http://koran.republika.co.id/koran/203/136723/Mengapa_Idiot_Mengapa_Gila Kamis, 09 Juni 2011 pukul 14:04:00Mengapa Idiot? Mengapa Gila? Oleh Andi Nur Aminah
Kadar air dan tanah mengandung logam berat yang bisa mengikat yodium dalam air tanah. Kabupaten Ponorogo terkenal dengan kesenian khasnya, Reog. Selain itu, juga dikenal sebagai kota santri dengan sejumlah pesantren, baik yang modern maupun yang masih menjalankan warisan ulama-ulama kuno. Namun, ada sisi lain yang juga membuat kabupaten yang terletak sekitar 200 kilometer dari Surabaya ini terkenal. Ponorogo memiliki empat desa yang dilabeli sebutan ‘kampung idiot’ dan ‘kampung gila’. Duh, sebutan tersebut kedengarannya sangat tak pantas. 'Kampung idiot' ada di empat desa, yakni Krebet dan Sidoharjo di Kecamatan Jambon, serta desa Karang Patihan dan Pandak di Kecamatan Balong. Sementara itu, 'kampung gila' adalah sebutan bagi desa Paringan, Kecamatan Jenongan. Sebetulnya, tidak seluruh warga kampung tersebut masuk kategori idiot atau gila seperti pelabelan yang telanjur sudah melekat. Jumlahnya yang idiot hanya 0,1 persen hingga 4,1 persen dari jumlah penduduk di masing-masing desa. Sementara yang gila hanya 1,3 persen dari jumlah penduduk desa itu. Namun tak urung perhatian kepada mereka memang menyedot perhatian. Di 'kampung idiot' sudah cukup banyak perhatian dan bantuan berbagai pihak bergulir, meski sifatnya musiman. Jika bantuan mengalir, para warga boleh sedikit bergembira. Namun jika sedang sepi, mereka hanya bisa gigit jari, menunggu dan menunggu bantuan dari orang lain. Bupati Ponorogo HM Amin mengatakan, orang-orang idiot di empat perkampungan itu sudah ada sejak 30 tahun yang lalu. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Diberdayakan, diberikan pekerjaan pun, mereka tidak bisa. “Jeleknya saja, kalau dikatakan, mereka tinggal menunggu ajal,” ujar Amin. Amin mengatakan, perhatian dan bantuan sudah terus dilakukan di perkampungan idiot tersebut. Namun, tudingan seakan pemerintah tak berbuat apa-apa kepada warga yang mengalami keterbelakangan mental itu tetap saja bergulir. “Kita berbuat saja tetap disalahkan, apalagi tidak melakukan apa-apa,” ujar dia. Kemiskinan berkepanjangan pernah terjadi di daerah Ponorogo. Kondisi tersebut telah membuahkan sebuah generasi yang lahir dengan kondisi sangat memprihatinkan. Sehingga, beberapa keluarga bisa ditemukan mengalami keterbelakangan mental dari generasi ke generasi turunannya. Dari kakek-neneknya, menurun ke ayah ibu, hingga anak cucu. Wilayah Ponorogo berbatasan dengan Kabupaten Magetan dan Madiun di sebelah utara, Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek di sebelah timur, Kabupaten Pacitan di barat daya, serta berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri di sebelah barat. Ponorogo memiliki luas wilayah 1.371,78 kilometer persegi. Kawasan ini terbagi dalam dua subarea, yaitu dataran tinggi mencakup Kecamatan Ngrayun, Sooko, Pulung, Pudak, serta Ngebel. Sisanya berada di dataran rendah. Jumlah penduduknya sesuai data 2010 sebanyak 855.281 jiwa, ter diri atas 427.592 laki-laki dan 427.689 pe rem puan. Dari jumlah tersebut, 350.056 jiwa di antaranya termasuk masyarakat miskin yang tersebar di 305 desa dan kelurahan. Masyarakatnya kebanyakan menggantungkan diri dari pertanian. Mata pencaharian warga adalah bertanam padi, tembakau, ubi kayu, jagung, kacang kedelai, kacang tanah, dan tebu. Namun, kondisi tanah di wilayah Ponorogo, terutama di empat desa yang disebut kampung