dikuitp 
dari http://iebegtd.wordpress.com/2011/03/10/lelaki-sebenarnya-pria-sejati/ ,kisahnya
 penuh hikmah.
Best Regards,


Nugon

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


Ada kisah inspiratif  yang mana bisa menjadi sebuah contoh bagi kita “Di tengah 
padang pasir yang gersang, ada seorang pemuda yang tengah menempuh perjalanan 
cukup jauh. Dalam perjalanannya, pemuda ini hanya ditemani oleh seekor unta 
(unta inilah harta satu – satunya yang dimiliki untuk menemani perjalanannya). 
Di tengah perjalanan yang melelahkan ini, sang pemuda menemukan oase (mata air 
di tengah gurun). Bagaikan menemukan sesuatu yang luar biasa, pemuda ini tidak 
menyia – nyiakan kesempatan untuk beristirahat melepas lelah sembari meminum 
air dari dalam oase tersebut (mungkin bagi kita, menemukan air bukanlah hal 
yang sulit, namun tentu berbeda dengan kondisi yang dialami oleh pemuda 
tersebut). Unta sang pemuda pun melakukan hal yang sama dengan apa yang 
dilakukan tuannya. Karena kelelahan yang luar biasa, setelah mengikat untanya 
ke sebuah pohon yang berada di tepian oase , sang pemuda pun tertidur dengan 
lelapnya.Karena rasa lelah yang
 melandanya, pemuda tersebut tidak menyadari bahwa ikatan tali untanya tidak 
terlalu kuat. Sehingga untanya dengan mudah lepas dan berjalan meninggalkan 
tuannya yang sedang tertidur lelap. Di tengah perjalanan, sang unta menemukan 
sebuah perkebunan dengan tanaman yang menggiurkan. Karena lapar, si unta pun 
memasuki kebun tersebut dan langsung memakan apa yang ada di dalamnya.Tidak 
lama kemudian, munculah pemilik perkebunan. Pemiliknya adalah seorang kakek – 
kakek tua renta. Dengan tenaga yang dimilikinya, sang kakek berusaha mengusir 
si unta agar keluar dari kebunnya. Namun mengingat usianya yang sudah renta, 
sang kakek tidak mampu mengusir unta tersebut. Berungkali sang kakek mencoba 
menghalau si unta dari kebunnya, namun tak kunjung berhasil. Sang unta justru 
semakin lahap memakan tanaman yang berada di bagian dalam kebun.
Melihat hal tersebut, sang kakek memutuskan membunuh unta itu untuk 
menyelamatkan kebunnya. Setelah membunuh unta tersebut, sang kakek menunggu 
kalau – kalau ada seseorang yang mencari untanya yang hilang.Sementara itu di 
tepian oase, sang pemuda yang sedang asyik tertidur akhirnya terbangun. 
Alangkah kagetnya ia, ketika melihat untanya hilang. Ia pun mencari unta 
kesayangannya. Ketika sampai di kebun sang kakek, ia menemukan untanya dalam 
keadaan tak bernyawa. Ia sangat sedih sekaligus marah, sambil mengatakan “ 
Siapa yang membunuh untaku?”Melihat sang pemuda, si kakek datang menghampiri 
seraya berkata, “Maaf anak muda apakah ini untamu?”. Sang pemuda berkata, 
“benar, dan siapakah gerangan yang membunuhnya?”. Sang kakek menjawab dengan 
pelan, “Aku minta maaf, akulah yang membunuh untamu karena untamu telah merusak 
kebunku dan aku tak kuasa untuk menghalaunya keluar. Jadi kubunuh ia, maafkan 
aku.” Mendengar jawaban sang kakek, sang
 pemuda tidak bisa menerima dan marah besar meskipun sang kakek sudah meminta 
maaf dan menyampaikan alasannya. Dengan kemarahan yang sangat, maka ia pun 
lepas kontrol dan dibunuhnya sang kakek yang sudah renta itu.Anak dari sang 
kakek yang baru pulang dan melihat ayahnya meninggal di tangan sang pemuda 
tidak bisa menerima perbuatan pemuda tersebut terhadap ayahnya, maka iapun 
menuntut keadilan dan membawa kasus ini kepada khalifah Umar bin Khatab. Anak 
dari sang kakek berkata kepada khalifah Umar, “Ya Amirul Mukminin, saya tidak 
bisa menerima perlakuan pemuda tersebut terhadap ayah saya. Maka saya meminta 
keadilan kepadamu dan menuntut hukuman qisas (mati) atasnya.”Mendengar laporan 
tersebut, dengan beberapa pertimbangan, maka diputuskan bahwa hukuman qisas 
dijatuhkan kepada sang pemuda. Sang pemuda pun berkata, “Saya menerima hukuman 
qisas atas diri saya, namun ijinkan saya pulang terlebih dahulu dalam waktu 3 
hari saja untuk melunasi hutang –
 hutang saya dan berpamitan dengan keluarga saya.” Semua orang yang berada di 
