http://groups.yahoo.com/group/warnaislam/message/9931
  saya ngga bilang sultan itu pemimpin sempurna. dia bukan satrio piningit yang 
"katanya" akan datang itu, dan jelas jelas bukanlah imam mahdi.tapi terlepas 
dari kekurangannya (termasuk kekurangan lain yang tidak dibahas di sini karena 
memang saya tidak tahu), coba bacalah kutipan ini
"Mananya yang monarkis dari kepemimpinan yang ditunjukkan HB IX yang rela 
menghentikan mobilnya bagi seorang wanita pedagang beras pasar Kranggan, 
membantunya menaikturunkan barang dagangan, mengantarnya, dan dimarahi sang 
pedagang karena dianggap minta bayaran lebih dari satu perak ketika Sultan 
menolak pemberian itu?" "Mana yang monarkis dari Sultan yang biasa mengendarai 
sendiri mobilnya, tanpa pengawal, hingga ia ditilang polisi di Cirebon dalam 
perjalanan Yogya-Jakarta, hanya karena ia bertelanjang dada akibat udara panas? 
Pemimpin dengan singgasana sesungguhnya tidak di kemegahan istana, tapi di 
kerendahan jiwa publik yang mendukung dan harus ia bela. Dengan semua yang 
dimilikinya."
dan beberapa paragraf sebelumnyadan kita akan mendapatkan jawaban mengapa 
rakyat Yogya begitu mencintai sultannya, 
dan mengapa mereka tersinggung saat posisi sultan --tak memandang sultan yang 
ke berapa-- digoyang oleh pemerintah NKRI -- sebuah pemerintahan yang tidak 
akan pernah ada tanpa wilayah dan rakyat yang diserahkan dengan sukarela oleh 
Sultan HB IX (alm) yang memicu kerelaan para pemimpin kerajaan/daerah lain 
menyerahkan wilayah dan rakyatnya ke dalam sebuah negara kesatuan republik 
indonesia. sebab tanpa wilayah dan tanpa rakyat, proklamasi 17 agustus 1945 
hanyalah sebuah pengumuman tanpa makna. kalau hanya pengakuan sepihak tanpa 
wilayah dan rakyat, mana mungkin ada pengakuan kedaulatan dari negara lain, 
sehingga sah lah sudah negara kita ini berdiri ?
bahwa kemudan goyangan itu ternyata hanya pelintiran.. yaah semoga saja memang 
begitu.
BR, ari.amswarga batam, hanya numpang lahir di yogya

artikel asli  
http://cetak.kompas.com/read/2010/12/03/03131964/di.mana.monarki.itu

