http://groups.yahoo.com/group/mualafindonesia/message/15157
Perjalanan Seekor Burung Pipit Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor 
Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan 
yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat 
yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon 
kabarnya, udara disana selalu dingin dan sejuk. Benar, pelan-pelan dia 
merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat 
memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan 
sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia 
jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang 
menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak mampu berbuat 
apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat. Dia merintih menyesali 
nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang 
menghampirinya. Namun si burung kecewa mengapa
 yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan 
mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk 
menolongnya. Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing 
tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki-maki si 
Kerbau. Lagi-lagi si Kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan 
mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak 
dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa dia 
akan mati karena tak bisa bernapas. Namun perlahan lahan, dia merasakan 
kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya 
kotoran kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. 
Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas 
puas-puasnya. Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing 
menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh
 si burung dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan 
sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, 
si Burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman 
yang ramah dan baik hati. Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga 
dunia terasa gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit 
ditelan oleh si Kucing. Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai 
sebagai pelajaran, diantaranya : Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, 
belum tentu cocok buat kita.Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai 
sebagai satu-satunya ukuran.Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, 
kadang-kadang bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula 
sebaliknya.Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan 
terburu nafsu, agar tidak kebablasan.Waspadalah terhadap orang yang memberikan 
janji yang
 berlebihan Sumber : Dari Sahabat (myQuran.org)

Kirim email ke