http://health.kompas.com/index.php/read/2011/03/07/14421962/MSG.Aman.Tidak.Sih

 MSG, Aman Tidak Sih?
*Kompas.com *— Bukan untuk sekadar pelengkap jika seorang koki memasukkan
sedikit monosodium glutamat (MSG) ke dalam masakan. Kemampuan MSG untuk
memunculkan rasa gurih dalam masakan berkuah, tumis, atau goreng memang tak
diragukan.

Meski sudah dikenal dalam dunia kuliner selama puluhan tahun, penyedap rasa
ini tak serta-merta terbebas dari isu negatif, terutama dikaitkan dengan
kesehatan. Bahkan, sebagian orang menganggapnya "racun" yang perlu
dihindari.

Perdebatan sengit mengenai keamanan MSG alias vetsin ini sudah berlangsung
lama, terutama sejak isu sindrom restoran China (Chinese Restaurat Syndrome)
dilaporkan pada tahun 1960-an. Penelitian lain yang dilakukan pada mencit
juga menunjukkan kerusakan otak pada mencit yang disuntikkan MSG setiap
hari.

Kendati demikian, para ilmuwan dan badan kesehatan dunia memasukkan MSG
sebagai bahan tambahan pangan yang aman untuk manusia. Badan Pengawasan Obat
dan Makanan RI juga menegaskan, MSG aman dikonsumsi dengan batas maksimal
120 mg/kg berat badan per hari.

Walaupun sudah diyakinkan dengan sederet bukti ilmiah, nyatanya masyarakat
masih khawatir mengasup makanan ber-MSG. Padahal, menurut prof Hardinsyah
dari Institut Pertanian Bogor, sebenarnya setiap hari kita mengonsumsi
makanan yang mengandung glutamat.

"Glutamat sebenarnya secara alami terdapat dalam tubuh kita dan juga bahan
makanan," kata Dekan Fakultas Ekologi Manusia dari IPB itu di sela acara
simposium Umami & Glutamate yang diadakan oleh Ajinomoto dan IPB beberapa
waktu lalu di Bogor, Jawa Barat.

Ia menambahkan, isu-isu miring mengenai MSG sebenarnya berasal dari
penelitian yang dilakukan pada hewan di laboratorium dengan dosis yang tidak
relevan dengan pemakaian sehari-hari dalam masakan.

"Jelas saja menimbulkan dampak buruk karena mencit-mencit itu disuntikkan
MSG 200-500 gram setiap hari. Sementara kita mengonsumsi dengan cara
mencampurnya dalam makanan. Konsumsi 10 mg MSG setiap hari saja tidak
mungkin," katanya.

Sementara itu, penelitian terhadap manusia pernah dilakukan di Amerika
Serikat terhadap 130 orang yang punya reaksi alergi terhadap MSG. "Ternyata
diberikan MSG atau tidak hasilnya tidak konsisten. Jadi, belum terbukti MSG
menimbulkan reaksi alergi," imbuhnya.

Kekhawatiran akan akumulasi MSG dalam darah juga ditepis oleh Prof Kunio
Torii dari Institute for Inovation Ajinomoto, Jepang. "Kadar MSG dalam darah
akan selalu konstan, bahkan jika kita mengonsumsi makanan yang mengandung
MSG. Tubuh kita juga punya mekanisme pertahanan sehingga tidak mungkin MSG
ini masuk ke otak dan memengaruhi saraf. Kebanyakan MSG yang kita konsumsi
akan habis dipakai di usus," paparnya dalam acara yang sama.

Laporan final mengenai MSG yang dilakukan *Federation of American Societies
for Experimental Biology*, lembaga di Amerika Serikat yang mendedikasikan
diri untuk penelitian seputar ilmu biologi dan biomedis diterbitkan dalam
buku setebal 350 halaman untuk FDA pada tanggal 31 Juli 1995.

Berdasarkan laporan ini, FDA berpendapat bahwa tidak ada bukti ilmiah apa
pun yang membuktikan bahwa MSG atau glutamat menyebabkan lesi otak dan
penyakit kronis.

Kirim email ke