artikel menarik dari Media Indonesia terkait energi.
Wassalam,

Nugon

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/25/212887/68/11/Ocean-Energy-Solusi-Krisis-Energi
Ocean Energy, Solusi Krisis EnergiJumat, 25 Maret 2011 00:00 WIB        0 
Komentar     0    0 CETAKKIRIM FACEBOOKBuzz up!Indonesia memilki sumber energi 
yang melimpah yang bisa dikonversi menjadi tenaga listrik, dari panas bumi, 
batu bara, bioetanol, hingga bahkan ocean energy mengingat dua pertiga wilayah 
Indonesia adalah lautan. Ocean energy resources yang dimiliki Indonesia bisa 
dibilang yang terbaik dan terbesar di dunia. 

Namun sayangnya, upaya untuk mengembangkan energi yang melimpah ini belum 
serius dikaji. Mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa cadangan minyak yang 
dimiliki Indonesia diperkirakan hanya untuk 25 tahun ke depan. Selanjutnya dari 
mana negara ini akan mendapatkan energi listrik? Jawabannya ada di laut, 
khususnya lautan yang berada di wilayah tropis. 

Ocean energy merupakan alternatif energi terbaru termasuk sumber daya nonhayati 
yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Potensi energi laut mampu 
memenuhi empat kali kebutuhan listrik dunia sehingga tidak mengherankan jika 
berbagai negara maju telah berlomba memanfaatkan energi laut itu. 

Listrik tenaga pasang surut 

Teknologi pembangkit listrik pasang surut (PLPS) ini mungkin sudah dikuasai 
penuh oleh bangsa Indonesia. Pada prinsipnya teknologi tersebut tidak berbeda 
dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) seperti yang diterapkan di Waduk 
Jatiluhur dan waduk-waduk lainnya, yakni air laut ketika pasang ditampung dalam 
suatu wilayah yang dibendung dan pada waktu pasang surut air laut dialirkan 
kembali ke laut. Pemutaran turbin dilakukan dengan memanfaatkan aliran air 
ketika masuk ke dalam dam dan ketika keluar dari dam menuju laut.

Kendala utama penerapan teknologi PLPS ini ada dua. Pertama, pemerintah belum 
pernah memanfaatkan energi pasang surut ini untuk menghasilkan listrik sehingga 
tenaga ahli Indonesia yang telah menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga 
air belum pernah merancang dan menerapkan atau membangun secara langsung dari 
awal. 

Kedua, pembangunan ini akan merendam wilayah yang luas, apalagi bila harus 
merendam beberapa desa di sekitar muara atau kolam. Di sini kemudian akan 
muncul masalah sosial, bukan hanya masalah teknologi. 

Kapasitas listrik yang dihasilkan PLPS ini sebaiknya untuk kapasitas besar, di 
atas 50 megawatt, agar bisa ekonomis seperti PLTA. Sumber energi PLPS ini 
banyak berada wilayah timur Indonesia, mulai Ambon hingga Papua. Di wilayah itu 
kebutuhan listrik masih kecil dan membutuhkan power cable bawah laut yang 
sangat panjang untuk bisa membawa listrik ke Pulau Sulawesi yang membutuhkan 
listrik dalam jumlah besar. 

Di negara lain, beberapa pembangkit listrik sudah beroperasi menggunakan ide 
itu. Salah satu PLPS terbesar di dunia terdapat di muara Sungai Rance di 
sebelah utara Prancis. Pembangkit listrik ini dibangun pada 1966 dan 
berkapasitas 240 megawatt. 

PLPS La Rance didesain dengan teknologi canggih dan beroperasi secara otomatis 
sehingga hanya membutuhkan dua orang untuk pengoperasian pada akhir pekan dan 
malam hari. PLPS terbesar kedua di dunia terletak di Annapolis, Nova Scotia, 
Kanada, dengan kapasitas yang mencapai 160 megawatt. 

Listrik tenaga panas laut 

Perbedaan temperatur di bawah laut sebenarnya telah menjadi ide pemanfaatan 
energi dari laut. Kita tentu menyadari jika kita menyelam semakin dalam ke 
bawah permukaan, airnya akan semakin dingin. Temperatur di permukaan laut lebih 
hangat karena panas dari sinar matahari diserap sebagian oleh permukaan laut. 

Tapi di bawah permukaan, temperatur akan turun dengan cukup drastis. Itulah 
sebabnya penyelam menggunakan pakaian khusus selam ketika menyelam jauh ke 
dasar laut. Pakaian khusus tersebut dapat menangkap panas tubuh sehingga 
menjaga mereka tetap hangat. 

Nah, pembangkit listrik dapat memanfaatkan perbedaan temperatur tersebut untuk 
menghasilkan energi. Pemanfaatan sumber energi jenis ini disebut dengan 
konversi energi panas laut atau ocean thermal energy conversion (OTEC). 
Proyek-proyek demonstrasi dari OTEC sudah terdapat di Jepang, India, dan 
Hawaii. 

Listrik gelombang laut 

Peneliti Universitas Oregon memublikasikan temuan teknologi terbarunya yang 
diberi nama permanent magnet linear buoy. Diberi nama buoy karena memang pada 
prinsip dasarnya teknologi terbaru tersebut dipasang untuk memanfaatkan 
gelombang laut di permukaan. Itu berbeda dengan buoy yang digunakan untuk 
mendeteksi gelombang laut yang menyimpan potensi tsunami. 