idiot, memang kurang subur. Bahkan, menurut Kadis Kesehatan Ponorogo, Andy Nurdiana, setelah dila kukan penelitian terhadap kondisi air dan tanah oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Surabaya pada 2010 lalu di kawasan desa tersebut, ditemukan adanya kandungan logam berat dan berbahaya. Logam berat itu adalah Pb (timah hitam) dan Hg (mercury) kurang dari 0,1 wt persen. Selain itu, juga terdapat kandungan Cd (cadmium) dan Cr (logam berat berdaya racun tinggi) meskipun relatif kecil, yakni kurang dari 0,02 wt persen. Logam berat tersebut termasuk dalam anorganik yang bisa menyebabkan kerusakan tiroid atau kelenjar gondok. Logam berat bisa mengikat yodium dalam air tanah sehingga pada air yang diminum di kawasan tersebut kadar yodiumnya akan sangat rendah. Dengan adanya kandungan logam berat di kawasan tersebut, berarti dalam kurun waktu berpuluh-puluh tahun lamanya, dari generasi ke generasi, warga memang telah tercemari. Dampaknya, semua mahluk hidup di kawasan tersebut otomatis ikut terkena. Artinya, hewan, tumbuhan, dan manusia yang membentuk rantai makanan juga terkena imbasnya. Dinas Kesehatan Ponorogo telah melakukan sejumlah intervensi demi mengurai kasus-kasus keterbelakangan mental yang disebabkan Gangguan Akibat Keku rangan Yodium (GAKY). Intervensi medis telah dilakukan, di antaranya pemeriksaan klinis neurologis dan neurobehavior pada kelompok umur anak SD (kelas 1 hingga kelas 6), kelompok usia remaja, wanita usia subur, ibu hamil, dan ibu menyusui. Selain itu, juga dilakukan pengukuran antripometri, status gizi, serta tumbuh kembang dengan perhitungan capute scale pada anak usia 0-6 tahun. Itulah kasuskasus GAKY di empat desa di Ponorogo. Upaya untuk pemenuhan kebutuhan garam beryodium untuk penderita pun terus dilakukan melalui penerbitan perda dan penegakan hukum. Daerah-daerah yang dinyatakan endemis GAKY dan banyak ditemukan kasus kretin atau kekerdilan dila kukan pemantauan garam beryodium. Daerahdaerah di sekitarnya yang memiliki tipologi yang sama terus dipantau secara intensif untuk menghindari munculnya kasus baru. Kemiskinan yang sangat lama dan berlangsung beberapa generasi itu, juga telah memengaruhi tingkat pengetahuan, pola pikir, pola makan, dan akhirnya berpenga ruh pada kualitas hidup manusia di empat desa tersebut. Memang, kebanyakan pende rita adalah mereka yang berusia 30 tahun ke atas. Namun, jika dikatakan tidak ada kasus baru terhadap generasi-generasi setelah 25 tahun, hal itu masih perlu diwaspadai. Kondisi lingkungan, pola hidup, dan pola pikir masyarakat desa tersebut masih perlu diintervensi. Karena itu, strategi yang dikembangkan Pemda Ponorogo, di antaranya peningkatan kualitas hidup, pengembangan laboratorium tumbuh kembang, pendirian SLB, serta pemberdayaan ekonomi produktif. Generasi idiot yang sudah telanjur terbentuk sudah tak bisa diberdayakan lagi. Memang tak bisa diapa-apakan lagi. Tapi kami tetap memperhatikan. Kalau perlu dibuatkan satu kamp dan disediakan petugas untuk menjaga, mengurus, dan menantikan kematian mereka, ujar Bupati Amin. Intervensi medis dan nonmedis yang dilakukan saat ini tentu dengan harapan agar generasi setelah 25 tahun kemudian akan jauh lebih baik dan mampu melahirkan keturunan yang sehat dan tak lagi menjadi penderita GAKY. HADIRNYA SEKOLAH INKLUSIF Anak adalah masa depan. Setiap orang tua tentu ingin menyaksikan anak-anak mereka tumbuh dan berkembang, sehat, cerdas, serta berharap bisa bermanfaat bagi kehidupan masa depannya. Tak ada