http://www.jurnas.com/news/22518/Siswa_SMP_Panen_Padi_dari_dalam_Ember/1/Ibu_Kota/Metropolis
Siswa SMP Panen Padi dari dalam EmberJakarta| 15:16 Thu, 10 Mar 20114 / PT.
Media Nusa PradanaJurnas.com | SISWI-siswi Kelas VII SMP 209, di Jalan Inpres,
Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur, Kamis (10/3) pagi,
tampak begitu gembira dan bersemangat. Pagi itu saatnya mereka memanen padi
organik yang mereka tanam di dalam 350 ember.
Untuk memanen padi tersebut, mereka tidak menggunakan sabit seperti yang lazim
digunakan para petani. Tetapi cukup dengan memotong batang padi dengan gunting.
Satu, dua, kali gunting, seluruh batang padi dalam ember pun terpotong.
Hasilnya lumayan.
Suhri, guru Bahasa Indonesia yang mengkoordinir penanaman padi tersebut,
mengatakan, biasanya dari panen padi tersebut mereka bisa mendapat 20 kilogram
beras. "Padi yang kita panen sekarang adalah jenis Ciherang dari Ciamis.
Sebelumnya juga pernah padi dari Jepang yang diberikan oleh orang tua murid dan
jenis Situ Bagenit,"kata Suhri.
Panen ini adalah yang kelima kalinya sejak ide penanaman padi dalam ember ini
digagas Suhri pada 2007. Tidak hanya jenis padi yang terus divariasikan, tetapi
perawatan untuk mendapatkan padi berkualitas bagus juga terus dicoba. Salah
satunya dengan menyiram padi dengan urine manusia yang sudah difermentasi.
Urine dicampur dengan lengkuas, jahe dan bumbu dapur lainnya. "Hasilnya lebih
bagus dan lebih banyak. Satu benih bisa menghasilkan 80 anakan,"ujarnya.
Tetapi urine fermentasi ini belum digunakan pada padi yang dipanen hari ini. Ia
baru disiramkan pada beberapa batang padi sebagai perbandingan. Urine ini mulai
disiram setelah padi berusia 2 minggu. "Kedepan akan kita gunakan karena
terbukti hasilnya lebih bagus,"tutur Suhri.
Padi organik siswa-siswi SMP ini bisa dipanen setelah berumur 3 bulan dan 10
hari. Proses penanamannya pun tidak sulit. Tanah yang sudah dilumpurkan
kemudian didiamkan selama 2 minggu. Sembari itu, padi yang akan dijadikan benih
disemaikan dulu selama 48 jam. Pupuk hanya diberikan sekali pada saat tanah
dilumpurkan. Selanjutnya, setiap hari, para siswa menyiram tanaman padi dalam
ember yang sudah dinamai dengan nama mereka masing-masing.
Ember-ember itu ditaruh di halaman samping sekolah. Laiknya sawah, di sana juga
ditaruh orang-orangan sawah untuk mengusir burung. Burung menjadi ancaman saat
padi mulai menguning. "Selama ini hama tidak ada. Hanya burung saja,"tutur
Suhri.
Suhri menjelaskan tujuan penanaman padi ini untuk mengenalkan siswanya cara
menanam padi. Ini tak lepas dari beras yang menjadi konsumsi utama orang
Indonesia. "Kita berharap kegiatan ini bisa didukung pemerintah karena bisa
juga mendukung swasembada beras,"jelasnya.
Program ini, kata dia, direncanakan akan menjadi kegiatan ekstrakurikuler
sekolah. Selama ini ia hanya menjadi program unggulan sekolah. Para siswa, kata
Suhri, menyambut baik program tersebut. "Kita jadi bisa belajar menanam
padi,"kata Dewi (13) dan Ria (12),siswi kelas VII.
Penulis: Nofrita