Sudah pernah ke WAKATOBI?
http://oase.kompas.com/read/2010/11/28/11433818/Keren.dengan.Barang.Rombengan-4 *Gaya Hidup* Keren dengan "Barang Rombengan" Minggu, 28 November 2010 | 11:43 WIB KOMPAS/BUDI SUWARNA Seorang ibu sedang memilih pakaian RB (rombengan) yang banyak dijual di Pasar Sentral Wangi-wangi, Wakatobi, Kamis (2/11/2010). Bisnis barang bekas asal Singapura, Batam, atau Malaysia menjadi salah satu penopang ekonomi Wangi-wangi. *TERKAIT:* - Balada Pengembara Wakatobi <http://oase.kompas.com/read/2010/11/28/0617233/Balada.Pengembara.Wakatobi.> *Budi Suwarna* *KOMPAS.com* - Uni (23) adalah gambaran anak muda Wakatobi masa kini. Rambutnya di-”highlight”, tubuhnya dibalut kaus ketat. Gaya hidup kota rupanya menyeruak begitu rupa di tengah kepulauan yang penduduknya semula hanya akrab dengan budaya mengembara. "Dandanan kami sehari-hari seperti ini, tidak jauh beda dengan anak-anak muda kota,” ujar Uni bangga. Malam itu, Sabtu (23/10), Uni berada di Tomia—salah satu pulau di Kabupaten Wakatobi—yang sunyi dan gelap lantaran pasokan listrik amat terbatas. Dia ditemani Siska Dewi (23) yang penampilannya tidak kalah mutakhir. Rambutnya dicat warna kuning, baju dan celananya super ketat. Telinganya hampir tak pernah lepas dari telepon seluler. ”Haiii, aku di Tomia sedang lihat shooting film,” katanya manja pada lawan bicaranya di udara. Seusai bertelepon, Siska sibuk mengutak-atik fitur musik di telepon selulernya. Tidak lama kemudian, mengalunlah lagu-lagu pop yang sedang populer di Tanah Air. Dia menikmatinya sambil manggut-manggut. Soal penampilan, kedua anak muda asal suku Bajo itu tidak kalah dengan anak-anak Jakarta. Semua itu, kata Siska, berkat Pasar Sentral di Desa Mandati 3, Pulau Wangi-Wangi, ibu kota Wakatobi. Sentral? Ya, dari pasar inilah anak-anak muda Wakatobi mengonsumsi simbol-simbol gaya hidup masa kini mulai baju *you can see, *celana jins, jaket kulit, sepatu, tas, selimut, ikat pinggang, dompet, sepeda angin, hingga barang elektronik. * Penyelundupan * Kami berkunjung ke Pasar Sentral, Minggu (24/10), di sisi jalan utama Wangi-Wangi. Suasananya mirip Pasar Ular di Jakarta Utara. Lapak-lapak berdesakan dan penuh dengan gantungan aneka produk *fashion. *Sebagian barangnya bermerek terkenal. Ada kaus Polo, Esprit, dan Benetton. Ada pula sepatu merek Timberland, Adidas, dan Vans. La Ude (34), pedagang di Sentral, mengatakan, barang-barang yang dijual semuanya seken. Meski begitu, dia mengklaim kualitasnya lebih kuat dari barang baru yang dijual di toko. ”Orang-orang di sini menyebutnya barang RB alias rombengan,” katanya sambil tertawa. Harganya murah meriah. Sepotong kaus, apa pun mereknya, dijual rata-rata Rp 15.000. ”Kalau belinya satu kios, kami kasih harga Rp 3.500 per potong,” ujar La Ude. Sepatu Timberland bekas paling mahal Rp 50.000. Tas rata-rata dijual Rp 40.000. Jika pandai menawar, harga bisa lebih miring lagi. Dari mana barang RB itu berasal? ”Hampir semuanya barang bekas dari Singapura dan Malaysia yang dibawa para saudagar asal Wangi-Wangi,” kata Jawarudin (32), pedagang RB lainnya. Jawarudin yang pernah bekerja pada seorang pengepul barang bekas di Singapura bercerita, para saudagar Wangi-Wangi berlayar ke Singapura atau Malaysia dengan kapal kayu kosong berbobot ratusan gross ton. Para saudagar kemudian memuat kapalnya dengan pakaian bekas yang mereka beli seharga 2 sen dollar AS per kilogram atau sekitar Rp 2.000. Sekali angkut bisa 1.000 bal (1 bal sekitar 100 kilogram). Kalau dirupiahkan nilai seluruhnya sekitar Rp 200 juta. Barang tersebut kemudian diselundupkan ke perairan Indonesia. Selanjutnya, barang dibawa ke Wangi-Wangi dan dijajakan lagi ke pulau-pulau kecil di Wakatobi, Kendari, Bau-Bau, Ambon, hingga ke wilayah Papua. Para saudagar menjual kembali barang RB itu seharga Rp 1,8 juta-Rp 2,8 juta per bal ke pedagang seperti Jawarudin. Kalau mereka menjual 1.000 bal, uang yang mereka peroleh bisa Rp 1,8 miliar-2,8 miliar. Wow! ”Untungnya sangat besar. Tapi risikonya juga besar. Kalau tertangkap, kapal disita,” kata Khaerudin (60), mantan pebisnis barang RB. * Harley Davidson * Dia mengaku berbisnis RB sejak 1982 dan berhenti tahun 2.000-an. Dulu, dia ”bermain” dengan tiga kapal kayu. Bisnisnya lancar karena aparat bisa diajak damai. Ketika itu, kapalnya berlayar ke Singapura atau Malaysia dengan membawa rotan. Pulangnya, kapal mengangkut barang RB. Tidak hanya pakaian, tetapi juga barang elektronik dan sepeda motor bekas. Dari bisnis RB, Khaerudin bisa membangun beberapa hotel kelas melati di Wangi-Wangi dengan tarif Rp 100.000-Rp 350.000 per malam. Sekarang, setiap hari dia duduk santai di depan hotel sambil mengamati tetamu yang datang dan pergi. Sahrudin (34), warga Wangi-Wangi, menjelaskan, bisnis RB benar-benar mengilat sebelum tahun 2005. Ketika itu, para saudagar bahkan membawa mobil, motor balap, dan motor besar seperti Harley Davidson. ”Setelah ada razia besar-besaran tahun 2005, mereka tidak bawa motor lagi.” Kami sempat melihat motor balap merek Aprilia yang biasa dipakai di ajang Moto GP diparkir di sebuah rumah sederhana di Wangi-Wangi, Rabu (20/10). ”Sebelum ada razia, Harley dan motor balap berseliweran di sini,” ujar Sahrudin. Motor mewah tanpa pelat nomor polisi itu, lanjut Sahrudin, dulu dijual seharga sekitar Rp 10 juta. ”Hanya dengan uang segitu, anak muda di sini bisa mengendarai motor besar meski jalan di sini berbatu ha-ha.” Begitulah, orang-orang di pulau ini merayakan gaya hidup terkini dengan barang selundupan. Sejauh ini, tidak ada warga yang mempersoalkannya. Hal ini dianggap semacam simbiosis mutualisme. Anak-anak muda bisa bergaya dengan modal minim dan saudagar bisa kaya raya. Soal negara rugi karena tidak dapat pajak, itu dianggap persoalan lain.