orang tua yang ingin anaknya hanya terlahir, setelah itu hanya bisa seperti boneka. Jika usia mereka panjang, tak bisa berbuat apa-apa, laksana hidup segan mati tak mau. Kasus Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) yang melahirkan orang-orang idiot di Desa Krebet, Kecamatan Jambon, Ponorogo, menjadi pelajaran. Karena itu, tak heran jika saat ini di Desa Krebet dan desa lainnya yang sudah menjadi endemis GAKY, jika ada ibu-ibu yang sedang hamil akan mendapat perhatian ekstra dari petugas. Setelah lahir pun anak-anak mereka akan terus dipantau. Jika keterbelakangan mental ataupun pertumbuhan tak normal terjadi dalam tahap yang bisa diatasi, anak-anak tersebut diupayakan untuk tetap bersekolah. Saat ini, di empat desa endemis GAKY, ada beberapa sekolah yang menjadi sekolah inklusif. Ini diterapkan karena di wilayah tersebut belum ada Sekolah Luar Biasa (SLB) yang bisa menampung anakanak idiot dan memiliki keterbelakangan mental. Sebanyak 159 anak-anak usia SD yang memiliki keterbelakangan mental kini tertampung di SD negeri di Desa Pandak, Karang Patihan, dan Pandak. Masingmasing desa membuka empat SD yang menjadi sekolah inklusif. Sebanyak 159 anak ini menyebar dari kelas 1 hingga kelas 6. Setiap hari mereka berbaur dengan anakanak normal lainnya hingga waktu sekolah berakhir pada pukul 12.00 siang. Setelah itu, anak-anak dengan keterbelakangan mental mendapat materi pelajaran tambahan selama dua jam sebelum akhirnya mereka kembali ke rumah masing-masing. Mereka yang terdaftar di sekolah inklusif ini tidaklah seidiot generasi-generasi sebelumnya. IQ mereka memang di bawah ratarata, tetapi masih bisa diberikan stimulus. Kabid Dikdasmen Ponorogo, Supeno, berharap, jumlah sekolah inklusif tersebut bisa terus bertambah untuk menampung anak-anak yang berkebutuhan khusus. Siswa inklusif terbanyak saat ini tertampung di SD Negeri 4 Krebet, sebanyak 37 anak. Kemudian, di SD Negeri 3 Karangpatihan sebanyak 25 anak, lalu di SD Negeri 1 Krebet sebanyak 21 anak. Selebihnya, menyebar dalam jumlah bervariasi. andi nur aminah http://koran.republika.co.id/koran/203/136725/EPISODE_KEMISKINAN_DI_KAMPUNG_IDIOT Kamis, 09 Juni 2011 pukul 14:23:00EPISODE KEMISKINAN DI 'KAMPUNG IDIOT' Oleh Andi Nur Aminah Kemiskinan yang sangat lama menghasilkan generasi yang kekurangan gizi. Jemari kaki dan tangan lelaki itu terlihat sangat pendek. Lima jemarinya utuh, tapi tak bisa digerakkan atau dipakai menggenggam apa pun. Kelopak matanya rapat, tak pernah terbuka. Badannya terlihat kerdil. Kulitnya kasar dan legam. Rambutnya kusam. Dagunya dipenuhi jenggot yang sebagian sudah mulai memutih. Tukimin (44 tahun), lelaki tersebut, hanya bisa terduduk diam. Dia adalah satu di antara empat bersaudara yang semuanya menderita keterbelakangan mental. Tukimin tiba-tiba buta saat usianya tujuh tahun, setelah sebelumnya mengalami demam tinggi. Selain Tukimin, ada Miratun (40), Legi (32) dan Sinem (27). Mereka adalah warga Desa Krebet, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Miratun bernasib jauh lebih baik daripada saudara-saudaranya. Ia masih bisa diajak bercakap-cakap, walaupun terkadang tidak //nyambung//. Senyumnya selalu merekah memperlihatkan geliginya yang menguning. Tak jarang, wajahnya tiba-tiba berubah bloon. Legi lain lagi. Perempuan yang bibirnya tak bisa terkatup rapat ini, hanya bisa menatap orang dengan pandangan hampa. Legi sejak lahir sudah bisu dan tuli. Belakangan, pandangannya pun mulai kabur. Ia hanya bengong saat ditanya