Peneliti Oregon menjelaskan prinsip dasar buoy penghasil listrik tersebut yaitu 
beroperasi dengan mengapung di permukaan. Gelombang laut yang terus mengalun 
dan berirama bolak-balik dalam buoy itu akan diubah menjadi gerakan harmonis 
listrik. 

Sekilas bila dilihat dari bentuknya, buoy itu mirip dengan dinamo sepeda. 
Bentuknya silindris dengan perangkat penghasil listrik pada bagian dalamnya. 
Buoy diapungkan di permukaan laut dengan posisi sebagian tenggelam dan sebagian 
lagi mengapung. 

Kuncinya terdapat pada perangkat elektrik yang berupa koil (kumparan yang 
mengelilingi batang magnet di dalam buoy). Saat ombak mencapai pelampung, 
pelampung tersebut akan bergerak naik dan turun secara relatif terhadap batang 
magnet sehingga bisa menimbulkan beda potensial dan listrik dibangkitkan. Tentu 
saja agar dapat bergerak koil tersebut ditempelkan pada pelampung yang 
dikaitkan ke dasar laut. 

Dalam percobaan sistem itu diletakkan kurang lebih 1-2 mil laut dari pantai. 
Kondisi ombak yang cukup kuat dan mengayun dengan gelombang yang lebih besar 
akan menghasilkan listrik dengan tegangan yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil 
penelitian Universitas Oregon, setiap pelampung mampu menghasilkan daya sebesar 
250 kilowatt. 

Penjelasan di atas menggunakan teknik koil yang bergerak naik turun, tetapi 
bisa juga dengan teknik batang magnet yang bergerak naik turun. Pilihan kedua 
dengan menggunakan pelampung, penempatan koil dan batang magnet bisa juga 
ditempatkan di dasar atau di permukaan laut. 

Jika dibandingkan dengan energi angin atau matahari, kerapatan energi gelombang 
laut jauh lebih tinggi. Peneliti yang sama dari OSU, Alan Wallace, menyebutkan 
penyediaan energi gelombang itu dengan hanya 200 buoy yang diapungkan, satu 
buah pelabuhan atau kota besar seperti Portland yang besarnya hampir dua kali 
Jakarta sudah dapat memanfaatkan energinya dengan sangat melimpah tanpa harus 
menarik bayaran. 

Keyakinannya semakin lebih diperkuat dengan efisiensi penghasilan energi yang 
tinggi dan besar. Energi gelombang laut ini bisa menjadi energi utama pengganti 
energi sekarang. Di samping nilai ekonomis yang cukup menjanjikan, ada hal-hal 
lain yang dapat memberikan keuntungan di bidang lingkungan hidup. Energi itu 
lebih ramah lingkungan, tidak menimbulkan polusi suara, emisi CO2, maupun 
polusi visual dan sekaligus mampu memberikan ruang kepada kehidupan laut. 

Energi ganggang laut 

Alga atau dikenal sebagai tanaman ganggang termasuk tumbuhan yang bisa tumbuh 
di perairan mana saja. Selain tidak memerlukan air tawar untuk tumbuh, alga 
dapat ditanam di lahan yang tidak subur dan perairan laut dangkal yang banyak 
terdapat di Indonesia yang notabene beriklim tropis. 

Walaupun tidak memerlukan lahan luas, potensi hayati yang dimiliki alga dinilai 
luar biasa oleh para ahli biologi. Beberapa waktu lalu, pemerintah Amerika 
Serikat mengumumkan akan mengambil sumber hayati tersebut sebagai salah satu 
cadangan untuk menggantikan BBM fosil, yang dalam waktu tidak lama 
diperhitungkan akan habis dari perut bumi. 

Sebagaimana diketahui, mikroalga menggunakan sinar matahari, air, dan karbon 
dioksida untuk menghasilkan oksigen dan bioenergi melalui fotosintesis. 
Tanaman, yang tampak tumbuh di permukaan air, dapat dibudidayakan pada lahan 
marginal di kolam terbuka atau di mesin-mesin khusus yang disebut inkubasi 
photobioreactors, yang menggunakan emisi karbon dioksida dari industri makanan. 

Sesuai dengan hasil penelitian, ganggang disebut-sebut lebih produktif daripada 
tanaman lain karena mereka terus membuat bahan bakar terlepas dari cuacanya. 
Semua kebutuhan bahan bakar transportasi Amerika Serikat secara teori bisa 
dipenuhi ganggang yang dibudidayakan di suatu daerah seukuran negara Belgia. 
Tanaman itu merupakan salah satu 'generasi kedua' dari bioenergi, yang 
dirancang untuk mengatasi kekurangan bahan bakar dari biji-bijian. 

Hebatnya, selain bisa dimanfaatkan sebagai bioenergi atau bahan bakar minyak, 
alga juga ternyata bisa menjadi sumber listrik yang potensial dan cukup 
berharga bagi kehidupan masa depan manusia. Para ahli bioelektro dari Stanford 
University, AS, dan Yonsei University, Seoul, Korea Selatan, beberapa waktu 
lalu, ternyata menemukan sumber energi listrik masa depan yang dihasilkan dari 
sel alga. 

Oleh Y Paonganan 
Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute

Kirim email ke