---------- Forwarded message ---------- From: Widjajono Partowidagdo <[email protected]> Date: 2012/1/23 Subject: Rendahnya Harga Energi Penyebab Krisis Energi **
*RENDAHNYA HARGA ENERGI PENYEBAB KRISIS ENERGI*** * *Oleh: Widjajono Partowidagdo** (Pendapat pribadi) * * Di bukunya Noam Chomsky “ Internatinal Terorism in The Real World" disebutkan: Untuk menyelesaikan masalah terorisme mantan kepala dinas intelijen militer Israel, Jenderal Yahosphaphat Harkabi menyatakan: "Menawarkan suatu solusi terhormat kepada bangsa Palestina, dengan menghormati hak-hak mereka untuk menentukan nasib sendiri adalah solusi atas masalah terorisme. Kalau rawanya lenyap, nyamuk-nyamuk tidak akan muncul lagi". Kebanyakan orang akan mengutuk terorisme karena dia bisa mencelakai siapa saja. Walaupun demikian, terorisme tidak akan lenyap hanya dengan menangkapi terorisnya satu per satu tanpa melenyapkan sumbernya yaitu ketidakadilan. Analogi yang sama juga terdapat dalam menangani krisis energi. Rawa pada krisis energi adalah rendahnya harga energi. Harga energi yang rendah untuk Indonesia adalah suatu ketidakadilan. Kita tidak akan berhenti punya masalah sebelum rawa itu dikeringkan atau mempunyai harga energi yang paling tidak dapat menyebabkan program diversifikasi (memakai energi di luar minyak) berhasil. Masalah-masalah (diibaratkan sebagai nyamuk) seperti mobil pembawa BBM yang mengurangi isinya di tengah jalan (istilah populernya : kencing), oplosan premium oleh minyak tanah, penyelundupan BBM (Bahan Bakar Minyak), kurang berhasilnya program diversifikasi oleh gas, panasbumi, CBM (Coal Bed Methane), biodiesel dan lain-lain, banyak batubara (70%) dan gas (52%) diekspor ke luar negeri serta kurang berhasilnya program konservasi (penghematan energi), giliran pemadaman listrik, meningkatnya penjualan kendaraan bermotor sehingga kurang menariknya transportasi umum, mafia minyak dan lain-lain adalah disebabkan oleh rendahnya harga energi. Kebanyakan negara berkembang saat seperti China, Vietnam, Pakistan, Burma, Tunisia dan Kenya serta beberapa negara maju yaitu Amerika Serikat dan Rusia mengenakan harga BBM pasar yaitu sekitar satu dolar per liter. Di negara-negara maju di beberapa negara berkembang harga BBM jauh lebih tinggi dari harga pasar karena mereka menerapkan pajak yang tinggi untuk BBM. Pajak tersebut digunakan untuk membuat infrastruktur transportasi dan mensubsidi transportasi umum. Maksud kebijakan ini adalah supaya sebagian besar masyarakat menggunakan transportasi umum, sehingga menghemat energi dan mengurangi polusi. Contohnya adalah di negara-negara maju seperti Eropa Barat maupun Timur (kecuali Rusia), Korea Selatan, Hongkong, Singapura, Israel, Jepang, Australia, Canada, Selandia Baru, Brazil, Chile dan negara-negara berkembang seperti Thailand, Filipina, India dan Srilangka. Hanya negara-negara kaya minyak seperti Saudi, Iran, Iraq, Kuwait, Qatar, UAE, Brunei dan Venezuela menerapkan harga minyak murah. Tahun 2011 subsidi harga BBM untuk transportasi dan LPG adalah Rp. 165 Triliyun dan subsidi untuk listrik (yang sebagian besar diakibatkan oleh BBM) Rp. 90 Trilyun, sehingga totalnya Rp. 255 Trilyun, padahal pendapatan pemerintah dari migas Rp 272 trilyun. Lebih baik subsidi harga BBM tersebut digunakan untuk membuat orang2 miskin menjadi lebih sejahtera, perdesaan dan daerah lebih maju, infrastuktur lebih baik dan kemampuan nasional meningkat sehingga kita bisa lebih mandiri (produksi migas dan tambang, pertanian, pesawat, mobil, kapal, kereta api, senjata Nasional meningkat) dan Indonesia lebih cepat menjadi Negara Maju yang Terpandang.. Jangan membandingkan Indonesia dengan Nigeria. Cadangan minyak terbukti Nigeria 36 milyar barel dan Indonesia 3,7 milyar barel, produksi minyak Nigeria 2,6 juta barel per hari sedang Indonesia 0,9 juta barel per hari, penduduk Nigeria 136 juta dan Indonesia 241 juta sehingga konsumsi minyak Nigeria diperkirakan 0,65 juta barel per hari dan Indonesia 1,3 juta barel per hari. Jadi, kalau penduduk Nigeria protes harga BBM dinaikkan maka wajar saja karena Nigeria kaya minyak. Produksi minyak Indonesia 2011 adalah 902 ribu B/D, ekspornya 361 ribu B/D dan Impor minyak 272 ribu B/D dan BBM 499 ribu B/D. Mengimpor (Minyak dan BBM) 771 