namanya siapa. “Dia tidak bisa bicara, dia gagu,” ujar Miratun, kakaknya sambil tertawa. Tak jauh dari tempat ketiga kakak beradik ini duduk, ada seorang perempuan berpakaian lusuh. Sinem, adalah bungsu dari keluarga yang semuanya idiot ini. Ia hanya bisa ngesot di lantai tanah rumahnya. Sekujur kulit tubuhnya terlihat kusam. Bajunya dekil. Aroma kurang sedap tercium saat menghampirinya lebih dekat. Sinem tak bisa beranjak dari duduknya di tanah tanpa alas itu. Ia baru bisa meninggalkan tempatnya jika ada orang lain yang menggerakkannya. Badannya lumpuh total. Diajak bicara pun sulit. Jika ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, semuanya tak jelas. Seorang warga desa membisikkan, jika Sinem yang malang itu pernah digagahi oleh pamannya sendiri. Miratun, dengan segala kekurangannya, menjadi tumpuan ketiga saudaranya. Miratunlah yang merawat ketiga pasien idiot, kakak dan adik-adiknya itu. Sambil tetap mengumbar senyum, Miratun menuturkan, ia pernah menikah dengan lelaki yang juga idiot dari kampung sebelah. “Tapi tidak lama, saya ditinggalkan, dia ada di kampungnya,” ujar Miratun. Namun, tak seluruh anak pasangan Kasan dan Sukinah yang sudah almarhum itu menderita idiot. Menurut Patona (24), Miratun memiliki saudara delapan orang. Empat orang lainnya tidak idiot meskipun memiliki kecacatan. “Ibu saya buta, tapi tidak idiot,” ujar Patona, keponakan Miratun. Patona mengatakan, keluarga besarnya pernah tinggal satu atap di rumah peninggalan Kasan dan Sukinah. Namun beberapa tahun lalu, mereka hijrah ke Surabaya dan mencari pekerjaan. Patona yang kini memiliki seorang anak balita, sempat khawatir dengan kondisi keluarga besarnya. Akhirnya, ia pun hijrah ke kampung suaminya di Surabaya bersama sang ibu. “Saya khawatir waktu hamil. Tapi saat lahiran lihat anak saya normal, senang sekali,” ujar Patona. Kini, Patona hanya datang sesekali menengok paman dan bibinya. Sebagai anggota keluarga yang normal, ia pun mengaku tak bisa berbuat banyak. “Mau diapa, kondisi mereka seperti ini,” ujarnya lirih. Di desa seberang, Karang Patihan, Kecamatan Balong, kelompok masyarakat dengan karkateristik serupa pun ditemukan. Ginem, Painten, dan Boinem adalah tiga bersaudara. Painten duduk bengong di depan tungku perapian. Perempuan idiot yang usianya sekitar 40 tahun itu sesekali mengangkat panci di atas tungku. Saat ditanya masak apa, dia hanya tersenyum. “Hanya gandum dan daundaunan yang ada,” ujar Ginem. Dia satusatunya anggota keluarga ini yang bisa diajak berkomunikasi. Ketiganya memiliki postur tubuh yang kerdil dan sulit berbicara lancar. Jika berbicara, suaranya terdengar lirih dengan intonasi tak jelas. Boinem, tingkah lakunya seperti anak lima tahun yang bermain-main di tanah dengan acuhnya. Padahal, usianya sudah 35 tahun. Beberapa lembar daun singkong dipetiknya, bukan untuk dimasak menjadi sayur, melainkan menjadi mainan. Sesekali, dia tertawa lepas. Miris. Mungkin itu satu pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat Desa Krebet dan Sidoharjo, Kecamatan Jambon, serta desa Karang Patihan dan Pandak, Kecamatan Balong, Ponorogo. Betapa tidak, hampir di setiap sudut desa, kita menyaksikan orang-orang idiot. Karena itulah, jika berkunjung ke bumi reog ini, orang-orang dengan mudah menunjukkan tempat di mana orangorang yang mengalami keterbelakangan mental ini berkumpul. “Kampung idiot? Di sini ada empat desa, di sana memang banyak orang-orang idiot,” ujar Welas, warga Ponorogo. Keluarga Miratun tak sendiri. Di