Good Read, Good Article =)
ini dari Cak Nun yg sangat pluralis dan punya toleransi keagamaan sangat 
tinggi.namun beliau juga gemas dengan kondisi yg ada.....adanya usaha membuat 
stigma dan stereotype negatif secara konsisten dan sistematis thd Islam yg 
dilakukan oleh orang yg mengusung Demokrasi, Liberalisme, dan Pluralisme serta 
HAM. 
Di sisi lain juga memang umat Islam harus banyak memperbaiki diri, agar jangan 
jadi hijab thd keindahan dan kebenaran Islam. Karena memang ada prilaku umat 
Islam yg bertentangan dgn agamanya. ini harus dibenahi.
sekali lagi ini artikel bagus yg menyentil kesadaran kita bersama utk 
memperbaiki diri.mohon maaf bila kurang berkenan.tapi mohon buka mata hati agar 
tdk mudah menyudutkan dan mendiskreditkan pihak tertentu.
Best Regards and Wassalam,



Nugon



http://groups.yahoo.com/group/warnaislam/message/10344
Maaf ... "intermezzo" ...! Diambil dari situs Goodreads rupanya! Memang benar 
benar good reads! :-) salam,rsa

2011/2/17 
 dari milis sebelah, semoga bermanfaat...
wassalam

Ahmad

SAYA ANTI DEMOKRASI

oleh : Emha Ainun Nadjib

Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan 
Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator 
mayoritas. 
Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang 
selain Islam - harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu 
memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. 
Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. 
Baru wajar namanya.

Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina 
banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, 
yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang 
salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna 
kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom 
dihujankan di 
seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, 
sementara yang salah pasti adalah Islam.

"Agama" yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan 
dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra 
demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat 
jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme 
kaum non-Islam.

Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh 
peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca 
kelakuan kecurangan informasi jaringan media massaBarat atas kesunyatan Islam.

Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlese 
dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati 
Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut pandang 
mereka.

Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa 
melalui apresiasi terhadap Qur'an, saya juga akan siap menyatakan diri 
sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan 
Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi 
saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang 
karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah 
musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng mengandung 
unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: 
"Banyak 
nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali bikin yang etnis 'gitu..."

Lho kok Arab bukan etnis?

Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak 
diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama kolak, 
sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak, 
bukan sambal, dan bukan lalap.

Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada 
Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah "Yarim 
Wadi-sakib...", itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini: 
apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, 
bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk 
jamaah peradaban dunia.

Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang 
ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhonn kepada Islam, telah 
terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah 
mengendap menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangan 
atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum 
Muslimin yang mau 
tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem 
peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.

"Al-Islamu mahjubun bil-muslimin". Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh 
orang Islam sendiri.

Endapan-endapan dalam kalbu kollektif ummat Islam itu, kalau pada suatu 
momentum menemukan titik bocor - maka akan meledak. Pemerintah Indonesia 
kayaknya harus segera mervisi metoda dan strategi penanganan antar ummat 
beragama. Kita perlu menyelenggarakan 'sidang pleno' yang transparan, berhati 
jernih dan berfikiran adil. Sebab kalau tidak, berarti kita sepakat untuk 
menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa depan.

Sumber : 
Buku Emha http://www.goodreads.com/book/show/1380373.Iblis_Nusantara_Dajjal_Dunia

-------------------------------

[Non-text portions of this message have been removed]

-- 
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest.
N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les coeurs.
im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können.
>> al-Ra'd [13]: 28




      

Kirim email ke