ribu barel per hari menunjukkan bahwa kita tidak kaya minyak, padahal minyak adalah energi yang paling mahal. Orang yang tidak kaya tetapi memakai barang mahal pasti hidupnya susah. Negara2 Amerika Latin yang anti Neolib seperti Brasil, Argentina dan Chili BBM nya tidak disubsidi, akibatnya BBN (Bahan Bakar Nabati) dan Industri Nasional (mobil, pesawat, senjata dan pertanian) nya berkembang. Bahkan Brasil sekarang menjadi Negara Idola disamping Rusia, India, Cina dan Korea (BRICK). Brasil bahkan sudah menguasai Teknologi Migas Lepas Pantai disamping Cadangan dan produksi minyaknya meningkat pesat. Petrobras adalah Perusahaan Migas terpandang di Dunia. Di India maupun Cina dan bahkan Vietnam tidak ada subsidi BBM tetapi transportasi umum disubsidi sehingga nyaman dan Industri Nasionalnya meningkat pesat. Mohon diingat Produksi gas kita (1,506 juta BOPD) adalah 1,65 kali produksi minyak kita (902 juta BOPD) dan produksi batubara kita (3,364 juta BOPD) adalah 3,74 kali produksi minyak kita. 52% gas kita dan produksi batubara kita diekspor dan 70% batubara kita diekspor. Diperlukan harga batubara dan harga gas yang menarik untuk meningkatkan pemakaiannya untuk domestik. Cadangan Terbukti Gas kita 5 x Cadangan Terbukti Minyak dan Cadangan Terbukti Batubara kita 13 x Cadangan Terbukti Minyak. Kita mempunyai CBM (*Coal Bed Methane*), *Shale Gas* dan *Methane Hydrate* yang potensinya sangat besar. Diperlukan iklim investasi yang menarik untuk meningkatkan Cadangan Terbukti dan Produksi Minyak, Gas, Batubara kita dan menemukan Cadangan Terbukti CBM (*Coal Bed Methane*), *Shale Gas* dan *Methane Hydrate* serta mengembangkan Energi Terbarukan kita. . Sebaiknya kita mengutamakan gas dan *biofuel *kita untuk transportasi. Untuk listrik sebaiknya kita menggunakan batubara (yang bisa dibuat gas), panasbumi (potensinya 60% potensi dunia), air dan biomass (berlimpah di luar Jawa), energi terbarukan lainnya yaitu arus laut, matahari dan angin (yang diperkirakan akan jauh lebih murah dimasa depan). Permasalahan listrik di Indonesia adalah karena harga jual listrik lebih rendah dari biaya pengadaannya maka pemerintah mensubsidi harga listrik. Subsidi harga listrik ini mengakibatkan panasbumi dan energi terbarukan lain sulit berkembang, apabila harus dijual dengan harga yang disubsidi. Permasalahan gas dan batubara dimasa lalu adalah harga domestik yang rendah.Perlu diberikannya harga yang menarik investor untuk mengembangkan batubara kualitas rendah (yang tidak dapat diekspor) yang dibangkitkan di mulut tambang. Permasalahan *biodiesel* adalah tidak adanya kepastian harga jualnya serta kurangnya sosialisasi pemanfaatannya. Perlu ditingkatkan penanaman * biodiesel* di lahan kritis dan menganggur. Indonesia perlu menerapkan pajak bagi lahan menganggur. Menganggurkan lahan adalah bertentangan dengan konstitusi karena tidak menggunakannya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Apabila Indonesia dapat memberantas korupsi serta meningkatkan kualitas aturan hukum, stabilitas politik, kualitas regulasi dan indeks pembangunan manusia, memperbaiki sistem birokrasi dan informasi serta koordinasi di lembaga-lembaga Pemerintah disamping itu dapat mengatasi permasalahan tanah, tumpang tindih lahan, permasalahan desentralisasi maka diharapkan investasi migas dan energi lain akan meningkat. Sehingga, Indonesia bisa dipercaya (*trusted*) dan akibatnya dana yang luar biasa dari Timur Tengah, Asia Timur, Eropa dan Amerika akan mudah diserap untuk investasi di Indonesia. Pendapat yang menyatakan bahwa harga energi harus rendah adalah menyesatkan. Adil tidak harus harga rendah. Harga rendah apabila menyebabkan penurunan kemiskinan dan pengangguran, pengembangan infrastruktur, transportasi masal serta pengembangan energi non BBM terhambat adalah tidak adil. Krisis di Indonesia tidak akan berakhir apabila hanya diserahkan penanganannya pada pemerintah. Suatu negara akan adil dan makmur apabila orang kaya atau pengusaha mau berbagi (kasih) keberuntungannya dengan saudara-saudaranya yang kurang beruntung. Syarat negara untuk maju adalah ilmu (kebenaran) nya ulama (akademisi), adilnya pemerintah, amalnya orang kaya (pengusaha) serta kecerdasan, kemadirian, keperdulian serta kesabaran masyarakat.
