sebagai bahan berita. Tidak terbayang untuk kasus lainnya yang
jauh lebih tidak manusiawi, spt kasus terorisme. Memang untuk kasus
moral lainnya spt korupsi tentu ada perkecualian, tapi untuk kasus
lainnya terutama saat yang menjadi "objek penderita" alias victim yang
menjadi bahan berita, alangkah baiknya tetap berstatus John Doe atau
Jane Doe, Fulan atau Fulanah, sebagai seringnya media menggunakan
eufimisme "rumah ibadah" untuk menyamarkan gereja atau masjid atau
klenteng dst. Masyarakat memang dewasa dan cerdas, tapi apakah lalu
media berhak dan bisa berlaku tidak dewasa dan bodoh ...? rsa

2010/9/3 Koran Digital <korandigi...@...
<http://groups.yahoo.com/group/warnaislam/post?postID=_ju0zdbY14_9R9a1mc\
lgXKGFTZoSCXly6wWav8-Evgq6EM86gIUzgtNRSiA2eAxrCT-PbhC4680I8Cmmqhw> >
Kasus Pelecehan SeksualBerbekal Rp 50.000, Paskibra KaburLaporan
wartawan KOMPAS.com Laksono Hari WiwohoJumat, 3 September 2010 | 08:49
WIB

JAKARTA, KOMPAS.com â€" Begitu beratnya beban psikologis yang harus
ditanggung oleh calon Paskibra 2010 asal Jakarta yang diduga menjadi
korban pelecehan seksual. Akibatnya, salah satu calon paskibra (capaska)
putri kabur dari rumah tanpa tujuan jelas hanya berbekal uang Rp 50.000.
Ia akhirnya ditemukan di Lampung dan dijemput kembali ke rumah dengan
selamat.
  [cid:[email protected]] Saya malu. Muka saya tampil di
televisi, saya diceritakan terus.
[cid:[email protected]]
Peristiwa itu terjadi sesaat setelah orangtua capaska asal Jakarta Timur
itu pulang dari Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya, Selasa (31/8/2010)
malam, untuk memenuhi panggilan sebagai saksi atas kasus yang sama, yang
dilaporkan oleh orangtua capaska lain. Capaska dari keluarga
berkecukupan tersebut meninggalkan rumah kira-kira pukul 20.30 WIB. Ia
diduga tak kuasa mendengarkan pembicaraan kedua orangtuanya mengenai
kelanjutan kasus pelecehan seksual yang menimpanya.

"Waktu pergi, kami (orangtua) sedang bicara soal kasus itu di kamar.
Sempat ada perdebatan kecil dan ternyata dia mendengar dan tidak nyaman
dengan itu," ungkap ibu capaska tersebut kepada Kompas.com, Kamis
(2/9/2010) jelang tengah malam. "Setelah kami selesai, kami panggil dia.
Ternyata kami cari tidak ada. Hanya ada satu surat dari dia dan dia
bilang, 'Mama, papa, aku pergi untuk introspeksi. Tidak usah dicari',"
tuturnya.

Betapa paniknya keluarga capaska putri tersebut. Selama ini capaska
tersebut tidak pernah keluar rumah sendirian, apalagi tanpa terencana
dan tujuan jelas. "Anaknya lugu. Sampai sekarang belum pernah pacaran,"
kata sang ibu seraya menahan tangis. Orangtuanya panik dan menanyakannya
kepada teman-temannya serta mencarinya hingga ke sekolah.

Sang ibu mengatakan, selama beberapa hari sebelum meninggalkan rumah,
putrinya sempat merasa malu dengan pemberitaan soal dugaan pelecehan
seksual terhadap capaska asal Jakarta. "Saya malu. Muka saya tampil di
televisi, saya diceritakan terus," ujar si ibu menirukan keluhan
putrinya.

Menrut ibunya, ketika pergi, putrinya mengenakan daster dan hanya
membawa bekal uang Rp 50.000. Daster itu kemudian dibuang di depan rumah
dan capaska tersebut mengenakan kaus, celana panjang, dan sepatu sekolah
sambil membawa tas.

"Dia jalan dari rumah ke halte busway yang jaraknya sekitar 1 km. Habis
itu dia naik busway ke terminal Kalideres. Dalam kondisi (pikiran)
kosong, dia naik bus jurusan Merak. Tahu-tahu dia sadar sudah ada di
atas kapal," kata sang ibu yang sangat panik karena putrinya sama sekali
tak mau menjawab panggilan telepon ataupun SMS dari orangtuanya.

Selama kabur, capaska tersebut sempat menumpang truk dari Bakauheni
menuju Way Halim. Ia juga sempat tidur sebentar di sebuah masjid sebelum
berjalan mondar-mandir kebingungan. Ketika akhirnya ia sampai di sekitar
rumah pamannya, ia pun tak langsung menuju rumah pamannya. Ia baru masuk
rumah pamannya ketika sepupunya tak sengaja melihat dan memanggilnya.

"Waktu itu keponakan saya kaget melihat anak saya, terus memanggil anak
saya. Katanya anak saya lusuh, badannya penuh keringat," kisah sang ibu
capaska.

Rabu (1/9/2010) pagi setelah capaska itu ditemukan, ayahnya segera
menjemput ke Lampung. Keduanya baru kembali ke Jakarta pada Rabu malam
dan sampai di rumah kira-kira pukul 10.00 WIB. "Anak murung, tidak ceria
seperti sebelumnya. Saya berharap kasus ini dapat diselesaikan secara
damai dan menyenangkan semua pihak," kata sang ibu.

Hingga saat ini, kasus dugaan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap
capaska 2010 asal Jakarta masih ditangani Polda Metro Jaya. Hari ini
rencananya orangtua salah satu capaska putra akan melaporkan kasus yang
sama ke Polda Metro Jaya.


http://megapolitan.kompas.com/read/2010/09/03/08495178/Berbekal.Rp.50.00\
0..Paskibra.Kabur.-4
<http://megapolitan.kompas.com/read/2010/09/03/08495178/Berbekal.Rp.50.0\
00..Paskibra.Kabur.-4>



--
"One Touch In BOX"

To post : [email protected]
<http://groups.yahoo.com/group/warnaislam/post?postID=it0Y-YK6cZdDIFAat2\
LibN90h31Q_xJSaNLZ6qwPFhEfwcMe33mnuxCHQ_sD04drIdYMJsxszkDM_lri9qJgU_etUn\
iRqc0>
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com
<http://googlegroups.com/>

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius
Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~----------------------\
--------------------------------------
“Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam
deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan
kesopanan.” -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di
belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.



--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest.
N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les
coeurs.
im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können.
>> al-Ra'd [13]: 28


Kirim email ke