http://green.kompasiana.com/polusi/2011/03/21/setelah-bencana-nuklir-fukushima-indonesia-tetap-mau-bangun-pltn/

Daniel H.t.Setelah Bencana Nuklir Fukushima, Indonesia Tetap Mau Bangun 
PLTN?OPINI | 21 March 2011 | 
12:24   l(dailymail.co.uk)Saya,dansayayakinsebagianbesarKompasianersangatawammengenaihal-halyangberakitandengannuklir.Namun
 dari pemberitaan berbagai media, kita pun mengetahui bahwa krisis kebocoran 
nuklir Fukushima Daiichi milik Tokyo Electric Power Co. (Tepco), di Prefektur 
Fukushima, akibat dari gempabumi pada 11 Maret 2011 lalu, dengan skala 9,0 SR, 
diikuti tsunami yang sangat dahsyat itu, benar-benar patut membuat orang cemas 
sekali.
Dari hari ke hari, sejak tanggal 11 Maret itu sampai hari ini, begitu reaktor 
nuklir Fukushima Daiichi meledak, pemerintah Jepang pun segera melakukan 
langkah-langkah preventif dengan sangat hati-hati untuk mencegah terjadi 
kebocoran radio aktif. Karena sedikit saja ceroboh, sedikit saja memandang 
enteng masalah, krisis nuklir tersebut bisa menjelma menjadi neraka yang akan 
membunuh ratusan ribu sampai jutaan manusia.
Otoritas nuklir Jepang segera menetapkan radius beberapa kilometer bagi 
penduduk yang harus segera mengungsi supaya tidak terkena efek berbahaya dari 
kebocoran nulir itu. Penduduk pun dideteksi seluruh tubuhnya dari kemungkinan 
telah terpaparnya reaksi nuklir itu. Beberapa di antaranya telah dikarantinakan.
Beberapa pemerintah negara asing segera meminta warganegaranya untuk sedapat 
mungkin keluar dari Jepang. Terutama bagi mereka yang tinggal dalam radius 
beberapa kilometer tertentu dari Fukushima. Bahkan himbauan itu berlaku pula di 
Tokyo.
Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa air, susu dan sayuran mulai terkena 
radiasi dari bocornya nuklir di Fukushima itu. Bahkan air kran di Tokyo yang 
berjarak 250 km dari pusat nuklir, juga dideteksi mulai tercemar. Meskipun 
masih dalam taraf aman untuk dikonsumsi.
Ditetapkan pula daerah aman radiasi terhadap manusia sampai dengan radius 80 km 
dari lokasi pusat nuklir di Fukushima.
Semua fenomena tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana gempabumi dan tsunami 
terhadap pusat nuklir Fukushima itu sangat serius. Kemungkinan besar dengan 
pertimbangan itulah negara-negara maju seperti AS tidak mau membangun PLTN di 
negaranya.

Hari ini, Minggu, 20 Maret diberitakan sejumlah warga negara Jepang di Tokyo 
melakukan demonstrasi agar pemerintahnya segera menutup PLTN yang lain yang 
berada di Jepang.
Kanselir Jerman, Angela Merkel, telah mengumumkan bahwa ada tujuh reaktor 
nuklir yang telah beroperasi sejak 1980 di negaranya. Tujuh reaktor nuklir itu 
akan ditutup.Tim pemeriksa segera dibentuk untuk memeriksa apakah 
reaktor-reaktor nuklir itu akan ditutup sementara ataukah selamanya.
Presiden Venezuela yang dikenal berhati keras, pun gentar menyaksikan apa yang 
terjadi di Fukushima, Jepang itu. Maka dia memutuskan bahwa rencana pembangunan 
PLTN di negaranya yang telah ditandatangani dengan Rusia pada 2010 lalu, 
dipastikan ditunda untuk waktu yang belum diketahui.
Maka kita sebenarnya patut juga mempertanyakan rencana pemerintah RI untuk 
membangun PLTN di Indonesia. Ada beberapa daerah yang rencananya dijadikan 
lokasi pembangunan PLTN itu. Di antaranya yang dianggap berpotensi adalah di 
Semenanjung Muria, Jawa Tengah dan Provinsi Bangka, Belitung.
Sedangkan Indonesia termasuk negara yang mempunyai potensi gempabumi berskala 
tinggi (rata-rata 7.0 SR), yang bisa merusak reaktor nuklir seperti yang kini 
terjadi di Jepang.
Bagaimana kita tidak khawatir kalau pemerintah kita yang terkenal rata-rata 
mempunyai kualitas sumber daya manusia yang masih di bawah standar, tingkat 
disiplinnya yang rendah, dan yang untuk menangani macetnya lalu-lintas, banjir, 
dan byar-pet-nya listrik saja tidak becus. Apalagi mau dipercayakan untuk 
menangani pusat reaktor nuklir (PLTN)?
