2 artikel menarik terkait pendidikan.semoga berkenan.
Best Regards and Wassalam,



Nugon

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2011/05/06/ArticleHtmls/06_05_2011_018_003.shtml?Mode=0
Sekolah Mesti Mendesain Sistem Belajar Mandiri



MEMANG menjadi sesuatu yang wajar jika anak didik setelah ujian nasional (UN) 
mendapat media pembelajaran lanjutan. Pasalnya, di masa kekosongan yang cukup 
panjang antara UN dan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN), 
siswa cenderung melupakan materi pelajaran.Bimbingan belajar (bimbel) pun 
akhirnya jadi incaran di masa kekosongan itu. Tak lain, tujuannya guna menambah 
latihan-latihan soal agar saat menghadapi SNMPTN tidak lagi grogi, dan yang 
paling utama agar bisa menembus salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) 
favorit.Permasalahan yang ada saat ini banyak bimbel-bimbel yang memberi 
janji-janji kelulusan dengan jaminan uang kembali apabila anak tidak berhasil 
lulus SNMPTN. Hal itu tentunya bukan lagi menjadi ranah pendidikan yang 
bermanfaat bagi siswa.“Janji-janji intelektual yang tidak mendidik itu, seperti 
jaminan uang kembali, justru membuat orang tua terpaksa menguras biaya. Hal ini 
yang harusnya mendapat perhatian para orang
 tua agar tidak terjebak,” papar pakar pendidikan dari Universitas Negeri 
Jakarta (UNJ) Arief Rachman di Jakarta, Selasa (3/5).Senada dengannya, 
Koordinator Koalisi Pendidikan Lody Paat, mengkritisi fungsi bimbel yang justru 
menjadi tempat mencari soal bocoran. Padahal, sejatinya bimbel itu 
untukmembantu murid belajar, sehingga paham atas mata pelajaran yang sulit 
dikuasai.“Karena fungsi yang salah itulah, akhirnya banyak biaya besar keluar 
dari orang tua untuk biaya bimbel. Mestinya, uang untuk bimbel itu bisa 
dialokasikan untuk kursus yang sifatnya keterampilan,” kata Lody.Pemerintah 
sendiri tak berkutik dengan kehadiran bimbel itu dan hal-hal yang sifatnya 
kursus keterampilan justru terabaikan. Direktur Pembinaan Kursus dan Pelatihan 
Kementerian Pendidikan Nasional Wartanto mengakui, lakunya bimbel di era 
pra-SNMPTN tersebut adalah imbas dari masih tidak meratanya kualifi kasi 
pengajar. Terutama, guru-guru mata pelajaran yang dipandang sulit
 oleh peserta didik seperti, matematika, fisika, bahasa inggris, dan 
kimia.“Anak tidak percaya diri, orang tua cemas, guru dan kepala sekolah pun 
khawatir.Faktor-faktor itu, yang saling mendukung fenomena menjamurnya bimbel 
ini," jelasnya.Dengan segala keterbatasan infrastruktur dan sumber daya manusia 
itulah, yang lantas membuat guru dan orang tua membiarkan kehadiran bimbel agar 
tetap memberi manfaat bagi anak.Namun, jelas Wartanto, hendaknya orang tua juga 
memper siapkan anaknya dengan keterampilan yang dapat diperoleh dari kursus 
keterampilan seperti, kursus bahasa asing, memasak, elektronik, kecantikan, dan 
lain-lain.“Ini yang mesti diperhatikan juga oleh orang tua atau guru.Jadi tidak 
semata-mata mengejar target SNMPTN,” ungkap Wartanto.Hal itu, kata Koordinator 
Penyusunan Soal SNMPTN Suparno, mestinya bisa dilakukan jika sekolah 
mengutamakan belajar mandiri. Dengan kata lain, alokasi uang untuk bimbel 
menjelang SNMPTN bisa disisihkan untuk
 kursus keterampilan karena sekolah sendiri sudah matang mempersiapkan siswanya 
menghadapi SNMPTN.Kematangan mempersiapkan diri oleh sekolah, jelas Suparno, 
memang perlu karena bisnis bimbel semakin menggiurkan akibat belum terbentuknya 
pola kedewasaan siswa dalam menghadapi ujian. Jika sekolah matang menyiapkan 
siswanya untuk SNMPTN, SNMPTN cuma dianggap proses pendidikan biasa."Jadi, 
dengan belajar mandiri yang dipersiapkan sekolah, orang tua tak perlu lagi 
merogoh kocek guna membiayai mahal-mahal anaknya ikut bimbel menjelang SNMPTN.
Uang itu bisa dialokasikan buat kursus keterampilan," kata Suparno.Ketua Umum 
Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Suparman pun sama halnya dengan 
pendapat Suparno.
Menurutnya, bimbel hanya memberikan target jangka pendek dari sisi 
pedagogis."Sistem belajar siswa secara mandiri tetap yang terbaik dan harus 
didesain sekolah. Adapun uang yang mestinya untuk bimbel bisa dialokasikan 
untuk memberi keterampilan tambahan bagi siswa," tandas Suparman. (*/H-2)


