---------- Forwarded message ----------
From: Tomi Satryatomo <>
Date: 2010/10/17
Subject: Eduard Fonataba, Bupati di Papua yang Dapat Tiga Penghargaan Muri

Beberapa hari ini saya membaca email-email yang umumnya bernada muram
terhadap Indonesia.

Di bawah ini saya posting cerita tentang Eduard Fotanaba, Bupati Sami,
kabupaten yang baru dibentuk di Papua.

Fotanaba memperoleh penghargaan karena membangun rumah terbanyak bagi
rakyatnya, membeli truk bagi mereka dan paling sedikit melakukan kunjungan
ke luar daerah.

"Untuk menjalankan amanat rakyat itu, waktunya terbatas. Saya sadar, tidak
semua orang mendapatkan kesempatan menjadi pemimpin. Karena itu, waktu yang
ada saya gunakan untuk berbuat yang terbaik bagi rakyat," tuturnya.

Dulu kita pernah mendengar tentang walikota Joko Wi yang berhasil membuat
Solo menjadi kota yang bersih dan nyaman. Ia populer karena berhasil membuat
para pedagang kaki lima pindah ke lokasi yang disiapkan Pemda dengan
sukarela. Caranya? Sarapan pagi bersama mereka selama berbulan-bulan. Tadi
pagi saya lihat komentar Wanda Hamidah, anggota DPRD PAN Jakarta, via
twitter yang memuji kesederhanaan Joko Wi dan wakilnya, padahal Joko maju
dengan dukungan PDIP.

Saya hanya ingin menunjukkan bahwa banyak hal yang masih bisa dikerjakan di
Indonesia.

Hidup masih cerah di sana.

Salam semangat,
-- 
Tomi Satryatomo
skype: tomi.satryatomo

http://wisat.smugmug.com
http://www.trekearth.com/members/wisat/photos/
http://www.jpgmag.com/people/wisat

"We shall build good ship here,
at a profit if we can,
at a loss if we must,
but... always a good ship."

sumber:
http://www.jpnn.com/index.php/jpnn_network.php?mib=berita.detail&id=71354

Eduard Fonataba, Bupati di Papua yang Dapat Tiga Penghargaan Muri
Awalnya Trenyuh Melihat Rakyat Berjalan Kaki 7
Kilometer<http://www.jpnn.com/index.php/jpnn_network.php?mib=berita.detail&id=71354#>

 Bupati Sarmi Eduard Fonataba. Foto : Mahfud R/Cendrawasih Pos/JPNN
Tiga penghargaan sekaligus dari Muri (Museum Rekor Dunia Indonesia)
diperoleh Bupati Sarmi, Papua, Eduard Fonataba. Pertimbangan pertama Muri,
Fonataba dianggap membangun rumah paling banyak untuk rakyat. Kedua, dia
membeli truk paling banyak untuk rakyat. Ketiga, dia melakukan kunjungan
kerja paling sedikit ke luar daerah.

MAHFUD ROHMAN, Jayapura

KETIKA diberi ucapan selamat atas penghargaan yang diterima Sabtu lalu
(28/8), Fonataba berekspresi biasa-biasa saja. Dia tak menganggap istimewa
penghargaan tersebut. "Sebab, yang saya lakukan adalah kewajiban seorang
pemimpin daerah," kata pria kelahiran 6 Oktober 1951 tersebut.

"Untuk menjalankan amanat rakyat itu, waktunya terbatas. Saya sadar, tidak
semua orang mendapatkan kesempatan menjadi pemimpin. Karena itu, waktu yang
ada saya gunakan untuk berbuat yang terbaik bagi rakyat," tuturnya.

Fonataba mulai memimpin Kabupaten Sarmi pada 2005. Nama Sarmi diambil dari
huruf depan suku-suku di sana, yakni Sobe, Airmati, Rumbuway, Manirem, dan
Isirawa. Sarmi adalah kabupaten baru di Papua, hasil pemekaran Kabupaten
Jayapura pada 2003. Mulai 2003-2005, Fonataba menjadi penjabat bupati. Baru
pada 2005, dia secara resmi menjadi bupati.

Jadi, bapak empat anak tersebut adalah bupati pertama di kabupaten tersebut.
Awal-awal menjadi kabupaten baru, kondisi Sarmi masih sangat memprihatinkan.
Dari Kota Jayapura menuju Sarmi, saat itu belum ada jalan darat. Jadi, kalau
hendak pergi ke Sarmi, seseorang harus menggunakan pesawat udara atau kapal
laut.

Namun, kini Sarmi sudah berkembang. Perjalanan dari Kota Jayapura menuju
Sarmi sudah bisa ditempuh lewat jalur darat. Waktu tempuhnya 6-7 jam.
Fonataba menceritakan pengalamannya ketika dipercaya sebagai penjabat bupati
Sarmi pada 2003. Kala itu, 330 di antara 365 hari dalam satu tahun selalu
dia habiskan di tempat tugas.

"Sebagai daerah baru, kalau pemimpin tidak ada di tempat, sangat sulit
membangun kepercayaan rakyat. Dengan selalu berada di tempat, bila ada
masalah, pemimpin bisa langsung memecahkannya," kata lulusan magister
manajemen Universitas Hasanuddin pada 2002 itu.

Ketika ditanya soal gagasan pembangunan rumah untuk rakyat tersebut,
Fonataba menjelaskan bahwa ide tersebut sebenarnya datang dari istrinya,
Amelia Waromi. "Dia (sang istri) selalu setia mendampingi saya berkeliling
dari satu desa ke desa lain," papar dia.