Iwan Kurniawan, pakar fisika nuklir dari Tsukuba, Jepang, mengatakan, rencana 
pemerintah RI membangun PLTN di Indonesia harus segera dibatalkan. Indonesia 
dinilai belum siap untuk menangani masalah jika terjadi kebocoran 
nuklir.“Kita nggak sanggup. Bencana di Aceh (tsunami) dan Yogyakarta (letusan 
Gunung Merapi) saja tidak sanggup ditangani. Itu debunya, wedhus gembel, 
kelihatan. Kalau nuklir tidak terlihat,” ujar Iwan dalam diskusi bertajuk 
“Gerakan Anti PLTN di Indonesia” di Jakarta, Rabu 16 Maret 2011 (Viva News, 
16/03/2011)Jepang yang terkenal begitu disiplin, canggih peralatannya, dan 
sumberdaya manusia yang tidak perlu diragukan saja sampai begitu kewalahan, 
bahkan ada yang meramalkan tidak akan mampu diatasi secara maksimal. Reaktor 
nuklir ini juga hampir dipastikan akan ditutup selamanya.
Dengan demikian., apakah kita masih mempunyai alasan cukup untuk tetap optimis 
rencana pembangunan PLTN di negara ini?
Meskipun awam, kita dapat merasakan tentang begitu tingginya risiko dari 
pembangunan sebuah PLTN.
Tapi ada yang “tampil beda”.
Agus Musthofa, alumnus Teknik Nuklir Universitas Gajah Mada malah secara 
tersirat setuju pembangunan PLTN di Indonesia. Katanya, merupakan alternatif 
dan sebagai langkah verifikasi enerji. Yakni, ketika bahan fosil, seperti 
minyak bumi, batu bara, dan gas alam dudah tidak bisa diandalkan lagi, karena 
tidak lama lagi bakal habis.
Dalam tulisannya di Jawa Pos, Kamis, 17 Maret 2011, dengan judul “Kecemasan 
Efek Radioaktif di Jepang Berlebihan,” Agus Musthofa antara lain mengatakan 
bahwa kekhawatiran tentang dampak kebocoran nuklir di Fukushima Daiichi, Jepang 
itu terlalu berlebihan. Bahkan cenderung tidak rasional.Baik di Jepang, maupun 
di Indonesia.
Dalam tulisannya itu 90 persen hanya membahas tentang kadar batas aman manusia 
terkena radiasi secara umum. Dia juga membedakan antara orang umum dengan 
pekerja di reaktor nuklir. Berbeda ambang toleransinya terkontamidasi 
radioaktif nuklir. Tetapi tidak menjelaskan kenapa bisa dibedakan. Padahal 
sama-sama manusia, dan relatif punya daya tahan tubuh yang sama. Mungkin karena 
pekerja di reaktor nuklir dibantu dengan pakaian kedap udara dan mengkonsumsi 
pel-pel tertentu untuk mengurangi reaksi nuklir pada tubuhnya? Tidak 
dijelaskan.Pada hari yang sama (11/03) setelah tsunami menghancurkan reaktor 
nuklir di Fukushima itu, pemerintah Jepang langsung menyatakan darurat nuklir. 
Sedangkan tulisan Agus Musthofa yang menyatakan kecemasan nuklir Fukushima 
terlalu berlebihan itu, dimuat di Jawa Pos 17/03/2011.
Beberapa hari setelah bencana, tingkat radiasi di pintu masuk PLTN dinyatakan 
berada pada level yang langsung membunuh manusia yang berada di sana, atau 
menyebabkan mereka menderita penyakit mengerikan dalam sisa hidup mereka. Para 
ahli mengatakan, pakaian kedap udara yang dikenakan para pekerja reaktor hanya 
sedikit bisa menghentikan paparan radiasi.
Dari reaktor nuklir Fukushima ini pula muncul cerita heroik dari para pekerja 
yang memilih dengan sukarela dan sadar untuk tetap bekerja di sana untuk 
berupaya keras menghentikan kebocoran radiasi menjadi lebih parah. Mereka yang 
disebut dengan sebutan “Fukushima-Fifty” dikatakan telah memilih untuk 
mengorbankan jiwanya demi berhasilnya misi kemanusiaan tersebut.
Fukushima Fifty terdiri dari 200 orang pekerja dengan 50 di antaranya merupakan 
pekerja senior yang memimpin misi bunuhdiri tersebut demi keselamatan umat 
manusia. Sedangkan 700 pekerja lain telah menyelamatkan diri begitu pertama 
kali reaktor meledak.
