Cakrawala...
 
Ketika SMP ada seorang guru berusaha menafsirkan arti nama toby dengan arti 
tolol bingung... setelah bekerja 14 tahun kembali ada seorang teman berusaha 
menafsirkannya dengan arti tolong binatang dan tolong biang… aku hanya 
tersenyum ketika mengingat hal itu…
Hmmm… 
Andaikata aku bisa membuat nama ku sendiri ketika keluar dari rahim ibuku, 
pastilah ku buat yang keren hehehe… dan orang tidak akan menafsirkan arti 
namaku semena-mena… Namun apa daya ku saat itu ilmuku belum ada, kosa kata yang 
ku kuasai pun hanya sebatas menangis… tertawa pun belum bisa… itulah derajatku 
ketika aku lahir… Allah berfirman “Aku akan mengangkat derajat orang-orang yang 
beriman dan berilmu beberapa derajat”. Bukan berarti Tuhan merendah derajat 
manusia yang lainnya tapi Tuhan memberikan penghargaan atas usaha manusia yang 
mau belajar. Saat aku lahir derajatku dengan orang tuaku adalah berbeda (tidak 
sederajat), walaupun sama sama manusia hanya saja mempunyai derajat yang 
berbeda, jadi Tuhan ndak pernah salah menitipkan seorang manusia kepada manusia 
karena memang secara ilmu dan iman derajatnya berbeda di hadapan-Nya. 
Seorang anak lahir selalu dengan keadaan bersih dan ndak membawa apa-apa, maka 
adalah tanggung jawab orang tuanya sebagai manusia yang dititipkan untuk 
mendidiknya hingga mencapai derajat tertentu bukan hanya sekedar ego tapi lebih 
berupa tanggung jawab atas kepemilikan sementara. Seorang manusia mengalami 
perkembangan derajat ilmu dan iman yang luar biasa maka muncullah istilah bayi, 
batita, balita, anak, remaja kemudian menjadi dewasa. Dan dari segi hak milik 
dan tanggung jawab pun berbeda, mereka ndak mungkin lepas dari hak milik 
mereka. 
Yang terkadang menjadi benturan adalah overlapping hak milik, masing-masing 
berusaha membuat pagar sendiri, namun kita tidak hidup sendiri di dunia ini. 
Maka ketika kita berkata bahwa kita harus memagari diri kita sendiri karena 
kita mempunyai tanggung jawab masing-masing  maka keterlepasan hak milik itu 
ndak ada. Karena yang kita pagari sudah jelas… ‘hak milik…’ bukan yang lain… 
walaupun itu diri sendiri… Batas pagarnya kadang ndak jelas wong kita nentuin 
sendiri. Hehehe… bisa jadi pagarnya nafsu dan lainnya… 
Seorang manusia ketika akan menjadi muslim maka dia harus membaca dua kalimat 
syahadat, itu adalah pagarnya. Hal itu salah satu yang membedakan antara 
manusia itu dengan manusia non muslim lainnya, ketika dia sudah ber-dua kalimat 
syahadat maka tanggung jawabnya adalah athiullaha wa athiurrasul, taat kepada 
Allah dan  taat kepada Rasul. Pengejawantahan tanggungjawab tersebut dalam 
kehidupan sehari-hari menjadi Allah Tuhanku, Muhammad SAW Rasulku, Islam 
Agamaku dan Qur’an adalah Imamku, itulah hak milik seorang muslim. Andaikata 
seorang muslim melepaskan hak miliknya di atas maka sama saja manusia itu 
kembali menjadi non muslim dan masuk ke faham “pelepasan hak milikiyah” 
hehehe…. apakah ada yang melarang seseorang masuk ke faham pelepasan hak 
milikiyah? Maka jawabannya ‘tidak’… Tapi andaikata dia seorang muslim lalu dia 
melepaskan hak milik atas Rasulnya Muhammad SAW dan Islam sebagai agamanya.. 
maka dia harus ber-syahadat kembali…
 Mungkin itu bedanya Agama Islam dengan Agama yang lainnya… Tegas, ndak 
abu-abu…  Allah memberikan pengajaran tentang hak milik agar manusia lebih 
bertanggung jawab dan beda dengan mahluk diciptaan-Nya yang lain.
Cakra yang lainnya, Ketika sepasang manusia ada yang diberi momongan atau 
tidak, masalahnya bukan dia dipercaya atau tidak oleh Tuhannya. Tapi lebih 
berupa sebuah ujian untuk manusia tersebut tentang dirinya seberapa sabar dan 
istiqomahnya dia kepada Tuhannya.  
Masih banyak cakrawala yang belum terungkap…
Namun waktuku tidak banyak untuk menulis hal itu, sudah waktunya bekerja… dari 
selepas shalat malam sampai pagi ini hanya sedikit cakrawala yang bisa ku 
ungkap…
Mudah-mudahan Allah membukakan pintu hati teman-teman untuk lebih membumi 
dengan Al-qur’an amiiin….
 
Foto di facebook-ku adalah foto istriku…
Dialah belahan jiwaku dan penenang yang dititipkan kepada ku…
Untuk menemaniku sampai aku bertemu dengan Tuhan ku…
Dan ku berharap…
Tuhanku mau menyambutku seperti dalam Al-qur’an
Wahai jiwa-jiwa yang tenang ….
Masuklah kamu ke dalam surge-Ku, karena Aku ridho terhadapmu…
Sebagai mana kau ridho menerima Aku (Allah) sebagai Tuhanmu
Syahid matimu…
Barakallahu laka… 
Ya Rabb, Jangan Engkau bengkok hati teman-teman muslimku… Amiin…
Salam Hormat,
TFI’94 


Toby Fittivaldy 
Fis2  '94
 



      

Kirim email ke