Suatu ketika, Fonataba bersama istrinya melewati Kali Waskei di Kampung
Bagaserwar. Saat itu malam, sekitar pukul 19.30 waktu setempat. "Kami
melihat warga kampung itu pulang dari kebun yang jaraknya sekitar 7
kilometer dengan berjalan kaki," paparnya. Ketika itulah istri Fonataba
mengusulkan pembangunan rumah di dekat kebun warga tersebut. "Sejak saat
itu, mulai 2006 dianggarkan pembangunan rumah rakyat bertipe 36 sebanyak
seratus unit," papar dia.

Sebanyak 50 rumah dibangun di Kampung Bagarserwar dan 50 unit lagi didirikan
di Kampung Kasukue. Rumah-rumah tersebut dibangun di atas tanah adat
masyarakat setempat. Yang menentukan lokasi pembangunan rumah itu adalah
ondoafi (tokoh adat) dan kepala kampung. Dengan begitu, diharapkan tidak ada
masalah di kemudian hari.

Diceritakan, setiap rumah itu diberi dua tempat tidur, lampu solar cell, dan
sumur. "Setelah rumah jadi, kami melihat anak-anak belajar di rumah
masing-masing di bawah cahaya lampu dari solar cell tersebut. Sungguh kami
terharu saat itu. Sebab, di tengah hutan yang sebelumnya gelap, kini mereka
mulai merasakan sedikit kemajuan," tutur penerima penghargaan Satyalancana
Pembangunan pada 2009 tersebut.

Dari situlah, pada 2007 dianggarkan lagi pembangunan 600 lebih rumah rakyat.
Kemudian, pada 2008 juga dibangun 600 unit lebih rumah itu. Akhirnya, pada
2010 telah dibangun 2.499 rumah rakyat. "Untuk satu kali tahun anggaran,
biaya (pembangunan rumah rakyat) sekitar Rp 80 miliar dari dana alokasi umum
(DAU). Untuk satu unit rumah, dianggarkan Rp 120 juta. Ada pula yang Rp 140
juta, bergantung tingkat kesulitan daerah. Namun, sekarang transportasi
darat sudah lancar sehingga anggaran rata-rata untuk per unit rumah Rp 100
juta," terang alumnus IIP (Institut Ilmu Pemerintahan) pada 1987 tersebut.

Rumah-rumah itu dibangun di pinggir jalan. Tujuannya, rakyat mudah mengakses
alat transportasi untuk memasarkan hasil kebun. Jarak rumah yang satu dengan
lainnya 100 meter. Halaman rumah digunakan untuk menanam bunga. Tanah di
samping kanan atau kiri rumah dimanfaatkan untuk menanam ubi-ubian dan
sayuran. Selain itu, lahan di belakang rumah digunakan untuk berkebun.

Setelah masyarakat mempunyai rumah dan kebun yang sudah menghasilkan, harus
ada alat transportasi untuk memasarkan hasil kebun tersebut. Karena itu,
harus ada truk. "Kami mulai mengadakan program bantuan truk ke
kampung-kampung pada 2007. Kemudian, menyusul pengadaan truk pada 2008,
2009, dan 2010. Karena itu, sekarang telah ada 48 truk," jelas dia.

Pada dua tahun pertama, pemda masih memberikan bantuan untuk perawatan truk
itu. Namun, pada tahun ketiga, pemerintahan di daerah tersebut sudah
berjalan sendiri.Tiga hari truk-truk tersebut digunakan untuk memasarkan
hasil kebun ke Kota Sarmi maupun Jayapura. Kemudian, tiga hari sisanya, truk
dimanfaatkan untuk mencari uang. Dengan begitu, masyarakat bisa membeli
solar, membayar sopir, maupun membiayai perawatan truk. "Memang berat.
Tetapi, sekarang sudah ada tiga kampung yang mampu beli truk lagi," ungkap
dia.

Di wilayah Sarmi, awalnya ada 58 kampung. Kemudian, ada pemekaran sehingga
menjadi 86 kampung. Yang mendapatkan bantuan truk itu adalah kampung-kampung
induk. Soal penghargaan ketiga dari Muri karena termasuk pejabat yang
melakukan kunjungan kerja paling sedikit ke daerah, dia menganggapnya biasa
saja. Selama lima tahun menjadi bupati, dia mengatakan hanya empat kali
melaksanakan kunjungan dinas ke luar daerah. Seluruh tujuan kunjungan itu
adalah Jakarta. "Bahkan, dua tahun saya tidak pergi ke Jakarta, yaitu 2008
dan 2010," tegas penerima penghargaan Satyalancana Karya Bhakti Praja
Nugraha pada 2010 tersebut.

Itu tentu sangat berbeda dengan bupati-bupati lain di Papua, yang sangat
sering pergi ke Jakarta. Bahkan, di antara mereka, ada bupati yang selalu
menghabiskan weekend di Jakarta. Seringnya, para bupati tersebut pergi ke
Jakarta dengan alasan melobi pemerintah pusat.

Mengapa tidak melobi pemerintah pusat seperti bupati lain? Dengan tegas,
Fonataba menyatakan, sekarang lobi tidak diperlukan lagi. Sebab, aturan
sudah jelas. "DAU dan DAK (dana alokasi khusus) sudah jelas. Jadi, tidak ada
begitu-begitu lagi. Dulu, boleh begitu. Tapi, sekarang mereka (pemerintah
pusat) melihat hasil kerja kami. Kalau kami kerja baik dan laporan dikirim
secara rutin, DAU dan DAK pasti ditetapkan. Jadi, untuk apa sebenarnya ke
Jakarta" ucap dia. "Kalau semua bupati datang, lalu dikasih arahan, itu kan
hanya bersifat seremonial. Lebih baik melihat kesulitan rakyat," imbuh dia.

Tiga penghargaan dari Muri tersebut dia persembahkan kepada semua masyarakat
Sarmi. (c11/kum)

Kirim email ke