tempat tersebut berpikir bahwa pemuda ini pasti mengada – ada untuk melarikan 
diri dari hukuman qisas. Namun tidak demikian dengan khalifah Umar bin Khatab, 
beliau berkata,” Baiklah kuijinkan kau pulang dalam waktu 3 hari untuk 
menyelesaikan tanggunganmu, namun aku minta seseorang yang bisa menjadi 
jaminanmu.” Sang pemuda bingung harus menjaminkan siapa? Karena dia hanyalah 
seorang musafir yang berkelana seorang diri. Dan orang – orang yang berada di 
tempat itu juga pasti enggan untuk menjaminkan dirinya.Dan diluar dugaan semua 
orang yang ada di situ, majulah sahabat Rasulullah, Abu Dzar Al-Ghifari dengan 
tenang seraya berkata, “ Aku yang menjadi jaminan atas pemuda ini.” Sontak 
semua sahabat dan orang yang berada di situ terkaget – kaget dan sangat 
menyayangkan tindakan Abu Dzar Al-Ghifari seorang sahabat kesayangan Rasulullah 
yang dengan berani menjaminkan
 dirinya untuk seorang pemuda yang tidak dikenalnya.Dengan jaminan dari Abu 
Dzar Al-Ghifari, maka diijinkanlah pemuda itu untuk pulang ke kampung 
halamannya selama 3 hari. Bahkan untuk mempermudah perjalanannya, sang pemuda 
dipinjami seekor kuda. Sang pemuda pun tidak menyia – nyiakan kesempatan yang 
diberikan, ia memacu kudanya dengan kencang meninggalkan orang – orang 
disekitarnya.Satu hari ditunggu, sang pemuda tak kunjung kembali. Hari kedua 
pun tak nampak tanda – tanda kedatangan sang pemuda. Sampai detik – detik 
menjelang dijatuhkannya hukuman qisas, sang pemuda yang ditunggu tak kunjung 
datang. Semua orang mulai khawatir, karena kalau pemuda itu tak datang maka 
nyawa Abu Dzar Al-Ghifari taruhannya. Detik demi detik berlalu, Abu Dzar 
Al-Ghifari mulai maju ke tempat dimana hukuman qisas akan dilangsungkan dengan 
senyum tersungging di wajahnya(di wajahnya tak tampak sedikit pun ketegangan), 
siap menggantikan sang pemuda untuk diqisas.
Ketika hukuman qisas akan dilangsungkan, dari kejauhan tampak debu bergulung 
disertai derap langkah kuda yang dipacu dengan kecepatan penuh. Semua orang 
memandang ke arah gulungan debu tersebut, dan perlahan – lahan mulai 
terlihatlah sang pemuda yang ditungu – tunggu, dengan sekuat tenaga memacu 
kudanya agar tidak terlambat sampai di tempat dimana hukuman qisas dijatuhkan 
atas dirinya. Semua orang bernafas lega, karena Abu Dzar Al-Ghifari tidak jadi 
diqisas.Pemuda tersebut dengan terengah – engah, turun dari kudanya sambil 
berkata, “sekarang saya sudah siap untuk diqisas ya amirul mukminin.” Khalifah 
Umar bin Khatab terheran – heran sekaligus takjub terhadap sikap sang pemuda, 
sebelum meng-qisas pemuda tersebut beliau bertanya, “Hai anak muda, apa yang 
membuatmu kembali kesini untuk menyerahkan nyawamu? Padahal kalau mau, kau bisa 
saja tidak kembali dan otomatis dirimu akan terbebas dari hukuman qisas ini.” 
Sang pemuda pun menjawab,”Ya
 amirul mukminin saya hanya tidak ingin orang – orang mengatakan bahwa tidak 
ada lagi lelaki yang menepati janjinya dan saya juga tidak ingin orang – orang 
mengatakan bahwa tidak ada lagi pemuda yang kesatria dan berani 
mempertanggungjawabkan perbuatannya.” Mendengar jawaban tersebut semua orang 
yang semula meragukan sang pemuda menjadi kagum terhadapnya. Abu Dzar 
Al-Ghifari pun tersenyum mendengar jawaban sang pemuda.Kemudian Khalifah Umar 
bertanya kepada Abu Dzar, “Ya abu Dzar apa yang menyebabkan dirimu begitu yakin 
menjaminkan dirimu untuk pemuda ini?” maka Abu Dzar Al-Ghifari menjawab,” Aku 
hanya tidak ingin orang – orang mengatakan bahwa tidak ada lagi lelaki yang 
bersedia berkorban untuk saudaranya” Semakin kagumlah orang – orang yang berada 
di tempat itu.Mendengar jawaban sang pemuda dan Abu Dzar Al-Ghifari, anak dari 
sang kakek yang juga seorang pemuda berkata kepada khalifah Umar bin Khatab, 
“Ya amirul mukminin saya
 mencabut tuntutan hukuman qisas terhadap pemuda itu.” Umar bin Khatab pun 
semakin heran seraya bertanya, “Mengapa engkau mencabut tuntutanmu?”, anak sang 
kakek menjawab,”Karena saya tidak ingin orang – orang mengatakan bahwa tidak 
ada lagi seorang lelaki yang mau memaafkan saudaranya”



      

Kirim email ke