Musibah nuklir ini bagi Jepang merupakan petaka terburuk setelah Perang Dunia 
Kedua, yaitu waktu dua bom atom dijatuhkan AS di Hiroshima dan Nagasaki (6 dan 
9 Agustus 1945), dan dikhawatirkan akan menjadi petaka nuklir seperti di 
Chernobyl, Ukraina, pada 26 April 1986.
Kota Mati Chernobyl, akibat ledakan nuklir pada 26 April 1986
Pada pukul 01:23 malam, 26 April 1986, Reaktor nomor 4 di Pembangkit Listrik 
Tenaga Nuklir Chernobyl, Ukraina, meledak saat sedang dilakukan uji keamanan. 
Ledakan yang membawa kehancuran yang begitu dahsyat untuk daerah sekitarnya, 
efek ledakan bahkan dirasakan sampai Inggris dan Skandinavia. Nuklir yang 
melepaskan tenaga 400 kali lebih kuat dari bom atom Hiroshima ini menyebabkan 
krisis fatal yang masih dirasakan sampai hari ini. Lima persen dari besar 
anggaran nasional Ukraina sampai sekarang masih didedikasikan untuk mengatasi 
konsekuensi ledakan, seperti kanker akibat radiasi. 
(http://irengputih.com/chernobyl)
Bencana nuklir di Chernobyl dinyatakan sebagai terburuk dalam sejarah manusia 
moderen. Menyebabkan kota Chernobyl ditinggalkan untuk selamanya oleh 5 juta 
penduduknya yang terkena radiasi, dengan berbagai penyakit, cacat fisik sampai 
kanker. Kota tersebut menjadi kota mati sampai sekarang.
International Nuclear and Radiological Event Scale (INES) mencatat bahwa skala 
bahaya nuklir di Chernobyl berada pada level 7.
Bandingkan dengan penetapan skala bahaya nuklir di Fukushima yang saat ini 
ditetapkan berada pada level 5.
(Reuters / Dailymail.co.uk)
Yang membuat saya bertanya-tanya adalah kenapa Agus Musthofa bisa mengatakan 
bahwa kecemasan Jepang dan dunia terhadap bocornya reaktor nuklir di Jepang itu 
sebagai sesuatu yang berlebihan, bahkan tidak rasional? Dikatakan juga, ketika 
para pekerja reaktor Fukushima terkena radiasi nuklir, kita tidak bisa 
serta-merta mengatakan itu sebagai bencana yang membahayakan. Masih harus 
dilihat seberapa besar dosis yang mereka terima. Dalam kenyataannya, kecemasan 
dunia itu malah semakin terbukti, bahwa para pekerja nuklir di sana telah 
dipastikan melakukan misi bunuh diri untuk mengatasi krisis nuklir sebagaimana 
disebutkan di atas.
Kalau untuk di Indonesia, yang sempat beredar pesan berantai di SMS, dan BBM, 
tentang radiasi nuklir Fukushima, Jepang, akan sampai di Indonesia dalam bentuk 
hujan asam, dan sebagainya, itu memang bisa dikatakan berlebihan. Bahkan saya 
yakin itu hanya hanya hasil kerja orang iseng saja.
Tetapi kalau Agus sampai mengatakan bahkan di Jepang pun kecemasan itu 
berlebihan, patut dipertanyakan analisanya itu. Padahal tulisan itu dimuat 
di Jawa Pos, edisi Kamis, 17/03/2011, yang berarti mungkin tulisan itu dibuat 
sehari sebelumya (16/03), di mana pada waktu itu krisis nuklir Fukushima sudah 
sampaipada taraf mencemaskan para pakar nuklir Jepang yang sudah terkenal 
kepiawaiannya dalam hal nuklir.
Perkembangan terakhir ini membuktikan bahwa kekhawatiran sejak awal para ahli 
sangat beralasan. Tingkat radiasi semakin mengkhawatirkan dengan ditemukan air, 
susu, dan sayuran sejenis bayam telah terkena radiasi pada 19 Maret. Padahal 
produk susu dan sayuran tersebut diproduksi di luar zona eksklusif 30 kilometer 
dari radius PLTN Fukushima Daiichi.
Hingga tanggal 19 Maret itu pula pemerintah telah mengevakuasi 800 pasien dari 
rumah-rumah sakit pada radius 30 kilometer dari PLTN Fukushima itu.Jadi, 
sesungguhnya, memang krisis nuklir Fukushima ini benar-benar mengkhawatirkan. 
Dunia berdoa, semoga misi Fukushima-Fifty tidak sia-sia mengorbankan nyawa di 
sana. Amin, ***
(dari berbagai sumber)
http://www.indopos.co.id/index.php/component/content/article/66-indopos/8109-kecemasan-efek-radioaktif-di-jepang-berlebihan.html
http://www.dailymail.co.uk/news/article-1367801/Japan-tsunami-Cancer-fear-radiation-gets-Tokyos-tap-water.html

Kirim email ke