dikutip dari Rubrik Dirosat (Kajian Utama) Majalah Tarbawi Edisi 236, Th.
12...sedikit disunting/edit.
........Siapapun yang memandang kehormatan sebagai sesuatu yang penting, maka
dia pasti akan bekerja keras, gigih dan bertekad kuat untuk melakukan yang
terbaik. Karena itu, kehormatan sesungguhnya adala hal yang sangat layak kita
pertaruhkan.
Event Olimpiade di Meksiko tahun 1968, menyisakan sebuah cerita kegigihan yang
menarik untuk kita simak. Ketika itu, peraih medali lomba marathon telah usai
diumumkan. Para penonton pun sudah mulai beranjak meninggalkan stadion. Namun
sesaat kemudian, mereka dikejutkan dengan pengumuman bahwa masih ada pelari
yang akan segera memasuki stadion. Penonton pun kaget, mereka mengira
perlombaan telah selesai. Tak lama, dari kejauhan terlihat seorang pelari masuk
stadion dengan terpincang-pincang. Masih lengkap dengan pakaian larinya serta
nomor di dadanya, tapi hanya bisa berlari-lari kecil karena kaki kanannya
terlukan dan berbalut perban.
Serentak seluruh penonton berdiri dan bertepuk tangan. Stadion kembali
bergemuruh memberikan penghormatan. Mereka menyemangati pelari ini untuk terus
berlari hingga finish. Suara dukungan diteriakkan untuknya. Dan ini membuat
pelari tersebut terus bersemangat hingga kemudian menyentuh garis finish. Dia
berhasil, di saat tidak ada lagi pelari lain yang tersisa. Dia adalah pelarih
terakhir dalam perlombaan itu. Dia finish saat hari telah malam.
Dialah John Stephen Akhwari, pelari dari Tanzania, yang mewakili negaranya
di event itu. Dia cedera karena di tengah perlombaan sempat terjatuh, sehingga
lutut dan betisnya terluka. Akan tetapi, keadaan itu tidak menyurutkan
semangatnya untuk mengakhiri lomba berjarak sepanjang puluhan mil itu. Ketika
ditanya oleh wartawan mengapa ia tidak mengundurkan diri saja, dia menjawab
sederhana tapi penuh makna.
"My country did not send me to Mexico City to start the race. But They sent me
to finish!".(negara saya tidak mengirim saya hanya untuk memulai perlombaan,
tetapi mengirim saya untuk menyelesaikan perlombaan).
Akhwari memang tidak merebut medali perunggu, perak, apalagi emas. Tapi dia
juga pemenang. Bahkan pemenang yang luar biasa. Dia telah membuktikan kepada
dunia apa yang dinamakan kehormatan. Dia adalah contoh bagaimana menyelesaikan
sesuatu yang telah dimulainya. Dia adalah teladan dalam memperjuangkan
kehormatannya.
Dia adalah cermin kesungguhan dan kejujuran dalam berbuat, bagi kita yang
sering kalah setelah memulai, hanya oleh hambatan-hambatan kecil. Dia adalah
contoh pejuang kehormatan untuk bangsanya dan keluarga besarnya. Jika kita jauh
dari keluarga karena menuntut ilmu, maka pelihara kehormatan mereka dengan
belajar yang rajin. Jika kita meninggalkan mereka untuk urusan nafkah, jaga
kehormatan mereka dengan mencari pekerjaan-pekerkaann yang halal dan legal.
Bekerjalah dengan gigih dan jangan mudah menyerah.