Temanggung kota kecil, tapi mampu membangun perpustakaan yang megah dan lengkap. Kaum disabilitas pun merasa tidak ditinggalkan. Seumur hidup baru sekarang saya merasakan ada perpustakaan khusus untuk kaum tunanetra.'' JEMARI tangan Siti Rokhani, 23, bergerak lembut. Jari mungilnya terus meraba huruf-huruf braille yang tertera dalam buku soal pengobatan herbal itu. Senin siang, pekan lalu, Siti mengunjungi Perpustakaan Braille yang berada di dalam gedung Perpustakaan Umum Kartini milik Pemerintah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Di dalam gedung yang terletak di Jalan Jenderal Soedirman 123 itu, dahaga ‘membacanya’ terpuaskan. Bibir Siti tak lelah mengucapkan tulisan braille yang dirabanya. Setelah sekitar 1 jam, ia sudah merampungkan buku tentang pengobatan herbal itu. Remaja tunanetra asal Desa Jetis, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini beranjak dari duduknya. Ia mengambil satu buku braille lain dari rak perpustakaan. Kali ini, buku tentang cerita rakyat.Kembali, buku cerita itu habis dibacanya dalam waktu kurang dari 30 menit. Siti belum lelah dengan petualangannya. Kali ini, ia mengambil kitab suci Alquran yang disusun dari huruf braille. “Saya senang sekali berada di sini. Se umur hidup baru sekarang saya merasakan ada perpustakaan khusus untuk kaum tunanetra,” kata Siti. Ia tahu banyak perpustakaan yang dibangun di negeri ini. Tapi, ia mendengar kebanyakan perpustakaan hanya menyediakan buku untuk orang normal saja. Putri pasangan Sukorejo, 60, dan Panikem, 50, ini telah mengalami kebutaan sejak lahir.Sejak kecil, Siti sangat haus akan buku bacaan dan pengetahuan. Karena itu, anak kelima dari enam bersaudara ini kerap mengajak saudara dan temannya mengunjungi perpustakaan di Kota Yogyakarta. Sayangnya, kebanyakan perpustakaan hanya menyediakan koleksi bacaan bukan dengan huruf braille. Saudara atau teman Siti pun harus rela membacakan satu atau dua buku untuknya. “Mereka membacakan buku untuk saya, dan saya mendengarkan. Dengan cara itu saya mendapat pengetahuan baru,” kata Siti.Kehadiran Perpustakaan Braille di Temanggung melegakan Siti. Kini ia tidak perlu lagi bergantung pada orang lain untuk membacakan sebuah buku karena bisa melakukannya sendiri. Apalagi letak perpustakaan itu tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya sekarang ini. Siti tercatat sebagai salah satu pelajar di Panti Tunanetra dan Tunarungu Wicara Penganthi yang berada di kawasan Kerkop, Temanggung.Siti tergolong pelajar cerdas di sekolahnya. Sejak berusia 14 tahun, ia mahir membaca huruf braille. Hanya perlu waktu belajar selama tiga bulan untuk membuatnya menguasai keahlian membaca dengan jari tangan itu. Kegirangan menemukan telaga penuh air di kala dahaga juga dirasakan Deden, 24. Pemuda yang senasib dengan Siti itu kini juga mulai mahir mengoperasikan komputer yang menggunakan fasilitas braille.Perangkat itu disediakan di sudut perpustakaan yang sama. "Saya senang sekali bisa belajar komputer meskipun saya tidak bisa melihat. Di perpus takaan ini ada komputer berfasilitas braille, juga ada pembimbing untuk mengajari kami," kata Deden. Hati Deden memang sedang berbungabunga. Ia seperti anak-anak yang mendapat hadiah mainan baru. Karena itu, ajakan untuk mengobrol dari sejumlah orang yang mendekatinya tak ia hiraukan. Deden terus tenggelam dalam kesukaan. Fasilitas lengkap Pembimbing dari Panti Tunanetra dan Tunarungu Wicara Penganthi Kabupaten Temanggung, Sugiarti, menyambut baik keberadaan perpustakaan braille ini. "Anak anak kami bisa membaca dan memperoleh pengetahuan baru dengan banyak buku braille di perpustakaan ini.” Satu lagi dan yang paling penting, “Mereka bisa bersosialisasi karena di perpustakaan ini mereka bertemu banyak orang,” tambah Sugiarti. Perpustakaan Umum Kartini baru berdiri tahun ini dan diresmikan oleh Bupati Temanggung Hasyim Affandi awal Mei lalu.Selain perpustakaan, di gedung yang sama juga terdapat bagian yang berfungsi sebagai kantor arsip dan pusat dokumentasi.Dana yang dikucurkan untuk membangun seluruhnya berasal dari APBD Kabupaten Temanggung, masing-masing pada 2009 dan 2010. Total biaya pembangunan gedung dan isinya mencapai Rp4 miliar.Gedung perpustakaan ini sangat megah. Dibangun berlantai dua, dengan luas 988 meter persegi pada lantai satu dan 1.014 meter persegi untuk lantai dua. Pembangunan perpustakaan selesai pada pertengahan April. Perpustakaan ini memiliki koleksi sebanyak 32.715 eksemplar buku dan majalah. Jumlah anggota tercatat mencapai 8.700 orang.Peminjam buku dari perpustakaan ini per hari rata-rata 72 orang atau 800 eksemplar per bulan. Jumlah pengunjung perpustakaan sekitar 125 orang per hari. Kepala Kantor Arsip, Perpustakaan, dan Dokumentasi Kabupaten Temanggung Bambang Edhi Hartono menyebutkan perpustakaan yang dikelolanya menyediakan koleksi braille, koleksi buku dan pembelajaran untuk anak, juga multimedia. “Layanan lain yang dikoordinasikan dari sini adalah perpustakaan keliling, bimbingan dan pengembangan perpustakaan, serta konsultasi dan praktik kerja lapangan.” Di kompleks perpustakaan juga disediakan musala. Ada juga kolam renang dan taman yang dibangun di belakang gedung. “Ke depan, fasilitas perpustakaan akan dilengkapi dengan bioskop empat dimensi,” tandas Bambang Edhi.Bupati Temanggung pun berharap keberadaan perpustakaan ini mampu mendorong warganya bisa lebih maju karena gemar membaca. “Yang membuat saya bangga, meski APBD Temanggung lebih kecil daripada daerah lain, kami berhasil membangun tempat ini. Perpustakaan Temanggung ini paling besar, megah, dan bagus di Jawa Tengah,” kata Hasyim Affandi bangga.Hasyim pun meyakinkan warga Temanggung bahwa ciri masyarakat maju adalah disiplin, kerja keras, dan gemar membaca. “Keberadaan perpustakaan ini akan membuat Temanggung lebih maju karena masyarakatnya jadi gemar membaca.” (N-2)EMAIL [email protected]