Di Mana Monarki Itu?Jumat, 3 Desember 2010 | 03:13 WIBRadhar Panca 
DahanaKeistimewaan Yogyakarta adalah fakta dan keniscayaan yang terbukti sejak 
ratusan tahun sebelum republik ini berdiri.Wilayah itu diakui sebagai kerajaan 
vassal (dependent state) atau negara-bagian dengan otonomi tersendiri sejak 
masa VOC, Hindia Perancis, Hindia Belanda, hingga pemerintahan tentara 
pendudukan Jepang. Dekrit yang dikeluarkan Hamengku Buwono (HB) IX dan Paku 
Alam (PA) VIII lewat amanat 5 September 1945, yang mengintegrasikan kerajaan 
mereka di bawah kepemimpinan republik baru—yang mereka sendiri tak begitu 
mengenal tokoh- tokohnya—adalah sebuah keistimewaan sejarah yang tanpa preseden 
dan memiliki risiko politik serta militer tak remeh kala itu.Dekrit itu seperti 
sebuah pembalikan sejarah dari kesultanan sendiri, yang 200 tahun sebelumnya 
justru memisahkan diri dari induknya, Mataram Solo. Maka, mungkin lebih dari 
sebuah kepantasan jika kemudian pemerintah nasional
 baru menempatkan keistimewaan wilayah itu dalam UU No 12/1948 yang pasal 5-nya 
menegaskan, ”Kepala Daerah Istimewa diangkat oleh Presiden dari keturunan 
keluarga yang berkuasa di daerah itu di zaman sebelum Republik Indonesia dan 
yang masih menguasai daerahnya, dengan syarat-syarat kecakapan, kejujuran, dan 
kesetiaan, dan dengan mengingat adat istiadat di daerah itu”.Lalu UU No 3/1950 
menebalkan posisi itu dengan pernyataan konstitusional tentang DIY bukanlah 
sebuah monarki (konstitusional) dan ia adalah sebuah daerah istimewa setingkat 
provinsi, bukan provinsi, di mana hukum dan politiknya berbeda terutama dalam 
hal kepala daerah serta wakil kepala daerah.Keistimewaan demokratisYang lebih 
penting dari fakta historik-politik adalah kenyataan sikap dan integritas 
pemimpin kesultanan Yogyakarta sendiri yang sejak dini dengan sadar menempatkan 
diri dalam sebuah aturan ketatanegaraan baru (modern). Bukankah inisiatif dari 
HB IX sendiri yang menyerahkan
 kekuatan legislatifnya kepada Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah 
Yogya, 29 Oktober 1945? Bukankah atas inisiatif Sultan—karena kekacauan dan 
tumpang tindih birokrasi pemerintahannya kala itu—yang mereduksi kekuasaan 
eksekutif mutlaknya ke dalam lembaga collegial bestuur yang terdiri atas banyak 
komponen kepemimpinan?Kenegarawanan yang demokratis Sultan saat itu telah 
membiarkan dirinya berdiri dan duduk setara tak hanya dengan kepala keresidenan 
(PA VIII), tetapi juga dengan pejabat kiriman pemerintah pusat, bahkan dengan 
tiga bupati yang tidak lain adalah bagian dari kawulanya.Tentu terasa 
menggelikan—dan tentu menghibur pikiran karikatural kita—jika ada pemimpin baru 
yang menafikan keistimewaan jiwa besar di balik sikap demokratis 
ini.Keistimewaan yang bukan hanya memberi keanggunan dan respek tersendiri 
dalam sejarah politik (demokrasi) di negeri ini, tetapi juga dalam banyak hal 
menentukan berlangsung atau berdiri tidaknya
 republik ini sejak kemerdekaannya diproklamasikan.Seperti Aceh yang begitu 
istimewa karena sumbangan jiwa dan material, emas rakyat yang antara lain 
dipakai untuk membeli pesawat negara Seulawah, Yogya pun tidak hanya 
memfasilitasi seluruh kebutuhan ibu kota pengasingan dari republik yang 
terusir, mengambil risiko tinggi keamanan rakyatnya, mengeluarkan tak kurang 5 
juta gulden dari simpanan keraton.Saat Mohammad Hatta bertanya apakah republik 
harus membayar utang itu, Sultan tak berkata apa-apa dan tak menagihnya, hingga 
ia tutup mata, hingga kekuasaan diwarisi anaknya. Politik nasional yang 
kemudian berkembang bukan hanya jadi reduksi atau penggerogotan sistematik dari 
keluhuran dan kearifan politik di atas, tetapi juga jadi semacam kealpaan 
historik yang membuat politik nasional tamak dan bebal dalam apresiasi 
batinnya.Ia terasa sistematik lantaran hal itu terjadi berulang kali, sejak 
Soeharto mendirikan tetenger (tanda) dari Serangan Oemoem 1 Maret
 1949, di mana ia menempatkan diri sebagai tokoh utama, menafikan peran Sultan 
yang justru jadi penggagas, pemberi perintah dan fasilitator dari serangan 
bersejarah itu.Kenegarawanan lokalnya terasa melampaui kepemimpinan nasional 
saat ia tak mencegah pendirian tetenger itu, dan hanya menukas pendek, ”Biarlah 
jika ia menginginkan begitu”, saat Arifin C Noer, sutradara film Janur Kuning, 
memintanya mau menerima adegan di mana Soeharto duduk di kursi berlengan dua 
bersamanya. Faktanya, hanya Sultan yang duduk di kursi berlengan dua, dan 
Soeharto di bangku tanpa lengan.Mananya yang monarkis dari kepemimpinan yang 
ditunjukkan HB IX yang rela menghentikan mobilnya bagi seorang wanita pedagang 
beras pasar Kranggan, membantunya menaikturunkan barang dagangan, mengantarnya, 
dan dimarahi sang pedagang karena dianggap minta bayaran lebih dari satu perak 
ketika Sultan menolak pemberian itu?Mana yang monarkis dari Sultan yang biasa 
mengendarai sendiri mobilnya,
 tanpa pengawal, hingga ia ditilang polisi di Cirebon dalam perjalanan 
Yogya-Jakarta, hanya karena ia bertelanjang dada akibat udara panas? Pemimpin 
dengan singgasana sesungguhnya tidak di kemegahan istana, tapi di kerendahan 
jiwa publik yang mendukung dan harus ia bela. Dengan semua yang 
dimilikinya.Radhar Panca Dahana Budayawan
-- 
-----
gmailer save trees, please do not print this email unless it is necessary..



-- 
-----
gmailer save trees, please do not print this email unless it is necessary..



      

Kirim email ke