http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/35749
Menarik, silahkan dibaca.Tono Saksono

---------- Forwarded message ----------
From: <mawar_subekti@...>
Date: 2011/2/21
Subject: [warga_kemangpratama] OOT. Bapak Presiden, Bolehkah Saya Bertanya? 
To: [email protected]


Tulisan Mas Apam, teman saya.
Menarik untuk dibaca.
----

Senin, 21/02/2011 08:53 WIB

Catatan Agus Pambagio

Bapak Presiden, Bolehkah Saya Bertanya? 

Agus Pambagio - detikNews Jakarta - (Surat untuk Presiden SBY)

Bapak Presiden SBY yang sangat saya hormati, sudah sejak awal tahun 2011 ini 
saya semakin tidak memahami tugas dari masing-masing kementerian di lingkungan 
Kabinet Indonesia Bersatu jilid II yang Bapak pimpin. Selain persoalan 
koordinasi yang semakin tidak jelas, munculnya banyak Satuan Tugas selain 
(menurut saya) membebani anggaran negara, juga membuat rakyat seperti saya ini 
semakin bingung dan bertanya: mau dibawa ke mana sebenarnya negara ini?
Bapak Presiden SBY yang sangat saya hormati, persoalan yang membuat saya sama 
sekali tidak paham adalah munculnya berbagai kebijakan para menteri yang 
terkait dengan pembangunan infrastruktur dan energi di Republik ini. Untuk itu 
izinkan saya bertanya langsung kepada Bapak Presiden tentang beberapa hal di 
bawah ini:

Pertama terkait dengan pembangunan listrik 10.000 MW tahap I, yang dibangun 
atas bantuan Pemerintah China, menurut Menteri ESDM sampai hari ini sudah 
selesai 20%. Apakah betul demikian Bapak Presiden? Setahu saya baru 2 
pembangkit dalam program 10.000 MW tahap I yang  beroperasi (mohon maaf kalau 
salah), yaitu PLTU Labuan dan PLTU Rembang. Itu pun sering terhenti karena 
muncul masalah.
Kemudian apa betul proyek pembangkit listrik 10.000 MW tahap I ini menggunakan 
batubara, sebagai energi primernya, yang harus diimpor dari China? Mengapa 
tidak bisa menggunakan batubara yang ada di Indonesia? Apa betul sebagai 
penyandang dana, China patut diduga sengaja menggunakan pembangkit yang hanya 
bisa dihidupkan dengan batubara asal China? Sehingga Indonesia akan terus 
bergantung pada impor batubara dari China jika semua PLTU program 10.000 MW 
tahap I beroperasi? Kalau ini benar seharusnya Bapak Presiden bisa mengambil 
tindakan tegas, bukan?
Kedua, apa benar berbagai proyek pembangunan infrastruktur transportasi yang 
menggunakan dana pinjaman dan perjanjian pinjaman dananya (loan agreement) 
sudah ditandatangani, harus ditunda atau bahkan dibatalkan karena Menteri 
Keuangan minta agar studi kelayakan (feasibility study) proyek dikaji kembali? 
Misalnya pembangunan Mass Rapid Transit (MRT). Ini berakibat para Dirjen tidak 
berani bertindak untuk proses penyerapan pinjamannya. Begitu pula untuk 
proyek-proyek lainnya, seperti pembangunan Kereta Bandara Soekarno-Hatta dan 
sebagainya.
Kalau boleh, sebagai rakyat yang awam akan seluk beluk pembiayaan proyek 
infrastruktur ingin bertanya pada Bapak Presiden SBY yang sangat saya hormati: 
apa dasar dan pertimbangan Bapak SBY mengangkat seorang Menteri Keuangan? Saya 
sebagai rakyat biasa merasa heran. Apakah karena beliau seorang mantan banker 
maka semua proyek yang menggunakan dana APBN harus dikaji ulang studi 
kelayakannya meskipun telah dibuat dan disetujui sebelumnya?
 
Kalau loan agreementnya sudah ditandatangani dan proyek sudah berjalan, apakah 
proyeknya harus dihentikan karena menunggu kajian studi kelayakan yang baru? 
Apalagi sampai hari ini koordinasi antara Menteri Pemuda dan Olah Raga dan 
Gubernur DKI Jakarta terkait dengan pengalihan stadion sepak bola Lebak Bulus 
untuk depo MRT belum beres.
Setahu saya dan hampir semua masyakat Jakarta sudah paham bahwa fasilitas MRT 
tahap I akan selesai dan dapat digunakan pada bulan Nopember 2016. Begitu pula 
kereta api ke bandara Soekarno-Hatta sudah harus ada kemarin. Kalau pada 
kesempatan rapat koordinasi di kantor Wapres, Menteri Keuangan masih 
mempertanyakan dan minta dibuatkan studi kelayakan baru, rasanya beliau bukan 
seorang Menteri Keuangan yang saat ini dibutuhkan oleh masyarakat.
Mohon maaf Bapak Presiden, ini pendapat saya pribadi yang kurang paham atas 
birokrasi dan persoalan pembiayaan proyek investasi.