http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2011/05/06/ArticleHtmls/06_05_2011_017_022.shtml?Mode=0


Menyemai Pendidikan Inklusif di NTT


PEMENUHAN hak anak atas pendidikan tidak memandang keutuhan fisiknya. Anak 
cacat fisik dan punya kelemahan psikis, atau dikenal anak berkebu tuhan khusus, 
juga berhak memperoleh pendidikan setara anak normal. Itulah dasar terciptanya 
pola pendidikan inklusif.Pola pendidikan inklusif itu menyatukan anak normal 
dengan anak berkebutuhan khusus dalam satu sekolah (sekolah inklusif). Bagi 
anak berkebutuhan khusus, sekolah inklusif bermanfaat memperluas akses mereka 
terhadap layanan pendidikan.
Adapun untuk anak normal, keberadaan teman berkebutuhan khusus melatih kepekaan 
sosial mereka.Guna mendorong sekolah inklusif, pemerintah pusat juga 
menargetkan pada setiap kecamatan, minimal ada satu sekolah inklusif. Salah 
satu daerah yang mulai melaksanakan program tersebut adalah Kabupaten Lembata, 
Nusa Tenggara Timur.Hal itulah yang digagas lembaga swadaya masyarakat (LSM) 
Plan Indonesia bersama dengan pemerintah daerah Lembata.
Keduanya berencana menjadikan 10 sekolah dasar (SD) di Lembata menjadi SD 
inklusif.Ke-10 SD yang tersebar di sembilan kecamatan di Lembata itu, 
diharapkan menjadi solusi bagi anak berkebutuhan khusus.Mengingat, berdasar 
survei awal Plan Indonesia di 10 SD itu, diketahui 27% siswanya (452 anak) 
tergolong sebagai anak berkebutuhan khusus. Termasuk dalam ABK tersebut, yakni 
anak berkemampuan luar biasa, lamban belajar, memiliki gangguan komunikasi, 
kesulitan dalam belajar spesifik (sulit membaca, menulis, dan berhitung), 
tunalaras, tunagrahita, tunarungu, tunadaksa, dan tunanetra.`'Sementara itu, di 
Lembata baru ada satu sekolah luar biasa.
Melalui program school improve ment program ini, kita harap anak berkebutuhan 
khusus mendapat perhatian di sekolahnya,'' ujar Manager Unit Plan Indonesia 
Lembata M Thamrin, baru-baru ini, di Lembata.Ia mengakui, program yang baru 
berjalan setahun terakhir itu masih mengalami kendala terutama fasilitas dan 
tenaga ahli. Mengenai fasilitas, sekolahsekolah itu `belum ramah' atas anak 
penyandang disabilitas, dan untuk tenaga ahli, juga baru sebagian kecil guru, 
yang mendapat pelatihan pendidikan inklusif. (Nik/H-2)



Kirim email ke