empat desa itu, ada ratusan warga yang kondisinya hampir sama dengan Miratun bersaudara. Hari itu, rumah Miratun cukup ramai. Puluhan warga yang menderita keterbelakangan mental atau idiot berkumpul. Sebagian besar perempuan. Usia mereka sekitar 30 tahun. Tapi ada pula yang masih terlihat belia. Wajah-wajah mereka tak memperlihatkan semangat. Tatapannya hampa. Seorang perempuan berbaju jambon, kepalanya terlihat selalu terkulai dengan bibir menjulur keluar. “Sedih menyaksikan semua ini,” ujar Menteri Sosial RI Salim Segaf Al Jufri saat mengunjungi sekelompok warga idiot di Desa Krebet. Kemiskinan yang sangat lama, di masa sekitar tiga dekade lalu, diyakini pernah terjadi di dusun ini. Patona mengakui, berpuluh tahun lamanya keluarga paman dan bibinya hanya bisa makan gaplek dan tiwul. Nasi adalah suatu makanan yang sangat istimewa bagi keluarga ini. Kemiskinan yang bekepanjangan telah mengakibatkan lahirnya generasi-generasi yang idiot. Sekitar 1970-an, terjadi kemarau berkepanjangan di lereng Perbukitan Rajekwesi. Saat itulah malapetaka kemiskinan berawal. Desa Patihan, Pandak, Sidoharjo, dan Krebet adalah tempat bermukimnya generasi-generasi yang lahir dengan kondisi yang mengalami kecacatan mental. Desadesa tersebut letaknya bersebelahan dan hanya dipisahkan oleh gugusan Perbukitan Rajekwesi. Desa Sidoharjo berada di lereng sebelah utara. Desa Karang Patihan di lereng timur, sementara Desa Pandak berada di tenggara. Namun, jarak antardesa mencapai puluhan kilometer yang dipisahkan hutan dan perbukitan kapur. Kehidupan mereka sangat miskin. Sehari-hari, warga kebanyakan bekerja mencari pakan ternak, mengumpulkan batu, atau bekerja di sawah tetangga mereka. Tapi, bagi keluarga idiot, hampir tidak ada yang bisa mencari nafkah sen diri. Laksana benalu, hidup mereka selalu menggantungkan diri dari pemberian orang lain. Jangankan untuk bekerja, berkomunikasi dengan orang lain pun sulit. Mereka bisa tidak makan jika tak ada bantuan dari orang lain. Jatah beras miskin memang sudah tersalurkan, namun itu belum mencukupi. Karena tak bisa diberdayakan, solusi yang ditawarkan Kementerian Sosial adalah akan membangunkan ‘rumah kasih sayang’. Di rumah makan khusus bagi warga idiot inilah, akan disediakan menu makanan sehat dan bergizi. “Kalau diberikan jaminan hidup, belum bisa menyelesaikan masalah. Taruhlah sudah diberikan, terus yang masak siapa? Menunya bagaimana? Karena itu, lebih baik kita bangunkan saja rumah makan 'kasih sayang'. Mereka tinggal datang makan pagi, siang, dan malam di tempat itu,” ujar Salim. Rumah makan yang tahun ini juga akan direalisasikan Mensos Salim itu rencananya akan dibangun di beberapa titik. Di lokasi permukiman yang berdekatan, misalnya, ada 100 hingga 200 orang, di situlah rumah kasih sayang akan dibangun. Bentuknya cukup dari kayu dan tak perlu mewah-mewah. Yang penting bersih, makanan ada dengan gizi yang cukup. Itulah bentuk kongkret bantuan pemerintah yang akan diberikan pada sekelompok warga miskin yang ditak dirkan mengalami nasib mengenaskan dan terlahir dalam kondisi kecatatan mental akibat kemiskinan mendera mereka berpuluhpuluh tahun silam. Mereka tak bisa diberdayakan, dan hanya bisa menunggu uluran tangan orang lain. Untuk urusan makanan, masih banyak di antara kita yang berpikir, menu apa yang akan dipilih hari ini. Bahkan sering kali, menu yang tersaji di depan mata pun masih bersisa. Sementara, warga kampung idiot di Ponorogo sana, harus menunggu kapan mereka bisa makan nasi lagi.