Ketiga, apakah benar kalau kebutuhan gas untuk PLTGU Muara Tawar milik PT PLN 
dikorbankan oleh Badan Pengelola (BP) Migas demi meningkatkan produksi minyak 
di lapangan Duri milik PT Chevron Pacific Indonesia? Mengapa hak rakyat untuk 
memperoleh listrik harus dikorbankan, Pak SBY? Apakah hasil peningkatan 
produksi minyak itu lebih penting dan menguntungkan bagi bangsa ini bukan hanya 
bagi para pencari rente sektor migas, dalam arti lebih mensejahterakan rakyat?
 
Selain itu apakah benar selain PT PLN, kebutuhan PT PGN juga ikut dikorbankan 
sehingga beberapa industri di sekitar Banten yang menjadi konsumen PT PGN harus 
mengurangi dan bahkan berhenti beroperasi? Kasihan para buruhnya Pak, berapa 
banyak buruh dan keluarganya yang akan kesulitan membeli nasi dan lauk untuk 
makan 3 x sehari kalau pabrik tempat mereka bekerja harus mengurangi buruh atau 
tutup karena minimnya pasokan energi.

Keempat, mengapa keputusan untuk pencabutan subsidi BBM oleh pemerintah sangat 
lamban, Pak SBY? Saya sudah sejak tahun lalu selalu membayangkan, alangkah 
majunya negara ini kalau subsidi BBM dicabut atau dikurangi secara bertahap, 
kecuali untuk angkutan umum berplat nomor kuning. Saya membayangkan jika uang 
subsidi yang jumlahnya puluhan triliun per tahun itu digunakan untuk membangun 
infrastruktur seperti double atau triple track jaringan rel kereta api 
Jakarta-Surabaya, pasti arus barang dan orang di lintas Jawa akan sangat cepat. 
Begitu pula di beberapa pulau lainnya, seperti Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.
Bapak Presiden SBY yang sangat saya hormati, andaikan dana subsidi BBM itu 
digunakan untuk membangun pembangkit listrik yang rata-rata biaya investasinya 
sebesar Rp 2 triliun/pembangkit, pastinya kita tidak akan menikmati listrik 
yang hidup secara bergilir dan harus mengemis ke investor China yang pada 
akhirnya patut diduga akan menyusahkan kita semua. Bukankah kita sebenarnya 
dapat swasembada listrik dengan sumber energi primer dari batubara atau panas 
bumi atau gas yang kita punyai, Pak?
Bapak Presiden SBY yang sangat saya hormati, Profesor Stiglitz pernah 
mengatakan jika sebuah bangsa yang kaya akan sumber daya alamnya tetapi bangsa 
tersebut memanfaatkannya atau menjualnya hanya sebagai bahan mentah, bukan 
bahan jadi maka bangsa tersebut secara perlahan tapi pasti akan menjadi bangsa 
yang miskin absolut. Apakah Bapak Presiden setuju dengan pendapat itu? Kalau 
saya setuju Pak karena saat ini Indonesia memang hanya menjual sumber daya alam 
mentah (seperti gas, batubara, sawit dll) demi pemenuhan target penerimaan 
APBN, bukan sebagai barang jadi yang mempunyai nilai tambah lebih bagi bangsa 
ini.

Demikian surat saya Pak SBY dan saya sebenarnya tidak ingin mengganggu Bapak 
Presiden dengan berbagai pertanyaan itu tetapi sudah lama saya bertanya kepada 
para Menteri di Kabinet yang Bapak pimpin, namun saya tak kunjung mendapatkan 
jawaban yang memuaskan. Sehingga saat ini saya merasa perlu dan terpaksa  
bertanya kepada Bapak Presiden SBY secara langsung melalui surat ini.

Salam hormat, Agus Pambagio (penduduk Jakarta pemegang KTP No 
09.5407.190859.0028).
*) Agus Pambagio adalah pemerhati kebijakan publik dan perlindungan 
konsumen.(vit/vit)_

Sent from Mawarsari's BlackBerry®
www.studiolima.info


------------------------------------

Yahoo! Groups Links






-- 
htt://cis-saksono.blogspot.com




      

Kirim email ke